bukan hari libur untuk Sarimin 02

Hari Minggu adalah hari libur, dimana keluarga menghabiskan waktu untuk bercengkerama bersama. Menikmati makan pagi, berjalan-jalan, atau berwisata.

Tetapi, tidak semuanya mendapatkan kesempatan itu. Masih banyak yang lain yang justru memanfaatkan waktu tersebut untuk mencari nafkah. Sarimin adalah salah satunya.

Postur tubuhnya yang kecil dan berbulu terlihat lincah menaiki otopet. Bertingkah seperti orang sedang melakukan sholat. Memakai topeng dan masih banyak lagi hal lain yang dilakukannya.

Tingkahnya mengundang gelak tawa dan senyuman banyak pengunjung Car Free Day Bogor, terutama anak-anak kecil yang merasa terhibur melihat atraksinya. Banyak diantara mereka yang kemudian tidak segan memasukkan lembaran uang di kotak kardus yang terletak tidak jauh dari lokasinya beraksi.

bukan hari libur untuk Sarimin 03Entah berapa putaran adegan yang sama diulang. Car Free Day Bogor berlangsung selama 3 jam, sejak jam 06.00 hingga 09.00. Jika satu kali pentas memakan waktu 10-15 menit, berarti Sarimin harus melakukan lebih dari 12-15 kali putaran untuk menghibur penonton.

Lelah? Pasti lah. Sayangnya, untuk kabur tidak mungkin dilakukan karena rantai yang mengikat lehernya ujungnya berada di tangan si pawang. Hendak beristirahat pun, sulit karena sang pawang tentunya berharap semakin banyak orang yang tertarik pada tingkah lucunya. Semakin banyak yang tertarik, semakin bagus karena berarti semakin banyak orang yang akan rela meletakkan uang ke dalam kardus.

Uang yang tentunya bisa dipergunakan untuk mengebulkan asap dapur dari sang pawang beserta timnya. Juga, untuk membeli pisang atau apapun kesukaan dari si Sarimin (yang pasti berbeda dengan yang dimakan sang pawang).

bukan hari libur untuk Sarimin 04

Bagi para pemerhati lingkungan tentunya nasib si Sarimin (atau entahlah siapa namanya) tentu akan mengundang keprihatinan tersendiri.

Kok pemerhati lingkungan dan bukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang prihatin? Yah, karena Sarimin, meski cukup yakin usinya masih di bawah umur, tetapi itu adalah nama kera atau monyet dan bukan nama manusia. Nama Sarimin biasanya diidentikan dengan pertunjukan topeng atau ronggeng monyet yang hingga kini masih kerap ditemukan di Bogor. Hari ini pun pentasnya si Sarimin kembali hadir di Car Free Day Bogor.

Pertunjukan topeng monyet secara hukum sudah merupakan sesuatu yang dilarang berkaitan dengan perlindungan satwa dan lingkungan.

Meskipun demikian, tetap saja rumit dan akan terus menjadi masalah yang rumit karena hal ini juga berkaitan dengan urusan perut manusia, sang pawang dan timnya. Mereka bergantung pada si Sarimin dan kawan-kawan untuk mengisi periuk nasinya. Jika, si Sarimin dibebastugaskan dengan alasan melanggar hukum lingkungan, maka berarti sang pawang akan kehilangan mata pencahariannya.

Masalah klasik dan rentan menimbulkan perdebatan panjang teori. Bukan sesuatu yang saya inginkan terjadi, jadi saya akan membiarkan Anda yang menilai sendiri.

Saya hanya bisa menyampaikan apa yang dilihat dan terekam dengan kamera saja. Tidak bisa menghakimi karena meski pertunjukan si Sarimin sangat sederhana, ada masalah yang kompleks dan rumit di dalamnya. Tidak sesederhana yang terlihat.

Hari ini, yang terlihat adalah tawa anak-anak, senyum orangtua, senyum sang pawang dan tim yang membayangkan akan membawa uang lebih banyak. Tidak dinafikan juga terlihat bahwa hari Minggu dengan Car Free Daynya bukanlah Hari Libur untuk sang tokoh utama, sang bintang, Sarimin (atau entah siapa namanya) si Monyet.

Sayangnya saya tidak bisa membaca apa yang terlintas dalam pikirannya saat itu.

6 COMMENTS

  1. kalau sarimin libur,,trus yang menghibur, siapa donk pak,,,? karena Sarimun lagi pulang Kampung soalnya,,,

    • Kang Nata ajah yang gantiin.. gimana?

      • hehe….saya jadi pawangnya,,,Pak Anton,,jadi……. wkwkwkwk.Hasilnya untuk Pak Anton semua kalau deal…hehe.Peace

  2. saya sangat suka,,,,jika ada tontonan tentang Topeng Monyet ini pak…sebab akan banyak orang yang berdatangan untuk menontonnya,,,,walau yang diperagakan itu2 saja…tetapi tetap saja banyak orang yang tertarik.

    sepertinya Sarimin dan Pawangnya tidak boleh libur Pak,,,agar banyak orang yang terhibur,,heheh.

    • Yah itu dia.. Sarimin seharusnya juga perlu libur. Bagaimanapun dia juga bisa sakit.

LEAVE A REPLY