belajar mandiri dan jiwa wiraswasta ala osis sma negeri 10 bogor

Lebih mudah. Pasti lebih mudah, jika para anggota OSIS SMA Negeri 10 Bogor ini mengatakan kepada orangtuanya bahwa mereka butuh dana untuk pengadaan Campus Fair.

Hampir pasti, para orangtua akan bersedia membuka dompet dan memberikan dukungan dana bagi kegiatan tersebut. Apalagi hal itu juga diadakan dalam lingkungan dan bimbingan sekolah.

Tidak ada orangtua yang tidak akan mendukung sesuatu yang akan membawa kemajuan bagi anak-anak mereka.

Tetapi, meminta kepada orangtua itu tidak dilakukan oleh panitia Campus Fair SMA Negeri 10 Bogor itu. Mereka memilih jalan lain untuk bisa menyelenggarakan acara itu.

Jalan yang bisa dikata tidak mudah dan justru banyak tantangan. Targetnya juga belum tentu tercapai mengingat pengumpulannya tergantung pada banyak hal, seperti ketersediaan barang, kemampuan menjual, dan berbagai hal lain.

Tetapi, itulah jalan yang mereka pilih. Mereka memutuskan untuk “berdagang” di ajang Mingguan Kota Bogor, Car Free Day daripada sekedar meminta sumbangan dari para orangtua.

Belajar Mandiri ala OSIS SMAN 10 Bogor 2

Para siswa dari berbagai tingkatan yang tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah di SMAN yang berlokasi di kawasan Perumahan Jasmine ini, memilih belajar mandiri dalam mendapatkan dana.

Mereka mengumpulkan berbagai pakaian bekas, membuat kalendar, dan juga membuat masakan untuk dijual pada CFD Bogor.

Mereka membuka sebuah lapak kecil, sebuah meja di Jalan Sudirman depan gereja Bethel.

Tidak mudah karena penghasilan mereka akan tergantung pada kemampuan mereka membuat pengunjung yang jumlahnya ribuan itu tertarik untuk membeli barang yang didagangkan.

Tidak heran, beberapa anggota rajin berteriak-teriak mirip pedagang di pasar untuk menarik pembeli. Tidak aneh juga beberapa diantaranya kemudian memutuskan untuk berkeliling untuk mencoba menjual beberapa kalendar yang didesain dan dicetak sendiri itu.

Tidka mudah. Dan, pastinya mereka banyak menghadapi kesulitan mengingat mayoritas dari mereka belum pernah berjualan. Terlihat kagok dan canggung juga pada mulanya, meskipun setelah beberapa lama, gayanya tidak lagi berbeda dengan pedagang di pasar Anyar.

Belajar Mandiri ala OSIS SMAN 10 Bogor

Sangat tidak mudah.

Bisa dikata hasilnya tidak seberapa, mengingat yang dijual adalah pakaian bekas yang dihargai Rp. 5000-30.000 saja. Makanan juga dijual 10-15 ribuan. Kalendar 10-15 ribu saja.

Tetapi, dari situ para siswa ini belajar banyak.

Belajar Mandiri untuk tidak selalu hanya bisa meminta dan meminta. Kebiasaan meminta hanya akan menghadirkan seseorang yang akan selalu tergantung pada orang lainnya, bahkan kepada orangtuanya sendiri.

Dengan mencoba berjualan seperti ini, mereka bisa belajar untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan dengan usaha sendiri, tanpa ketergantungan pada orang lain.

Selain itu, mereka juga bisa belajar menjadi wiraswasta, wirausaha. Memang hanya sebuah kegiatan kecil dan tidak rutin, tetapi dengan berdagang di CFD ini mereka bisa belajar sedikit kehidupan nyata di dunia bisnis.

Para anggota OSIS SMAN 10 Bogor ini bisa merasakan susahnya menarik minat pembeli, bersikap kreatif dalam mengundang perhatin, dan tentunya dalam hal tawar menawar. Sesuatu yang menjadi dasar dari kehidupan seorang wirausahawan atau wiraswastawan.

Lebih mudah meminta, memang. Tetapi, kalau mereka meminta, mereka tidak akan mendapatkan banyak pelajaran berharga seperti itu.

Jadi, TOP untuk OSIS SMA Negeri 10 Bogor. Semoga acara yang ingin diselenggarakannya sukses.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.