Foodcourt SKI - Sumber Karya Indah Katulampa BogorLega rasanya.

Setelah beberapa hari terasa campur aduk, Sedih dan nelangsa membaca berita tentang Nenek Saeni yang dagangannya dirampas oleh Satpol PP hanya karena membuka warungnya saat bulan Ramadhan, hari ini lega rasanya.

Kekhawatiran hal sejenis akan diterapkan di kota Bogor terasa menyesakkan. Oleh karena itu lega rasanya membaca harian Radar Bogor edisi hari ini, Selasa 14 Juni 2016.

Disitu tertulis bahwa Kang Bima Arya, sang Walikota Bogor mengeluarkan ucapan bahwa restoran, rumah makan dan warung makan di kota hujan ini diperkenankan tetap buka. Selama 24 jam pula.

Syaratnya hanya membuatkan tirai agar ruangan rumah makan tidak terlihat dari luar.

Sebuah hal yang sangat melegakan. Kejadian yang terjadi di Serang tidak akan terjadi disini.

Mungkin akan banyak yang menentang keputusan itu. Tetapi, secara pribadi, saya berpikir bahwa keputusan itu sangat tepat.

Kami umat muslim berpuasa bukan karena ingin dihormati. Kami menjalankan perintah berpuasa , tidak makan dan minum di siang hari karena menjalankan perintah-NYA. Bukan karena ingin dipandang sebagai orang yang religius, bukan ingin disebut baik, tetapi karena berpuasa adalah sesuatu yang kami harapkan mendekatkan kami kepada Allah SWT.

Tidak pernah keluar keinginan dari kami bahwa puasa kami akan menyebabkan orang lain berada dalam kesulitan. Bahkan di bulan Suci ini, kami, umat muslim berharap bisa meringankan kesusahan orang lain.

Jauh dari keinginan untuk yang disebut “dihormati”.

Apalagi, kalau rasa “hormat” itu dilahirkan dari paksaan dari yang namanya aturan. Tidak pernah ada rasa hormat karena sikap represif, yang ada adalah rasa takut. Itulah yang saya pikir dirasakan oleh Nenek Saeni ketika hasil masakannya diangkut. Bukan rasa hormat.

Bukan sebuah masalah kalau di hadapan mata kami, ada orang, yang tidak berpuasa, makan atau minum. Hal itu bukanlah sebuah masalah. Itu adalah hal yang kami terima sebagai ujian yang harus dijalani.

Lagi pula bukankah kita harus selalu berprasangka baik kepada orang lain. Bisa jadi mereka adalah musafir yang sedang bepergian dan butuh tenaga untuk meneruskan perjalanan. Bukankah sang pemilik rumah makan juga memerlukan tambahan biaya untuk membayar THR (Tunjangan Hari Raya) bagi karyawannya. Bisa jadi yang punya warung juga butuh uang untuk mereka makan sehari-hari.

Lalu, kalau mereka harus tutup hanya demi menghormati kami yang berpuasa, betapa rendahnya kami. Untuk mendapatkan penghormatan harus membuat orang lain berada dalam kesusahan.

Jangan sampai hal itu terjadi.

Lebih jauh lagi, kalau melongok ke masa lalu, bukankah Bogor dan warganya sudah sejak dahulu tidak mempermasalahkan warung, rumah makan, restoran dibuka pada siang hari? Bukankah dulu pun di Bogor , warga yang berpuasa pun tidak ribut melihat ada yang makan di depan mereka sekalipun dan tetap meneruskan puasanya.

Lalu, mengapa semua tiba-tiba harus diributkan saat ini? Mengapa tiba-tiba, setelah berpuluh tahun damai seperti itu, semua harus berubah? Mengapa orang-orang yang sedang mencari penghidupan harus disusahkan hanya karena kami ingin menjalankan ibadah.

Saya dan rasanya mayoritas warga Bogor yang muslim tidak meminta itu. Biarlah kedamaian di kota ini tetap terjaga seperti sebelumnya.

Tidak perlulah ada Nenek Saeni-Nenek Saeni yang lain yang harus menangis karena sumber penghidupannya direnggut secara paksa, hanya demi alasan menghormati kami, yang berpuasa. Saya tidak ingin itu terjadi.

Oleh karena itu, Kang Bima. Terima kasih untuk keputusannya.

Dengan begitu, justru Anda menghormati kami yang berpuasa. Kami tidak perlu mengelus dada dan ikut sedih menyaksikan orang kecil kebingungan mencari penghasilan. Toh, mereka tidak melanggar hukum dalam hal ini.

Biarlah selembar tirai yang akan mereka pasang menunjukkan adanya toleransi di antara warga kota Bogor. Yang berpuasa, yang tidak berpuasa, dan yang sedang mencari penghasilan bisa saling mengerti dan bertenggang rasa satu dengan yang lainnya.

Tidak perlu paksaan. Biarlah semua itu lahir dari hati masing-masing.

Biarlah para ahli di SETARA INSTITUT mengerutkan keningnya. Biarlah mereka melihat bahwa kota yang dilabeli mereka sebagai kota paling tidak toleran, ternyata warganya sangat toleran satu dengan yang lainnya.

Terima kasih.

LEAVE A REPLY