G-Midi (Green Mini Diary) Edukasi Lingkungan Hidup melalui Pendekatan Buku Harian untuk Anak

Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia (lebih dari 250 juta jiwa) memiliki konsekuensi tekanan yang cukup besar bagi lingkungan hidup.

Hasil penelitian dari University of Georgia yang dirilis dalam Science menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara penyumbang sampah plastik terbanyak di lautan setelah China. Tercatat sebanyak 1,29 juta ton metrik per tahun sampah yang dihasilkan oleh penduduk Indonesia sebagai limbah dari aktivitas sehari-hari.

Masalah pencemaran lingkungan oleh sampah terutama sampah non-organik kini sudah menjadi permasalahan serius bagi negara-negara di dunia lantaran sampah non-organik memiliki sifat yang sulit diuraikan oleh alam, sedangkan setiap hari jumlah sampah yang dihasilkan semakin bertambah.
Hasil Survei Perilaku Peduli Lingkungan Hidup (SPPLH) pada tahun 2012 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa indeks perilaku peduli lingkungan masyarakat Indonesia berada pada level 0,57 pada skala 0 sampai 1 (skala 0 untuk kepedulian lingkungan rendah dan skala 1 untuk kepedulian lingkungan tinggi). Artinya sebagian besar penduduk Indonesia memiliki tingkat kepedulian lingkungan yang rendah.

Hal ini tentu menimbulkan keprihatinan bagi kita sebagai manusia yang seharusnya mampu menjaga kondisi lingkungan hidup agar tetap asri dan nyaman untuk ditinggali. Tingkat kepedulian terhadap lingkungan sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan seseorang terhadap lingkungan hidup.

Tingkat pengetahuan sangat diperlukan sebagai dasar dalam berperilaku ramah terhadap lingkungan. Hal ini menyebabkan pentingnya upaya edukasi lingkungan hidup sejak usia dini.

Usia anak-anak adalah masa yang paling tepat untuk menanamkan sikap dan perilaku tanggung jawab. Sebab pada usia tersebut, anak mampu menangkap dan merekam segala hal yang diajarkan oleh orang lain secara optimal. Sebagian besar sesuatu yang diajarkan kepada anak-anak akan terekam di dalam ingatan, dipraktikkan dan akan menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam perilaku sehari-hari.

Oleh karena itu, sekelompok mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terdiri dari Zainul Muzaki, Erlina Hanifah, Adinda Aisyah, Mufika Haryu Suci Fitriana, dan Adi Poernomo berinisiatif untuk membuat sebuah program edukasi lingkungan untuk anak-anak SD N Cihideung Ilir 06, Ciampea, Bogor, yang bertujuan membentuk kebiasaan berperilaku peduli dan ramah terhadap lingkungan.

Program tersebut diberi nama G-Midi (Green Mini Diary) yang merupakan salah satu program kreativitas mahasiswa bidang pengabdian masyarakat dan didanai oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) untuk tahun pendanaan 2017.

Media pendukung yang digunakan berupa buku harian (diary) yang diberikan kepada anak-anak sebagai media untuk mendokumentasikan kegiatan mereka sehari-hari yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan. Metode yang digunakan berupa kontrol aksi reaksi dengan melihat langsung kondisi lingkungan sekitar, mengidentifikasi permasalahan lingkungan yang ada, dan memberikan solusi tindakan yang dapat dilakukan.

“Media buku harian (diary) sangat cocok dan sesuai untuk membentuk kebiasaan berperilaku ramah terhadap lingkungan pada anak-anak. Kami menyebutnya sebagai green mini diary karena memang buku harian (diary) tersebut dikhususkan untuk menuliskan kegiatan yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan dengan melibatkan kreativitas kemampuan menulis yang dimiliki oleh anak-anak.

Anak-anak kami beri kebebasan untuk berkreasi terhadap buku harian yang mereka miliki sehingga dapat memberi kesan yang mengasikkan,”kata Zaki sebagai ketua tim program G-Midi.

“Harapannya, program G-Midi ini dapat menjadi salah satu metode bagi sekolah dasar untuk menyelenggarakan pendidikan lingkungan hidup. Buku harian (diary) dapat dijadikan sebagai alat untuk mengukur tingkat capaian kepedulian lingkungan pada anak-anak,”kata Poer selaku salah satu anggota tim.

Hasil dari pengisian diary tersebut akan menjadi tolak ukur bagi sekolah dan sebagai indikator untuk mengetahui sejauh mana capaian siswa-siswa dalam berperilaku ramah terhadap lingkungan.

“Satu minggu sekali setiap siswa akan mendapat raport G-Midi sesuai dengan capaian skor masing-masing. Setiap skor akan menunjukkan warna raport yang berbeda sesuai dengan kategori skor. Ada warna emas, hijau, biru, merah, dan hitam,” kata Fika, salah satu anggota tim.

(Catatan : Tulisan ini merupakan kiriman dari Mufika Haryu Suci Fitriana mahasiswa Meteorologi Terapan Institut Pertanian Bogor yang diterima Lovely Bogor via email)

4 COMMENTS

  1. kbr baik pak..sepertinya pak anton lg sibuk berat yaa…..

    • Nggak juga Kang.. pas bulan puasa, fokus utamanya lagi nggak ke Blog, tapi ke memperbaiki diri kang.. hehehe.. Jadi selama 1 bulan ini saya nggak menekankan pada ngisi blog.

  2. sebuah program Edukasi yang bermutu dan bermanfaat…..
    dari awal membacanya kmaren ….saya sudah curiga ini tulisan bukan karya Pak Anton….sebab kalau diumpamakan dengan sebuah makanan ” rasayan itu lohh….beda bgtz “.

    setelah di dibaca bagian akhir…kecurigaan terjawab sudah……
    ………………………………………….
    Satu Pantun dari saya….

    Dapat makanan dari Babe
    makanan dibungkus Asoy
    satu kata buat IPB
    cap Jempo Oyyy….

    • Pakabar Kang..

      Iya keren, saya senang menerima yg seperti ini dari adik2 mahasiswa. Mereka memberikan informasi lain yg seharus menginspirasi banyak orang.

      Jelas gayanya beda dengan saya kang.. lebih bagus sepertinya 😊

LEAVE A REPLY