Mudah-mudahan tidak. Maksudnya, mudah-mudahan Kang Bima Arya, walikota Bogor saat tulisan ini dibuat tidak coba meniru kebijakan baru Sandiaga Uno, sang Wakil Gubernur Jakarta untuk mengadakan pelatihan cara gowes becak yang baik dan benar bagi para tukang becak di Jakarta.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Om Sandi ini merupakan wujud dari janji kampanyenya untuk kembali mengaktifkan becak sebagai moda transportasi di ibukota Indonesia itu.

Maklum, sebagai sebuah kota yang sangat dekat, dalam artian jarak dan juga sosial budaya, Bogor sangat mungkin meniru kebijakan serupa. Apalagi, pemerintah Kota Hujan ini juga kerap mengeluarkan kebijakan atau tindakan yang serupa dengan kebijakan yang dikeluarkan kota-kota yang lebih besar.

Jadi, wajarlah kalau, saya sebagai warganya, punya sedikit kekhawatiran dalam hal ini.

Bukan karena tidak ingin para tukang becak dapat meningkatkan taraf kehidupannya dan bisa hidup lebih layak. Para warga Bogor pun ingin agar mereka-mereka yang menggantungkan hidup dari mengayuh kendaran beroda tiga itu juga dapat hidup lebih layak, dan bahkan makmur.

Hanya saja, sebenarnya, pelatihan cara gowes becak yang baik dan benar itu sendiri memiliki sebuah “cacat” logika yang tidak alang kepalang. Bingung saja kalau sampai dicetuskan oleh orang nomor 2 di kota metropolitan itu.

Mengapa?

Coba saja ajukan 2 pertanyaan berikut :

  1. “Siapa yang bisa mengajarkan cara gowes becak yang baik dan benar”
  2. Apakah dengan bisa mengayuh becak dengan baik dan benar kehidupan para tukang becak akan bisa naik dan meningkatkan kehidupan mereka?

Pertanyaan pertama lah yang paling menggelitik. Disana terlihat sekali ada sesuatu yang salah dengan kebijakan wakilnya Anies Baswedan, sang mantan Menteri Pendidikan ini.

Siapa yang bisa menjadi pelatih cara gowes yang baik dan benar dalam urusan becak? Jawabannya ya para tukang becak itu sendiri. Banyak dari mereka sudah berpengalaman tahunan dalam urusan mengoperasikan kendaraan yang diduga dibawa tentara Jepang pada masa penjajahan itu. Mereka sudah sangat terlatih dalam hal menggenjot becak.

Lalu, siapa yang lebih ahli dan bisa mengajarkan orang yang bisa dikata sudah ahli dalam melakukan hal itu? Para pegawai negeri sipil Pemda DKI? Para tukang becak yang ditunjuk?

Siapa?

Kalau yang diajarkan cara gowes becak para PNS DKI, dan pelatihnya para tukang becak, hal itu bisa dimaklumi dan dimengerti. Ada transfer kemampuan dan pengetahuan cara mengemudikan becak dari tukang becak ke orang yang tidak tahu caranya.

Tetapi, kebijakan om Sandi ini sebaliknya.

Itulah mengapa bisa dikata kebijakan baru, kalau direalisasikan, adalah sebuah kebijakan yang aneh dan sangat berdasarkan logika yang terbolak balik. Kemungkinan besar hanya untuk memenuhi janji-janji pada saat kampanye saja.

Tukang Becak Menunggu Penumpang 2

Pertanyaan kedua di atas akan memperlihatkan bahwa pelatihan cara gowes becak yang baik dan benar akan menjadi sesuatu yang sia-sia saja.

Penghasilan para tukang becak, di Jakarta dan juga beberapa kota lainnya, termasuk Bogor menurun drastis. Hal ini bukan karena mereka tidak bisa menggenjot becak mereka dengan benar. Mereka tetap ahli.

Sayangnya, sebaik apapun mereka bisa mengayuh kendaraan mereka, tetap saja becak tidak bisa lebih cepat dari motor atau mobil. Kecuali tukang becaknya superman atau superhero ala Avenger lainnya, hampir tidak ada kemungkinan becak bisa lebih cepat dari sepeda motor.

Kenyataan inilah yang membuatnya kalah bersaing dengan angkot dan ojeg sebagai sarana transportasi.

Waktu adalah sesuatu yang sangat dihargai masyarakat modern di masa sekarang dan itu tidak bisa disediakan oleh becak.

Belum ditambah dengan kenyataan bahwa tarif becak lebih mahal dibandingkan angkot. Apalagi kalau komparasinya dilakukan dengan ojeg online yang banyak tarif promonya.

Semua ini menurunkan kemampuan bersaing becak di masyarakat modern seperti sekarang. Tidak lebih cepat, tidak lebih nyaman, dan tidak lebih murah. Itulah mengapa perlahan tetapi becak pun mulai tersingkir dalam kehidupan masyarakat.

Melatih para tukang becak cara gowes yang baik dan benar tidak akan membuat mereka tiba-tiba memiliki kemampuan berkompetisi dua tiga kali lipat lebih baik. Pelatihan itu tidak akan membuat tarifnya menjadi lebih murah. Tidak juga menjadi lebih cepat.

becak masih beroperasi di jalan protokol kota bogor 2 - jalan sudirman bogor

Memang, pada kenyataannya, becak masih beroperasi di berbagai kota, termasuk Bogor. Tetapi, biasanya dipergunakan oleh mereka yang tidak terburu-buru atau membawa barang yang banyak. Becak memiliki keuntungan dalam hal itu karena kabinnya berukuran lumayan dibandingkan ojeg, yang merupakan saingan utamanya.

Hanya itu.

Oleh karena itu, kemungkinan adanya pelatihan para tukang becak tentang cara gowes yang baik dan benar adalah sesuatu yang akan sia-sia saja. Tidak memberikan nilai tambah apapun bagi para tukang becak.

Mereka lebih memerlukan :

  1. Pelatihan untuk beralih profesi agar mereka bisa ikut bersaing di dunia modern
  2. Lokasi yang menjamin mereka bisa mendapatkan penumpang
  3. Memberikan modal agar mereka bisa beralih profesi dan meninggalkan becak
  4. Membuat becak menjadi “spesial”, seperti menjadi kendaraan wisata

Hal-hal seperti ini akan lebih bisa membantu dalam membuka kesempatan para tukang becak menjadi lebih baik dibandingkan saat ini.

Jadi, mudah-mudahan saja, dan saya cukup yakin Pemda Kota Bogor tidak akan meniru rencana kebijakan Pelatihan Cara Gowes Becak Yang Baik dan Benar ini. Kalau ditiru, bisa dijamin akan ada badai kritikan menerpa karena kebijakan ini, walau terdengar baik, tetap saja adalah sebuah kebijakan populis yang tidak tepat guna, mubazir, dan hanya menghabiskan anggaran saja.

Semoga.

LEAVE A REPLY