Angklung Gubrak : Tradisi Angklung Jumbo Dari Cigudeg Bogor

Angklung Gubrak - Tradisi Angklung J
Angklung Gubrak di Bogor CGM Street Festival 2020

Panitia pelaksana CGM Bogor Street Festival 2020 rupanya jeli sekali. Mereka rupanya tidak sembarangan menyusun urutan para peserta parade.

Hal itu terlihat dari urutan dimana kelompok Angklung Gubrak berada di depan tim Leuweung Seni Dari Purwakarta yang menampilkan Nyi Pohaci atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Dewi Sri.

Nyi Pohaci a la Leuweung Seni Purwakarta

Kenapa demikian?

Angklung Gubrak adalah sebuah tradisi atau kesenian yang dibawakan untuk menghormati sang dewi padi tersebut. Tradisi ini sudah ada di Bogor, konon sejak 400 tahun yang lalu.

Apa itu Angklung Gubrak?

Pada dasarnya “alat musik” ini sama seperti angklung biasa yang memiliki tinggi 30 centimeter dan lebar 16 centimeter, Angklung Gubrak berukuran jumbo. Ukurannya bisa mencapai 50 cm sampai 1 meter. Ukuran tabungnya juga lebih besar daripada yang biasa.

Angklung Gubrak tidak memiliki tangga nada dan jika digerakkan hanya akan mengeluarkan suara “gubrak gubrak”.

Hal itu berkaitan dengan fungsinya sendiri yang lebih mendekati sebagai perangkat upacara dan bukan alat musik.

Menurut cerita, angklung jenis ini memang merupakan bagian dari tradisi masyarakat di kawasan Cigudeg, Kabupaten Bogor sejak 400 tahun lalu.

Masyarakat di masa itu akan menggunakan angklung ini untuk mengiringi berbagai kegiatan pertanian di masa itu. Sebut saja saat menanam padi, saat panen, dan saat mengantar hasil panen ke lumbung.

Semua dilakukan dengan iringan suara “gubrak” dari angklung jenis ini.

Kepercayaan masyarakat pada masa itu adalah tanah dimana padi itu tumbuh dan dipanen akan kembali memberikan hasil yang berlimpah ketika ditanami kembali.

Dua kesenian dari dua daerah yang berbeda. Meskipun demikian, keduanya mencerminkan tradisi dan budaya yang sangat lekat dengan masyarakat Indonesia, yaitu masyarakat Tani.

Keduanya bisa bersatu dengan harmonis dalam parade Cap Go Meh Bogor berkat kejelian panitia perhelatan tersebut.

Mungkin tujuannya untuk kembali mengingatkan bangsa ini tentang pentingnya peran pertanian dalam budaya di Indonesia.

Keren!

2 thoughts on “Angklung Gubrak : Tradisi Angklung Jumbo Dari Cigudeg Bogor”

  1. Kirain ada yang jatuh, suaranya gubrak. Eh ternyata suara angklung yang tanpa nada toh.

    Tradisi yang menyangkut pertanian masih cukup banyak ditemui di Indonesia, yang cukup populer biasanya Indramayu dan sekitarnya

    • Iyah.. memang unik karena tujuannya bukan untuk menyenangkan kuping.. hahahaha

      Betul sekali, masih banyak tradisi-tradisi unik lain di berbagai daerah pedesaan. Sayangnya jarang yang menceritakan. Takutnya nanti keburu menghilang tanpa catatan.

Comments are closed.