Boleh kah usul? Kalau nanti ada pemberian gelar pahlawan tanpa tanda jasa lagi, bisakah kita memasukkan profesi lain dan bukan hanya guru yang berhak menyandang gelar itu.

Ide ini terbersit di kepala ketika menyaksikan apa yang dilakukan beberapa orang Pengatur Lalu Lintas Swasta di Pintu Perlintasan RE Martadinata, Kota Bogor. Sebuah jalur yang merupakan salah satu titik macet terparah di Kota Hujan ini.

Frase “Pengatur Lalu Lintas Swasta” saya pakai untuk memperhalus istilah polisi cepek yang biasa digunakan. Karena untuk apa yang mereka lakukan, setidaknya mereka berhak mendapatkan sedikit penghargaan.

Pengatur Lalu Lintas Swasta di Jalan RE Martadinata - Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Memang, apa yang mereka lakukan tidaklah murni 100% sebuah kerja sosial. Ada pengharapan dari mereka untuk mengais rejeki di tempat tersebut dalam bentuk recehan seribuan atau dua ribuan dari pengendara yang merasa terbantu.

Hal itu tidak dinafikan.

Tetapi, bukankah guru pun demikian. Mereka bahkan mendapat gaji, yang kalau program sertifikasi berjalan mulus, akan menjadi lebih besar dengan berbagai tunjangan.

Sama saja kan.

(Baca juga : Jalan RE Martadinata)

Kalau soal efek dari yang dikerjakan, mungkn bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau mereka tidak ada.

Seperti pernah ditulis dalam beberapa artikel sebelumnya Pintu Perlintasan Kereta RE Martadinata adalah sebuah spot “neraka” pada jam-jam tertentu.

Posisinya di pertigaan yang merupakan pertemuan dua jalan, Jalan Bubulak dan RE Martadinata serta jalur kereta Commuter Line, merupakan sebuah tempat yang cukup berbahaya.

Bila ditambah dengan perangai pengendara, terutama sepeda motor, tempat ini berpeluang menimbulkan korban jiwa.

Saling serobot dan tidak mau mengalah, menerobos palang pintu perlintasan, memakan jalur orang lain adalah hal yang selalu terjadi disini.

Pengatur Lalu Lintas di Pintu Perlintasan RE Martadinata Bogor

Parahnya.

Sesuai dengan permintaan agar angkutan kereta menjadi salah satu pilar angkutan umum membuat PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) harus meningkatkan frekuensi keberangkatan keretanya.

Kereta hampir melewati titik ini setiap 5 menit sekali, bahkan terkadang 3 menit sekali.

Kemudian bayangkan ketika kendaraan terjebak kemacetan tepat di atas rel kereta, bukankah menjadi hal yang sangat berbahaya? Kereta tidak bisa serta merta menghentikan laju seperti mobil atau motor. Kendaraan ini membutuhkan jarak yang cukup jauh untuk melakukan pengereman.

Lalu. apa yang terjadi bila ada mobil atau motor yang terjebak di atas rel kereta dan pada saat bersamaan ada kereta yang hendak melintas?

Pengatur Lalu Lintas di Jalan RE Martadinata - Pahlawan Tanpa Tanda Jasa 05

Apa jasa para pengatur lalu lintas swasta di sana?

Kalau dilihat dari apa yang mereka lakukan, jasa mereka sebenarnya bisa dirasakan langsung bagi pengendara yang hendak melintas jalur tersebut.

Sebutlah

  • Meminta pengendara motor untuk tidak memakan jalur orang lain
  • Memberitahukan kedatangan sang ulat besi alias kereta yang hendak melintas
  • Membantu kendaraan yang hendak berbelok
  • Mengatur posisi kendaraan agar tidak saling bertemu di atas rel
  • Menolong kendaraan yang mogok

Hasil apa yang mereka lakukan sangat bermanfaat mengurangi resiko terjadinya kecelakaan yang bisa menimbulkan korban jiwa.

Lagipula, mereka melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh mereka melainkan oleh petugas dari kepolisian.

Bagi mereka yang tidak pernah melintasi jalur ini tentu akan memandang sinis dengan apa yang mereka kerjakan. Hanya, bagi mereka yang terbiasa melewati tempat ini, keberadaan mereka justru sangat dihargai. Saya termasuk salah satunya.

Peran para pengatur lalu lintas swasta ditambah dengan penjaga pintu perlintasan disini terasa sangat vital, terutama pada jam-jam sibuk dan hari libur.

(Simak : Titik macet di Kota Bogor – 11 terparah)

Pengatur Lalu Lintas di Jalan RE Martadinata - Pahlawan Tanpa Tanda Jasa 04

Konyol memang kedengarannya memberikan gelar tanpa tanda jasa kepada mereka. Tetapi, bukankah kita harus menghargai jerih payah dan jasa orang lain seberapapun kecilnya.

Menghindarkan orang dari celaka dan terluka bukanlah hal yang remeh loh!

Meskipun demikian, cukup bisa dimengerti karena stigma negatif terhadap para polisi cepek ini rasanya akan terasa janggal bin konyol menghadiahkan gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” ini.

Rasanya juga bukan masalah bagi mereka. Gelar tidak akan membuat hidup mereka sejahtera dan kebutuhan terpenuhi. Gelar juga tidak akan membuat sengatan matahari di siang bolong terasa sejuk.

Mungkin, sekedar lembaran seribu atau dua ribu bahkan recehan 500 rupiah bisa merupakan wujud penghargaan terhadap apa yang mereka lakukan.

Apalagi kalau ditambah dengan kepedulian kita untuk berlalu lintas sesuai dengan aturan dan saling bertoleransi di jalanan. Tentunya akan membuat hidup mereka menjadi sedikit lebih ringan.

Bukan begitu kawan?

Polisi cepek di re martadinata

 

 

2 COMMENTS

  1. Setuju sekali! Satu kali saya pernah terpeleset naik motor di perlintasan kereta Pasar Minggu. Syukur, saya dibantu oleh orang seperti mereka.

    • Alhamdulillah.. lebih hati-hati ya naik motornya, tetapi memang para pengatur lalu lintas ini kerap membantu

LEAVE A REPLY