Tingkah laku pengendara motor di Bogor sering membuat geleng-geleng kepala yang melihat. Termasuk saya.

Entah apa yang ada di kepala mereka ketika melakukan hal-hal yang seperti itu.

Sebagai contoh :

Pemotor Bogor
Pemotor dengan barang bawaan berlebih di jalan Abesin Bogor

1. Tingkah laku pemotor yang membonceng istri yang menggendong anak sambil membawa barang bawaan.

Kadang terpikir mana yang lebih mahal sebenarnya antara ongkos angkot yang hanya Rp 3,500 dengan nyawa istri dan anaknya.

Lucunya lagi terbayang ketika mereka masih berpacaran, rasanya tidak jarang ungkapan “aku akan melakukan segalanya untukmu” keluar. Hanya rasanya antara perkataan dan tindakan tidak sesuai.

Bagaimana bisa sesuai ketika dia memakai helm dan berjaket , sang istri tidak memakai helm dan tidak pula mengenakan jaket. Belum lagi beban yang harus dibawa sang istri berupa anak dan barang bawaan. Anaknya sendiri kalah penting dibandingkan barang bawaan.

Kalau pacar anda melakukan hal seperti ini, jangan percaya. Lebih baik putuskan saja sejak awal. Bila baru pacaran saja sudah begini apalagi nanti kalau sudah menikah.

2. Trotoar adalah (bukan) tempat parkir motor atau jalan untuk motor

Sejak Sekolah Dasar pasti sudah diajarkan bahwa trotoar adalah tempat untuk pejalan kaki. Tidak pernah disebutkan bahwa trotoar sebagai tempat parkir motor atau jalan khusus motor.

Ataukah, memang sudah keluar definisi yang terbaru dari trotoar? Apakah anda tahu kapan berubahnya

Pemotor Bogor
Melawan arus di jalan Pajajaran Bogor

3. Melawan arus

Jalan satu arah artinya bahwa para pengendara harus mengikuti arah arus yang telah ditetapkan. Hanya bukankah mengherankan bahwa hal sesederhana itu tidak bisa dipahami oleh banyak pengendara motor di kota hujan yah.

4. Jalan dua arah berarti dipakai dari dua arah

Jalan dua arah berarti ada lalu lintas dari dua arah di dalam satu ruas jalan. Bukan berarti bahwa kedua arahnya bisa dipakai semaunya.

Lalu kenapa para pengendara motor bisa mengartikan jalan dua arah boleh dipakai sekehendaknya

5. Usia minimum adalah 17 tahun untuk berkendara

Tujuh belas tahun adalah angka ke-18 dari bilangan bulat . Mudah sekali menghitung dari satu sampai 17 tanpa memakai kalkulator.

Kalendar juga bukan sebuah barang langka. Bisa dibeli dimana saja dengan harga kadang tidak sampai seharga sebungkus rokok.

Ternyata segala kemudahan itu tidak berarti banyak terhadap tingkah laku. Buktinya, banyak sekali anak dibawah usia 17 tahun mengendarai mobil atau motor di Bogor.

Menimbulkan pertanyaan apakah bapak ibunya tidak lulus Sekolah Dasar sehingga tidak bisa berhitung sampai 17?

6. Helm bukanlah hiasan kepala

Mengapa ada peraturan harus memakai helm? Jawabnya agar kepala pengendara bisa terlindungi kalau terjadi kecelakaan. Betul lebih baik berhati-hati tetapi kecelakaan adalah sesuatu yang mungkin terjadi.

Pemotor Bogor
Di bawah umur dan tak memakai helm di jalan RE Martadinata

Pasti jawabnya “Iya Tahu”. Lha, lalu kenapa masih tetap tidak pakai helm. Kalau hanya karena gerah pakai helm, mungkin saatnya bertanya mana yang lebih berharga kepala anda atau harga shampoo buat keramas rambut kalau sudah sampai rumah.

———-

Berbagai tingkah laku pengendara motor di Bogor menunjukkan bahwa aturan berlalu lintas di Bogor bak macan ompong saja. Mungkin karena pemahaman mereka berdasar pada sebuah anekdot bahwa ATURAN DIBUAT UNTUK DILANGGAR.

Mungkin bila anda , pengendara motor (seperti saya juga) tentu agak sewot kalau saya berkata anda primitive. Siapa yang mau dikatakan sebagai orang yang kurang atau bahkan tidak beradab. Saya juga tidak mau.

Hanya, ciri sebuah peradaban adalah manusia yang taat pada aturan. Seorang filsuf pernah berkata bahwa peradaban sebuah masyarakat bisa diukur dari kepatuhan manusia-manusianya bahkan terhadap norma (hukum yang tidak tertulis). Semakin tinggi peradaban, maka berarti keteraturan akan ada di masyarakat tersebut.

Nah, sekarang bila segala aturan yang ada dilanggar, bukankah hal tersebut berarti tidak beradab atau belum beradab alias primitif.

Bukankah begitu?

———

Pemotor Bogor
Nyamannya parkir di trotoar jalan Suryakencana Bogor

Memang tingkah laku yang disebutkan di atas bukanlah monopoli dari bogor. Hal yang sama banyak terlihat di berbagai kota di Indonesia.

Siapa yang menulari dan siapa yang tertular tidaklah perlu dipermasalahkan. Hanya beragam tingkah laku premotor di kota hujan ini menunjukkan banyak hal yang perlu dibenahi.

Yang dibenahi bukanlah sarana atau prasarananya. Jauh lebih dari itu , pembenahan harus sampai menyentuh hati dan kesadaran.

Sebuah proses yang akan panjang dan menyakitkan untuk merubah tingkah laku manusia. Hanya itu satu-satunya kalau tidak mau disebut sebagai masyarakat yang tidak beradab atau primitive.

Hal yang paling mudah bisa dilakukan dari dalam diri kita sendiri. Dimulai dari langkah pertama yaitu menyadari bahwa aturan atau hukum TIDAK DIBUAT untuk dilanggar. Aturan ada untuk menjaga keteraturan dalam masyarakat.

Kedua, menyadari bahwa jangan MEMBENARKAN YANG BIASA karena apa yang biasa kita lakukan tidak selalu benar. Contohnya yang disebut di atas. Seharusnya MEMBIASAKAN YANG BENAR.

——–

Buat anda-anda yang berkunjung ke Bogor, mohon bantuannya agar tidak memperumit situasi. Apa yang saya tunjukkan di atas sudah menunjukkan betapa rumitnya tingkah laku berlalu-lintas di Bogor. Jangan ditambah lagi.

Tapi terserah anda sih, kalau mau ikut cara seperti yang sudah saya sebutkan, jangan marah kalau disebut primitif ya. Juga jangan marah kalau ditilang pak polisi

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.