Bank Sampah Di Bogor

Kota Bogor memang sudah mirip dengan kota metropolitan. Dimana-mana bangunan untuk bisnis terlihat bermunculan dan menjamur. Hampir setiap inci lahannya sudah tertutupi oleh bangunan bertingkat bertujuan komersial.

Salah satu institusi bisnis yang paling mudah ditemukan adalah bank. Baik yang memakai sistem konvensional maupujn syariah sangat mudah ditemukan. Hampir di setiap sudut Kota Bogor akan ada paling tidak 1 buah kantor cabang institusi keuangan itu.

Mudah sangat mudah sekali warga Bogor untuk melakukan transaksi keuangan.

Meskipun demikian, ada satu jenis bank yang sulit sekali ditemukan. Namanya bahkan jarang sekali terdengar dalam pembicaraan sehari-hari. Nama banknya adalah BANK SAMPAH.

Padahal bank jenis ini akan membantu dalam pemecahan masalah kegagalan meraih kembali Piala Adipura yang sudah hampir 10 tahun tidak pernah mau singgah lagi. Selain itu juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Apa Itu Bank Sampah?

Bank Sampah Di Bogor

Mungkin kurang tenarnya Bank Sampah dengan efek positif yang bisa dihasilkan dengan keberadaannya disebabkan masih kurangnya pengetahuan dan pemahaman warga Bogor tentang institusi yang satu ini.

(Saya sebut institusi karena dalam pelaksanaannya walau tidak menggunakan bangunan mewah khas bank, sebuah Bank Sampah akan memerlukan sebuah organisasi yang tidak berbeda dengan sebuah bank.)

Bank Sampah adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh seorang pria bernama Bambang Suwerda, asli Indonesia. Konsep ini ditemukannya berawal dari keprihatinannya terhadap tumpukan sampah di kawasan Bantul, Yogyakarta.

Tumpukan sampah yang menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sisa-sisa kehidupan mereka sendiri. Juga mencerminkan bahwa slogan 3R, Reuse (Pergunakan Ulang), Reduce (Kurangi) dan Recycle (Daur Ulang) masih belum menjiwai kehidupan di Indonesia.

Berdasarkan keprihatinan ini, ia mengembangkan sebuah konsep yang memadukan konsep 3R dengan sesuatu yang tidak pernah gagal menarik minat orang, UANG! Bila sebelumnya slogan dan konsep 3R hanya mengandalkan pada kesadaran, maka dalam konsep Bank Sampah, maka masyarakat akan mendapatkan imbalan berupa UANG (yang kemudian berkembang dengan beberapa jenis lain).

Konsepnya sebenarnya sederhana dan sangat mirip dengan sistem perbankan sederhana. Bank Sampah menjadi pihak perantara antara yang memiliki sesuatu yang “berlebih” dan pihak yang “membutuhkan”. Hanya bedanya dengan bank-bank jenis lain, “sesuatu” ini bentuknya adalah SAMPAH.

Bank Sampah Di BogorSebagai ilustrasi, Bank Sampah beroperasi seperti di bawah ini :

  1. Penyetor/penabung akan membawa sampah yang sudah dipilah ke tempat dimana Bank Sampah berada. Mereka akan menyetorkan kepada petugas bank sampah yang mereka bawa
  2. Petugas akan menimbang dan kemudian memberikan penilaian harga terhadap sampah yang dibawa penyetor
  3. Nilai uang tersebut kemudian akan dicatatkan pada “BUKU TABUNGAN” sampah yang dipegang.
  4. Penabung kemudian dapat menarik uang dari buku tabungan mereka apabila jumlahnya sudah mencukupi/banyak. Dalam beberapa bank sampah, uang bisa diganti dengan beras, gula dan kebutuhan pokok lainnya.

Lalu kemana sampah yang dikumpulkan disalurkan?

Sampah-sampah ini kemudian oleh Bank Sampah akan disalurkan kepada pabrik-pabrik atau pihak-pihak yang bisa mengolah sampah tersebut. Mereka akan membayar bank sampah dalam bentuk uang.

Manfaat Bank Sampah

Bank Sampah Di Bogor

Jelas banyak. Bank sampah akan memberikan banyak sekali manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Bayangkan saja :

  1. Seorang warga bisa mendapatkan tambahan uang dari sesuatu yang sudah tidak terpakai dan dibuang begitu saja
  2. Jumlah sampah yang beredar akan berkurang karena 3R bisa berjalan dengan baik ujungnya lingkungan menjadi bersih
  3. Sampah bisa didaur ulang
  4. Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah meningkat
  5. Kebutuhan lahan untuk penimbunan sampah berkurang
  6. Pekerjaan petugas kebersihan menjadi lebih ringan

Masih banyak lagi manfaat yang didapat dari sebuah bank sampah. Salah satu contoh adalah Kantin Gas Metan yang dengan memakai konsep Bank Sampah memberikan banyak manfaat bagi yang pelanggan di warungnya. Silakan baca Kantin Gas Metan.

Ini adalah contoh-contoh manfaat yang bisa didapat.

Hambatan Bagi Bank Sampah

Bank Sampah Di Bogor

Ada berapa Bank Sampah Di Bogor. Kalau merujuk pada situs Pemerintah Daerah Kota Bogor jumlahnya “HANYA” 56 unit. Silakan lihat di sini.

Hanya 56 buah saja kawan. Kalau dihitung rasio jumlah penduduk dengan jumlah ini, maka sebuah Bank Sampah di Bogor harus melayani hampir 20.000 orang (penduduk Kota Bogor mencapai 1 juta orang saat ini)

Padahal Depok, sebuah kota yang berukuran hampir sama dengan Bogor saja punya 324 Bank Sampah untuk penduduknya yang mencapai 1,7 juta orang. Rasionya 1 berbanding 5000 orang saja.

Sampah yang bisa dikurangi hanya 82 Meter Kubik dari total hampir 2.500 Meter kubik sampah setiap harinya.

Ironis sekali, bukan begitu, Kawan?

Ada sebuah masalah tersendiri yang menjadi hambatan, paling tidak menurut saya.

Kesadaran masyarakat Kota Bogor yang masih rendah terhadap lingkungan, termasuk masalah sampah adalah penyebabnya. Bukti hal ini mudah sekali ditemukan di berbagai sudut Kota Bogor, sama banyak, bahkan lebih banyak dari jumlah bank.

Silakan pergi saja ke Taman-Taman di Kota Bogor. Disana akan dipertontonkan betapa warga Bogor masih sangat abai dan lalai dalam hal ini.

Anda akan bisa menemukan banyak sekaliu sampah berserakan dimana-mana.

Masyarakat masih menganggap bahwa kebersihan adalah urusan pemerintah saja. Banyak warga Bogor yang berpikir bahwa petugas kebersihan akan membereskan sampah-sampah yang mereka buang. Toh mereka sudah digaji, mungkin itu yang mereka pikirkan.

Bisa jadi mereka beranggapan bahwa mengurus sampah itu tidak keren. Kotor. Tidak KEKINIAN. Padahal di banyak negara maju, yang mereka tiru dalam banyak hal, memilah sampah sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari

MALAS. LALAI. ABAI.

Itulah salah satu hambatan utama dalam pengembangan Bank Sampah di kota hujan ini. Mereka terlalu malas bahkan untuk sekedar memasukkan sampah organik dan non organik di tempat sampah yang seharusnya. Padahal jelas sudah diberikan tanda pada tong sampahnya.

Jadi jangankan untuk ikut terlibat menyetorkan sampah, bahkan untuk membuang sampah pada tempatnya saja, warga Bogor masih malas. Bagaimana mereka mau mendatangi petugas bank menyetorkan sampah?

MENYEDIHKAN? SANGAT!

Bank Sampah Di Bogor

Oleh karena itu tidak mengherankan, walikota Bogor, kota yang dahulu pernah menjadi salah satu kota terbersih di Indonesia, sampai harus ingin belajar ke Kota Malang. Sebuah kota yang kurang lebih berukuran dan memiliki karakter yang mirip dengan Kota Talas ini.

———–

Konsep Bambang Suwerda, yang direalisasikan pertama kali tahun 2007 ini adalah sebuah konsep yang luar biasa. Apalagi konsep ini ditemukan oleh anak bangsa dan Indonesia merupakan satu-satunya negara yang mempergunakan konsep Bank Sampah ini.

Sayangnya setelah hampir 10 tahun perkembangannya terasa sangat lamban, terutama di Bogor ini.

Dari jumlah sampah perhari yang dihasilkan kota ini, jelas sekali jumlah bank sampah yang hanya 56 di akhir tahun 2015 ini sangat tidak mencukupi. Kalau saja jumlahnya bisa mencapai sama seperti Depok, jumlah sampah yang bisa direduksi bisa 6 kali lipat dan efeknya sangat baik bagi kebersihan kota. Sesuatu yang sangat diharapkan.

Mungkin Walikota Bogor bukan harus belajar mengenai bagaimana membuat sistem pengelolaan sampah yang baik. Mungkin yang harus dipelajari adalah bagaimana membuat warga Kota Bogor sadar tentang kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, dan memilah sampah.

Lagi-lagi ironis karena hal tersebut sudah diajarkan sejak Taman Kanak-Kanak.

Tetapi, tetaplah berharap. Tetaplah berusaha. Lakukan yang bisa dilakukan untuk itu. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Semoga yang membacanya, orang Bogor atau bukan dapat mengambil manfaat dari tulisan kecil ini.

LEAVE A REPLY