Hantu Impor Menggusur Hantu Lokal Di Bogor ? Globalisasi Merambah Kota Hujan?

Hantu impor. Pagi-pagi istilah ini sudah membuat saya tertawa sendiri. Tidak bisa terbayangkan prosedur dan cara untuk mendatangkan “hantu” dari luar negeri. Sudah pasti petugas imigrasi akan mengalami kesulitan saat menerima kedatangannya karena rasanya makhluk halus tidak akan memiliki paspor dan visa.

Cuma, setelah dipikir beberapa saat, istilah ini cukup tepat juga.

Hantu atau setan sendiri bukan sesuatu yang asing dalam masyarakat Indonesia yang masih kental dengan dunia “mistis”. Sosok-sosok seperti kuntilanak, tuyul, kunyang, jelangkung, pocong, babi ngepet, masih bisa membuat bulu kuduk banyak orang berdiri. Bukan hanya anak-anak saja, tetapi orang dewasa sekalipun pasti berharap tidak bertemu dengan yang beginian.

Mereka “pernah” menjadi penguasa dunia perhantuan di Indonesia, dan tentunya Bogor. Berbagai film Indonesia di masa lalu sering memakai “jasa” mereka (tanpa membayar royalti) untuk menarik penonton.

Tetapi, belakangan ini, peran mereka dalam masyarakat Bogor sepertinya berkurang. Sosok mereka tidak lagi membuat orang mau datang ke bioskop. Tidak banyak lagi film Indonesia yang memakai tema hantu-hantuan versi lokal ini.

Heran?

Tidak juga.

Para hantu versi lokal ini sepertinya semakin berat bersaing dengan hantu impor.

Tidak percaya. Coba saja kunjungi satu tempat di Kota Bogor, restoran tepatnya, Death By Chocolate, banyak sosok hantu asing, yang mungkin masuk kategori “hantu impor” muncul.

Sosok-sosok ini dengan bangga dan percaya diri tampil di dinding, pojok ruangan, atau menggantung di atap. Dan, sepertinya pengunjung yang datang pun tertarik dengan sosok-sosok tersebut.

Sosok Hantu Impor di Death By Chocolate Bukti Globalisasi di Bogor
Death Angel (Malaikat Kematian) ala Hollywood

Para sosok menyeramkan itu ada yang “datang” dari Dunia Barat ada juga yang dari Dunia Timur. Yang pasti, jelas bukan berasal dari Indonesia. Import. Dari luar negeri![/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/6″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/3″][/vc_column][vc_column width=”1/3″][td_block_4 custom_title=”BACA JUGA …” category_id=”27″ sort=”random_posts” limit=”1″ css=”.vc_custom_1566610068910{background-color: #bbf9f5 !important;}” tdc_css=””][/vc_column][vc_column width=”1/3″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/6″][/vc_column][vc_column width=”2/3″][vc_column_text]

Pertanda Apakah Para Hantu Impor Itu ?

Memang bukan hantu dalam artian sebenarnya. Mudah-mudahan saja para hantu betulan dari dunia Barat tidak ikut datang supaya tidak menambah runyam situasi perhantuan di tanah air.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/6″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/4″][/vc_column][vc_column width=”1/4″][vc_single_image image=”12783″ img_size=”full”][/vc_column][vc_column width=”1/4″][vc_column_text]Menurut saya kalau menjawab pertanda apakah kehadiran para hantu impor ini, maka jawabanya ada pada kata GLOBALISASI.

Yap, sebuah kata yang mencerminkan perkembangan dunia yang semakin tidak mengenal batas negara.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/4″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/6″][/vc_column][vc_column width=”2/3″][vc_column_text]Teknologi perlahan tetapi pasti menggiring para penghuni bumi untuk menjadi “satu”, yaitu masyarakat dunia. Kehadiran internet dan kemudian berbagai perangkat lainnya mempermudah manusia berhubungan dengan manusia lain seperti tidak terpisah jarak.

Seorang yang berada di Indonesia bisa dengan mudah ngobrol dan ber-haha-hihi dengan orang lain di Amerika Serikat seperti tidak terpisah oleh jarak puluhan ribu kilometer via Skype atau aplikasi chatting lainnya.

Batasan ras pun perlahan semakin pudar akibat seringnya terjadi interaksi antar berbagai ras di masa sekarang. Orang Batak bisa dengan enak dan santainya berbincang tentang kopi dengan orang Inggris. Orang Jawa bisa silih curhat dan menyatakan cinta dengan orang Jerman.

Tidak ada batas.

Sebagai hasilnya adalah pertukaran pikiran, pandangan, cara hidup, dan budaya pun terjadi.

Beragam budaya yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri perlahan pun mulai berbaur. Saling berinteraksi. Saling mempengaruhi. Tidak sedikit yang hilang, tidak sedikit yang berjaya dan dominan, tetapi tidak sedikit juga yang menemukan bentuk baru yang berasal dari penggabungan budaya yang berbeda.

Dan, dalam dunia perhantuan Indonesia, paling tidak di Bogor, kehadiran sosok para hantu impor ini sepertinya mencerminkan bahwa mereka mulai memiliki tempat di dalam kehidupan kelompok manusia yang tinggal di kota ini.

Paling tidak sebagian di antaranya, belum semua, sudah bisa menerima bahwa sosok hantu itu seperti yang ditayangkan dalam berbagai film.

Sosok pocong, si mayat hidup terbungkus, tergantikan oleh zombie. Malaikat pencabut nyawa digambarkan membawa sabit besar yang dipergunakan saat mengambil nyawa dari makhluk hidup.

Gambaran seperti ini tidak ada dalam dunia perhantuan lokal sebelum film-film Barat merambah, tetapi belakangan mulai terserap oleh pemikiran orang lokal.

Sosok Hantu Impor di Death By Chocolate Bukti Globalisasi di Bogor 3

Mengapa hantu impor bisa diterima ?

Yah, banyak alasan. Tetapi, yang paling memegang peran adalah keran dan saluran informasi bagi orang Bogor terhadap hal seperti itu adalah terbuka lebarnya dengan kemajuan teknologi.

Keran film-film dari Hollywood deras menggelontorkan berbagai gambaran yang menggambarkan budaya Barat. Bahkan bisa dikata menguasai dan merajai perfilman di Indonesia.

Otomatis, dengan sukarela dan senang hati, masyarakat Indonesia “terindoktrinasi” atau menyerap unsur-unsur budaya asing.

Belum ditambah dengan internet yang memungkinkan orang Indonesia pun bisa melihat kehidupan dan gaya hidup di dunia “luar”.

Semua berperan terhadap penyerapan unsur-unsur budaya asing ke dalam kehidupan orang Indonesia.

Apalagi, ada pandangan, yang meskipun tidak resmi diakui, kalau apapun yang datang dari dunia luar dianggap lebih modern dan menarik dibandingkan buatan lokal.

Iya kan? Tidak percaya? Mobil Toyota dipandang lebih keren dibandingkan Esemka, baju bermerk GAP lebih meningkatkan “status” daripada merk Alisan.

Hal itu berlaku juga dalam hal “image”. Sesuatu yang dibuat di luar negeri, terutama dari negara maju, seperti Amerika Serikat, Korea, atau yang lainnya, terkesan lebih maju dan menarik dibandingkan buatan Indonesia sendiri.

Tidak heran kalau kemudian kuntilanak, pocong, atau jelangkung pun mulai disaingi oleh kehadiran makhluk-makhluk halus dari negara maju.

Masyarakat Indonesia, termasuk Bogor pun, mulai bisa akrab dengan hantu impor ini yang lebih sering mereka lihat di layar TV atau bioskop dibandingkan genderuwo (yang hanya dari mulut ke mulut).

Terlebih “kemasan” yang dipakai memang sangat keren. Tentunya tidak heran kalau Gundala kalah oleh Flash, Godam yang tidak mampu bersaing dengan Superman.

Polanya sama.

Globalisasi mulai memperlihatkan pengaruhnya dalam dunia perhantuan Indonesia. Hantu lokal harus was was terhadap kehadiran kolega mereka dari luar negeri.

Hantu Lokal Vs Hantu Impor ? Siapa Yang Salah? Mana Yang Akan Menang?

Sosok Hantu Impor di Death By Chocolate Bukti Globalisasi di Bogor 4

Pasti akan banyak yang merasa gerah dengan situasi seperti ini. Bagaimanapun ada unsur nasionalis dalam diri setiap orang. Keterikatan dalam satu kelompok besar kerap mendorong orang untuk merasa tidak nyaman ketika sesuatu yang asing masuk ke wilayahnya.

Mungkin hal kecil saja, tetapi kehadiran hantu impor seperti ini, tidak akan mengherankan membuat banyak orang merasa gerah dan mulai mencari siapa yang salah.

Pemerintah pastinya menjadi salah satu kambing hitam utama karena dianggap tidak mampu meredam arus masuk hantu.. eh budaya asing ke Indonesia.

Tetapi, sebenarnya tidak tepat juga menunjukkan jari ke satu pihak.

Globalisasi adalah dampak tidak terhindarkan dari kemajuan teknologi. Manusia semakin bebas berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja. Jika memang tidak mau ada yang namaya globalisasi, minta semua orang Indonesia membuang ponselnya dan tidak memakai internet, atau tidak menonton televisi.

Hidup terisolasi.

Barulah dengan begitu dampak globalisasi bisa teredam. Padahal, hal itu tidak mungkin dilakukan. Lagipula, mana mau orang di masa sekarang hidup tanpa smartphone. ketinggalan saja sudah rusuh setengah mati.

Tidak ada yang salah karena memang begitulah naluri dari manusia, yaitu terus bergerak maju.

Benturan budaya, dan masuknya hantu impor harus dipandang sebagai sesuatu yang tidak terelakkan. Sesuatu yang pasti terjadi dalam dunia sekarang ini.

Masyarakat pun tidak bisa disalahkan bisa menerima bentuk budaya asing. Mereka berhak untuk memilih apa yang menurutnya lebih baik dan menarik.

Kalau masyarakat Bogor , menganggap zombie dianggap lebih baik dari pocong, ya sah-sah saja.

Tidak perlu gerah dan menyalahkan orang.

Tetapi, kalau khawatir akan hilangnya satu lagi “budaya” dan pemikiran lokal asli, ada baiknya mengintrospeksi diri.

Sebuah kebudayaan akan “menang” dan dominan kalau dianggap lebih baik dan menarik dibandingkan yang sudah ada. Bahasa Inggris di Bogor perlahan akan menjadi bahasa penting dan menggusur bahasa Sunda yang merupakan bahasa aslinya.

Semua itu terjadi karena masyarakatnya melihat bahwa bahasa Inggris lebih menguntungkan untuk dipelajari daripada bahasa Sunda. Juga, bisa berbahasa Inggris , meski sepotong-potong, dianggap lebih keren dibandingkan sekedar menggunakan menggunakan bahasa Sunda yang sempurna.

Iya nggak?

Nah, kalau mau hantu lokal tidak tergusur oleh hantu impor, sebaiknya mulai ada yang bergerak mempopulerkan kembali keberadaannya. Buat kemasan yang menarik dan bahkan lebih mengundang perhatian daripada yang digambarkan dalam film-film Barat.

Bagaimanapun, film-film Hollywood itu harus diakui memang keren dari berbagai sisi. Sisi cerita, animasi, teknik.. intinya kemasannya luar biasa.

Buat juga restoran yang bertema hantu lokal dimana kuntilanak, pocong, genderuwo, tuyul dipajang di dalam ruangan. Kenalkan anak-anak dengan sosok-sosok menyeramkan asli Indonesia itu.

Dan, semua itu perlu dilakukan kalau memang mau hantu impor tidak berkuasa di Bogor, dan Indonesia.

Kalau tidak.. ya mau tidak mau. Dengan gencarnya dan semakin derasnya arus budaya dari luar yang masuk, haya tunggu waktu saja para hantu lokal itu tergusur ke pinggiran. Tidak beda dengan ondel-ondel atau banyak kesenian lainnya yang mulai menghilang.

Sang Hantu Sendirian 2
Kuntilanak si Hantu Lokal

Pertanyaan selanjutnya hanya “Maukah kita?” Maksudnya, supaya globalisasi tidak menghilangkan budaya asli, termasuk para setan lokal.

Kalau begitu, silakan temukan caranya. (Mungkin harus dipertimbangkan juga menceritakan tentang kehidupan para hantu lokal yang semakin susah sebagai cerita pengantar tidur.. walau tidak jamin sang anak bisa tidur)

Mari Berbagi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.