Belajar Tehnik Fotografi
Tukang Becak Di Bogor

Belajar Tehnik Memotret Untuk Ngeblog. Lucu dan agak malu sebenarnya membuat tulisan dengan judul seperti ini.

Penyebabnya? Blog ini didasari konsep majalah bergambar.

Selama ini, saya berkeyakinan bahwa peran gambar atau foto dalam sebuah artikel lebih dari hanya sekedar pelengkap saja. Bahkan, sudah beberapa kali, saya melibatkan diri dalam perdebatan tentang hal itu dan berada pada sisi yang bertentangan dengan pendukung teori “foto hanyalah pelengkap”.

Sayangnya, rupanya lidah itu tidak bertulang. Seringkali, antara ucapan dan tindakan tidak sesuai . Apa yang dikemukakan dalam berbagai diskusi online tersebut, hanyalah sebatas tulisan saja (hingga saat ini).

Apakah saya memakai gambar pada tulisan-tulisan di blog ini? Jelas dong. Lihat saja pada tulisan-tulisan yang ada. Tidak ada satu tulisan pun yang tidak diberi foto dan hampir semuanya adalah hasil produksi sendiri, baik dengan smartphone atau kamera DSLR. Tidak ada masalah dengan copyright dari kesemua foto yang dipakai.

Bahkan, sebuah menu khusus “Bogor Dalam Foto” dibuat khusus untuk menampung berbagai foto . Tujuannya untuk dapat menggambarkan Bogor bukan dalam bentuk tulisan, tetapi gambar.

Ratusan foto sudah dipakai dan jumlah yang lebih banyak masih tersimpan di hard disk komputer. Kesemuanya ditujukan untuk menyajikan gambaran secara lengkap dalam bentuk image kepada pembaca. Sesuai dengan niat awalnya.

Lucunya? Saya tidak belajar tehnik fotografi

Lucunya dan yang membuat malu itu ada pada kenyataan, saya sejauh ini tidak mendalami lebih jauh tentang tehnik menghasilkan foto yang baik. Bahkan bisa disebut mengabaikan belajar tehnik fotografi.

Selama setahun ini, saya terfokus pada perbaikan tulisan, layout, gaya tulisan dan berbagai detil tentang merangkai kata-kata. Tidak terpikirkan sama sekali untuk mencoba mengolah lebih lanjut hal-hal terkait bagaimana menghasilkan sebuah gambar yang menarik.

Padahal, kalau memang blog ini menempatkan artikel dengan foto dalam porsi berimbang, sudah seharusnya kedua hal tersebut diperdalam. Sayangnya, mungkin karena terlalu malas membaca berbagai teori fotografi, yang istilahnya sama sekali baru, akhirnya hal tersebut tidak disentuh.

Semua foto dibuat apa adanya dengan mengandalkan pada mode AUTO atau EXR pada Fuji Finepix HS 35EXR. POLOS. APA ADANYA. Tidak peduli apakah aperturenya menyebabkan sinar masuk terlalu banyak. Acuh pada posisi obyek utama (Point Of Interest).

Tidak pernah terpikirkan sama sekali untuk menghasilkan sebuah foto yang lebih menarik dan hidup. Padahal, hal tersebut seharusnya bisa membuat sebuah tulisan lebih menarik dibandingkan foto ala kadarnya.

Itulah yang membuat perasaan lucu sekaligus malu timbul. Bagaimana tidak? Mengandalkan pada konsep majalah bergambar untuk blog ini, tetapi tidak mempedulikan salah satu bagian pentingnya, yaitu tehnik-tehnik fotografi yang baik.

Lebih parahnya, beberapa kali berkunjung ke web-web tentang belajar fotografi, ujungnya hanya mengagumi foto-foto hasil karya para fotografer terkenal saja. Lalu, bagaimana bisa berharap pembaca akan tertarik dan terikat.

Sebuah logika sederhana saja, bila sesuatu dianggap penting, maka hal tersebut harus dipahami dan dipelajari terus menerus. Disini, itu hanya sebatas omongan saja. Tidak ada realisasinya.

Belajar Tehnik Fotografi

Hingga akhirnya, sebulan terakhir, saya terpaku pada sebuah blog dari seorang fotografer jalanan asal Amerika Serikat, kelahiran Korea. Nama blognya ERIC KIM BLOG.

Disitu, saya melihat apa yang saya inginkan. Sebuah perpaduan antara fotografi yang luar biasa dan artikel yang tidak kalah luar biasanya pula. Sebuah kombinasi yang menghasilkan tulisan yang enak dipandang mata, sekaligus menyegarkan karena kedua unsur, gambar dan kata tersusun dengan sangat bagus didalamnya.

Tulisan-tulisannya itulah yang akhirnya menyentil. PLAK! Seperti ditabok rasanya. Sekaligus membangunkan dari mimpi di siang bolong. Kalau mau menarik, maka kedua sisi tulisan harus terus diperbaiki, tidak bisa hanya salah satunya.

Jujur, saya merasa tulisan-tulisan di dalam blog ini membaik dibandingkan ketika pertama kali memulainya. Tentu saja, masih ada yang bikin merah muka kalau dibaca ulang, tetapi sebagian besar, oke-lah. Not so bad. Tidak lah sia-sia belajar menulis selama setahun lebih ini.

Sayangnya, ketika melihat foto-foto di dalam artikel, rasanya berbeda. MONOTON. STATIS. TIDAK MENARIK. Sesuatu yang mungkin juga dirasakan oleh para pembaca. Kalau melihat ke kaca, rasanya muka ini bakalan sudah merah karena malu.

Nah, ujungnya, hari ini proses belajar, sesi fotografi dimulai. Bukan untuk Anda lho, tapi kalau mau ikut, saya akan coba berbagi beberapa tehnik fotografi yang sudah saya coba praktekkan di lapangan.

Tidak dengan niat mengajari (meski ada blogger yang baru-baru ini menulis, bahwa untuk sukses, maka sebuah blog harus mengajari pembaca), hanya sekedar berbagi.

Sebagai langkah awal, ini dua buah foto dari “pelajaran” tehnik fotografi yang disebut panning. Hasilnya, masih jauh dari sempurna dan keinginan si pemegang kamera, tetapi, ya harus diakui bahwa pengetahuan tentang beberapa tehnik fotografi sangat membantu dalam ngeblog.

Bahkan, kalaupun hasilnya tidak akan menjadi seindah foto para master di dunia ini, tetapi setidaknya, hal itu akan memperbaiki blog ini secara keseluruhan.

Mudah-mudahan dengan semakin seringnya berlatih dengan teori yang benar, foto-foto di blog ini akan semakin baik. Ujungnya, saya harapkan akan membuat pembaca menjadi lebih tertarik dan nyaman, sekaligus mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang Bogor.

SEMOGA.

(* Terima kasih untuk membaca, saya hendak melakukan trimming, alias menyortir stok foto yang ada. Banyak yang tidak enak dilihat)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.