Bekas Permen Karet di Commuter LineMungkin sudah saatnya pemerintah Indonesia meniru pemerintah Singapura. Walau meniru sesuatu dari orang lain belum tentu baik bagi diri kita, tetapi kelihatannya dalam hal yang satu ini, rasanya ada baiknya tindakan yang dilakukan pemerintah negeri singa itu.

Foto di sebelah adalah foto bekas permen karet pada pegangan tangan di Commuter Line jurusan Bogor-Jakarta. Foto ini diambil beberapa waktu yang lalu dalam perjalanan menuju kantor di ibukota.

Inilah yang membuat saya bisa memahami mengapa pemerintah negara singa itu mengeluarkan larangan penjualan atau memakan permen karet, kecuali untuk kepentingan medis di negaranya. Pelanggaran terhadap aturan ini bisa dikenakan denda yang cukup besar mencapai $ 500 dan juga hukuman badan.

Keras dan terlihat kejam.

Tetapi, rasanya mempertimbangkan kesulitan yang disebabkan oleh bekas permen karet yang dibuang sembarangan seperti ini, aturan tersebut bisa ditiru.

Hanya sebuah sampah kecil, tetapi efeknya bisa merugikan, seperti

Menyebarkan penyakit

Permen karet tidak akan menempel seperti ini kalau tidak dikunyah. Yang berarti berbagai macam bakteri yang ada di mulut pengunyahnya akan ikut pada sisa-sisa yang menempel.

Pegangan tangan tidak berfungsi

Pegangan tangan seperti ini di atas kereta komuter adalah vital, terutama pada jam-jam sibuk dimana penumpang sangat padat. Benda yang terlihat sederhana ini bisa membantu keseimbangan penumpang yang terkadang terganggu saat kereta berangkat atau masuk stasiun.

Dengan adanya bekas permen karet yang menempel padanya, tidak akan ada yang mau menggunakannya. Hasilnya, berkurang satu benda yang berguna untuk mengurangi resiko terdorong atau terjatuh.

Merusak

Bekas permen karet yang menempel di tembok mungkin bisa dihilangkan dengan berbagai cara. Tetapi, mencoba menghilangkan benda yang sama di rambut tentu saja harus dengan cara menggunting rambut.

Begitu pula kalau terkena pakaian karena bekas permen karet ini termasuk salah satu noda yang sulit untuk dibersihkan.

Hasilnya, yang terkena harus merelakan uang tambahan untuk pergi ke salon atau tukang cukur. Pakaian yang terkena noda pun, terkadang harus disingkirkan. Penambahan biaya yang di luar anggaran.

Mungkin akan ada yang menyalahkan petugas kebersihan mengapa bekas permen karet ini tidak segera dibersihkan. Tetapi, saya lebih suka mengecam mereka-mereka yang melakukan hal ini.

Mereka bisa membuangnya sebelum naik kereta. Mereka bisa juga melakukan standar membuang permen karet, yaitu dengan membungkusnya dengan kertas pembungkusnya dan kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Sebuah tindak kebodohan yang menunjukkan betapa masih kurang pedulinya banyak orang terhadap pentingnya menjaga fasilitas publik. Sekaligus menunjukkan bahwa menjaga lingkungan masih sebatas mulut saja.

Sesuatu yang mungkin bisa diminimalkan dengan mengeluarkan aturan tentang pelarangan permen karet, sama seperti di Singapura. Walau sebenarnya, saya juga tidak yakin akan berjalan dengan baik mengingat masih terlalu banyak orang yang menganggap hukum atau aturan dibuat untuk dilanggar.

LEAVE A REPLY