Efek SSA Susah Menyeberang

Beberapa waktu lalu, di beberapa komunitas warga Bogor di Facebook, terdengar beberapa kritikan terhadap SSA, atau Sistem Satu Arah, di seputar Kebun Raya Bogor.

Ada yang halus dan santun. Ada juga yang keras dan pedas sekali.

Satu poin utama yang menjadi perhatian dari warga Bogor di dunia maya adalah susahnya menyeberang jalan di beberapa titik. Yang menjadi fokus utama adalah di Jalan Juanda .

Penyebabnya ditengarai karena tidak ada kemacetan, jalan lurus dan mulus, banyak pengendara yang memacu kendaraannya dengan kencang. Hal ini menyebabkan pejalan kaki sulit untuk melintas dari satu sisi ke sisi yang lainnya.

Penasaran dengan keluhan warga Bogor tersebut, terutama karena beberapa orang dengan garangnya menyalahkan Pemerintah Daerah Kota Bogor karena menerapkan sistem ini, saya coba meninjau sedikit lokasinya.

Benar tidak sih apa yang dikeluhkan? Atau hanya sekedar ungkapan geram dari mereka yang memang sejak awal tidak menyetujui pemberlakukan SSA.

Wajar bukan, sebagai warga Bogor ingin mengetahui mengapa masih ada orang yang mempermasalahkan sistem yang sudah berjalan beberapa bulan. Apalagi buktinya lalu lintas di beberapa jalan protokol di Kota Bogor menjadi cukup nyaman dilalui.

Hasilnya?

Silakan lihat video di bawah ini. Ini merupakan salah satu dari tiga video yang diambil selama berada sekitar satu jam di lokasi yang sama. Sudah diperkecil agar bisa dilihat pada HP atau smartphone.

Lokasi :

Jalan Juanda di depan SMP/SMA Negeri I Bogor. Titik ini dipilih karena merupakan memiliki jalur lurus yang cukup panjang dari arah Bogor Trade Mall (BTM).

Juga karena di titik tersebut terdapat sekolah. Berarti akan banyak sekali anak-anak menyeberang dan merupakan zona aman sekolah.

Selain itu, terdapat belokan di bekas pertigaan sebelum mengarah ke ujung jalan.

Waktu :

Kamis, 11 Agustus 2016 pukul 08-09.00

Perhitungan :

Walau bukan ahli, saya sedikit banyak bisa berhitung. Perhitungannya mungkin tidak tepat benar karena tidak dilakukan secara ilmiah dengan peralatan yang cukup. Juga, tentu saja saya tidak bisa melihat speedometer di kendaraan yang melintas (bercanda dikit lah)

Kalu dihitung dari titik Gereja Zebaoth sampai ujung SMA Negeri I Bogor maka terdapat jarak kurang lebih 45-50 meter.

Rata-rata kendaraan yang melintas kedua titik itu memerlukan waktu kurang lebih 4 detik. Hal ini berarti kira-kira kecepatan kendaraan sekitar 11-12.5 meter per detik. Kalau dijadikan kecepatan per jam menjadi sekitar 42-45 kilometer per jam.

Catatan :

1) Selama kurang lebih satu jam berada di titik tersebut, memang cukup banyak pengendara, terutama sepeda motor yang melebihi kecepatan di atas. Hal ini kebanyakan dilakukan oleh para pengendara motor.

Sayang tidak terekam kamera

2) Frekuensi kendaraan yang melintas jalur ini dalam kecepatan 45-50 km per jam banyak sekali.

Saya mencoba menyeberang beberapa kali dan memang lebih sulit menyeberang dibandingkan sebelumnya. Butuh waktu lebih lama sebelum bisa menemukan momen yang tepat.

Kesimpulan :

Melihat kesemua ini, saya berpendapat

a)

Sistem Satu Arah Seputar Kebun Raya Bogor menunjukkan hasil positif dalam artian bahwa di beberapa tempat yang merupakan titik macet, kemacetan sudah berkurang. Buktinya kendaraan memang bisa melaju lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Ketika pertigaan di dekat SMA Negeri I Bogor (Pertemuan Jalan Juanda dengan Jalan Kapten Muslihat) masih berfungsi, kendaraan sering tersendat akibat banyak hal. Jangankan melaju dalam kecepatan 40-50 kilometer per jam, mencapai angka 30 saja sudah bagus.

b)

Kalau melihat lokasi, dimana terdapat sekolah (SMP dan SMA Negeri I Bogor), yang siswanya melebihi 50 orang, seharusnya area di depannya merupakan Zona Selamat Sekolah.

Batasan kecepatan maksimum kendaraan adalah 30 Km perjam saja. Lihat di Surat Keputusan Dirjen Perhubungan Darat.

Berarti kalau perhitungan saya benar, mengenai kecepatan kendaraan, hal ini melewati batas maksimum.

Hanya terdapat zebra cross dan tidak ada petugas pada jam dimana saya berada disana. Mungkin karena bukan jam masuk dan pulang sekolah, saya tidak tahu.

c)

Banyak pengendara yang tidak tahu aturan dengan memperlakukan jalan ini sebagai arena balap.

Sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.

Opini :

Ada betulnya bahwa efek SSA membuat susah menyeberang, seperti di Jalan Juanda ini. Kecepatan dan frekuensi kendaraan, menurut saya cukup tinggi dan membuat deg-deg-an juga melihat kendaraan melaju dalam kecepatan sedemikian.

Belum lagi tidak ada petugas.

Tetapi, saya tidak melihatnya ini sebagai sebuah kegagalan SSA secara keseluruhan. Tidak bisa dinafikan bahwa memang arus lalu lintas menjadi lancar. Itu tujuan utama SSA.

Sayangnya, kesadaran pengendara memang masih kurang di Kota Bogor ini. Mereka masih sering tidak memperhatikan orang lain dengan memacu kendaraan secara cepat.

Oleh karena itu, rasanya perlu dilakukan sedikit usaha lagi untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan, seperti

  • Membangun jembatan penyeberangan
  • Menambah rambu-rambu
  • Menetapkan zona di depan SMP/SMA Negeri I Bogor sebagai Zona Selamat Sekolah sehingga pengendara mengurangi kecepatan saat mendekati titik ini
  • Menambah jumlah petugas

Kira-kira begitulah hasil pengamatan saya tentang efek SSA di Jalan Juanda.

Maaf kalau ada yang tidak berkenan dan tidak dibuat untuk memojokkan siapapun. Hanya sebuah masukan pertanda rasa sayang dari seorang warga Bogor.

Efek SSA susah menyeberang

6 COMMENTS

  1. Saya belum pernah survey, tapi boleh dibuktikan bahwa yang mengeluh susah menyeberang itu adalah warga yang ingin ngasih makan rusa di sisi pagar istana…

    • Kalu gitu disurvey atuh kang… saya mah bukan ngeluh, tapi harus mengakui bahwa nyeberang di jalan juanda lebih sulit

  2. Mohon maaf kalau berbeda cara pandang, kadang menggelitik juga buat saya karena banyak yang mengeluh susah menyeberang.
    Ambil contoh di depan SMA 1 orang mau nyebrang itu mau kemana ya kang? Kecuali kalau ada siswa yang mau beribadah ke zebaoth, tapi itu mungkin jumlahnya relatif amat sedikit dan tidak setiap saat.
    Lalu di depan balaikota, depan Hotel Salak, depan samsat, depan Regina Pacis, saya tidak melihat ada urgensinya orang untuk menyeberang, karena hanya ada istana yang tidak sembarangan orang diperbolehkan masuk.
    Kalau di depan kantor pos oke lah, layak difasilitasi jembatan penyeberangan orang (JPO).

    • Ga papa atuh kang..

      Kemana orang mau menyeberang di depan SMA I, yah kang anak-anak itu kan perlu pulang juga kang. Tidak semuanya bisa naik langsung di depan sekolahnya. Kemaren saja, saya juga melihat cukup banyak yang menyeberang kang. Bukan hanya anak sekolah. Tidak bisa disamaratakan dan dipastikan bahwa tidak ada yang berkepentingan untuk menyeberang disitu. Ada lebih dari 2500-3000 anak di sekolah tersebut dan tidak mungkin dipastikan semua tidak akan butuh penyeberangan.

      Belum lagi masyarakat disana.

      Tidak bisa kita berpikiran bahwa tidak ada orang yang akan menyeberang karena disana juga ada zebra cross. Yang berarti memang disediakan tempat untuk menyeberang. Kalau memang disitu tidak diperbolehkan untuk menyeberang, maka zebra cross nya harus dihapus, kenyataannya ada dan berarti memang diperbolehkan dan justru orang harus menyeberang kesana.

      Ingat juga kang, ZONA SELAMAT SEKOLAH. Sebuah jalan di depan sebuah sekolah masuk ke dalam zona selamat sekolah.

      Tambah lagi kang, wisatawan yang berkunjung ke Kebun Raya, tidak semua naik kendaraan atau angkot, banyak dari mereka yang lebih suka menyusuri jalan dan menyeberang di depan SMA 1 adalah tempat yang cukup ramai di akhir pekan.

      Begitu juga kalau keluarga mau memberi makan kijang, sebuah kebiasaan kecil yang dilakukan oleh warga Bogor. Mereka berhenti atau turun dari angkot di sisi seberang, berarti mereka harus menyeberang di Jalan Juanda. Baik di depan SMA satu atau di depan hotel Salak. Tidak kah perlu diperhatikan?

      Bukan hanya soal pekerjaan tetapi kenyataannya walau di sisi IStana Bogor seperti tidak ada apapun yang membuat orang tertarik, bagian itu tetap terpakai dalam keseharian. Tidak bisa tidak diperhitungkan dan dipastikan tidak akan ada yang perlu kesana.

      Bukan hanya Zebaoth tujuanny, kang.

      Fair saja kang, saya sempat juga mikir seperti Kang Rudy sebelumnya, ah masa sih. Kenyataannya setelah mengalami sendiri, saya bisa memahami bahwa memang ada kebenaran dari keluhan warga soal kesulitan menyeberang. Sesuatu yang butuh perbaikan.

      • Setuju kang, seharusnya zebra cross yang tidak terpakai bisa dihapus karena sudah tidak relevan…

        Juga yang perlu diperbaiki adalah perilaku para pejalan kaki, karena tidak jarang saya melihat orang menyeberang bukan di zebra cross. Padahal hal tersebut selain membahayakan diri sendiri juga membahayakan pengemudi kendaraan pengguna jalan lainnya…

        • Nah itu juga masalah kang.. kalu baca mengenai zona Selamat Sekolah, justru harus ada Zebra Cross di depannya. Jadi tidak boleh tidak. Mau tidak mau berarti memang disana diperbolehkan.

          Itu juga benar kang. Memang perilaku kita masih perlu diperbaiki juga.

LEAVE A REPLY