Perlukah Memakai Face Shield / Pelindung Wajah Saat Naik Commuter Line ?

Sejak sekitar 2-3 minggu yang lalu, jika Anda naik Commuter Line, pasti menyadari betapa seringnya announcer di stasiun dan di atas kereta menyampaikan himbauan terkait protokol kesehatan. Tujuannya tentu saja, untuk membantu mencegah terjadinya penularan virus berbahaya Novel Corona Virus 19 alias Covid-19.

Salah satu di antara himbauan itu berupa ajakan kepada para penumpang untuk memakai face shield atau pelindung wajah.

Perlukah Memakai Face Shield atau Pelindung Wajah Saat Naik Commuter Line
Petugas Keamanan Dalam Stasiun Cilebut Dengan Face Shield

Face shield sendiri biasanya berupa tabir dari plastik, plastik film, atau mika bening, mirip dengan penutup wajah pada helm.

Memang, masih berupa himbauan, belum berupa aturan yang lebih mengikat, seperti pemakaian masker atau mengenakan jaket atau baju lengan panjang.

Meskipun demikian, beberapa hari terakhir, sejak pertama kali himbauan disampaikan, jumlah penumpang yang mengenakan face shield meningkat. Tidak hanya penumpang wanita saja, tetapi juga banyak penumpang pria yang mulai menggunakan pelindung wajah itu terlihat.

Hanya saja, masih lebih banyak lagi penumpang yang memilih tidak memakainya.

Tidak salah sih sebenarnya karena masih sebatas himbauan saja.

Tapi…

Setelah menjalani masa WFO (Work From Office) alias bekerja di kantor lagi, saya menyadari bahwa himbauan, yang berdasar pada surat dari Kementerian Perhubungan ini bukan tanpa alasan.

Banyak sekali situasi dan kondisi di lapangan yang sangat memungkinkan terjadinya penyebaran Covid-19.

Sebut saja :

1. Penumpang yang sakit (batuk/bersin)

Seharusnya, penumpang yang kurang sehat tetap mengikuti anjuran #dirumahsaja. Sayangnya, entah atas alasan apa tetap berangkat dan menggunakan angkutan umum

Beberapa kali, selama itu saya di atas KRL berhadapan dengan penumpang yang batuk-batuk sepanjang perjalanan.

Memang, mungkin dia bukan penderita Corona, tetapi tetap saja hal itu sangat memungkinkan terjadi penyebaran virus lewat dropplet air liur yang terlontar saat batuk.

Masker kain atau scuba yang digunakan tidak akan mampu menahan dropplet tersebut.

Face shield akan memastikan dropplet itu tidak akan sampai ke wajah, mulut, atau hidung karena terhalang “perisai” mika atau plastik di muka kita.

2. Penumpang yang tidak bisa diam

Selalu ada saja penumpang yang gatelan mulutnya dan tidak bisa berhenti ngomong. Nyerocos terus tanpa henti.

Padahal, announcer di atas kereta sudah tanpa henti menginformasikan bahwa berbicara itu merupakan salah satu cara penularan virus Corona, melalui dropplet yang keluar dari mulut saat berbicara.

Tetap saja, banyak penumpang yang tidak sadar diri dan mulutnya tidak mau berhenti berbicara, baik langsung dengan kawan seperjalanan atau melalui telepon genggam.

Resikonya ditanggung oleh penumpang lain karena cipratan air liur ukuran mikro, masih mungkin melewati masker kain yang banyak dipakai sekarang ini.

Memakai pelindung wajah dan masker akan memastikan kemungkinan itu diperkecil sampai titik paling kecil untuk mengenai diri kita.

3. Kondisi padat penumpang

PT KCI dan Dephub memang membatasi jumlah penumpang yang naik dalam satu kereta. Saat ini peraturannya adalah 74 orang saja.

Sayangnya, kebutuhan akan transportasi umum murah meriah dibutuhkan banyak sekali orang. Apalagi Commuter Line yang merupakan angkutan massal yang populer belakangan ini.

Iya lah, murah meriah, lumayan nyaman, dan cepat (tidak kena kemacetan).

Tetap saja setiap hari ada resiko dimana penumpang berada pada kondisi kereta yang padat dan penuh. Menjaga jarak, yang merupakan poin penting protokol kesehatan selama pandemi, tidak bisa dijalankan.

Saat seperti ini adalah kondisi penuh resiko. Sangat mungkin terjadi penumpang harus berhadap-hadapan dalam jarak dekat dengan penumpang lain.

Tambahkan dengan penumpang bawel dan sakit.

Resiko terjangkit penyakit, bukan hanya Covid-19 akan membesar dalam situasi seperti ini.

Nah, memakai face shield pastinya akan mengurangi resiko tersebut. Meskipun harus berhadapan, penumpang di depan batuk atau berbicara, masih ada tameng berupa face shield.

Cipratan atau dropplet air liur yang keluar dari orang di hadapan kita masih akan tertahan oleh mika atau plastik bening.

Masker memang penting, tetapi bagaimanapun tetap punya kelemahan dalam menyaring virus yang dilontarkan orang lain.

Mencuci tangan tidak akan ada gunanya kalau saat di kereta seorang yang bersin atau batuk tepat berada di hadapan kita. Dropplet langsung menuju muka, mulut, dan hidung.

Lagipula, memakai face shield juga bagus bagi ketenangan jiwa. Coba saja saat di atas kereta ada yang bersin, percayalah, dalam situasi pandemi seperti sekarang, tetap akan ada rasa was-was dalam hati. Apalagi, kalau yang bersin dan batuk itu tidak menutup mulutnya dan berada di depan kita.

Itulah rasanya alasan dari himbauan untuk menggunakan face shield kepada penumpang Commuter Line. PT KCI, sebagai pengelolanya, tentu tidak mau terjadi penularan di wilayah yang dikelolanya.

Berkurangnya resiko penularan dan mengurangi rasa was was selama perjalanan rasanya lebih berharga dibandingkan harga face shield yang murah itu. Hanya 18-20 ribu saja sudah bisa mendapat pelindung wajah dan membantu usaha mencegah penularan virus berbahaya tadi.

Jangan khawatir dipandang aneh. Selama masa WFO yang sudah hampir dua bulan ini, para pengguna KRL sendiri sudah tidak memandang penggunaan face shield sebagai sesuatu yang aneh dan luar biasa. Anda tidak akan dipandang orang kurang waras.

Belum lagi para produsen face shield semakin kreatif dan menelurkan produknya dalam desain yang modis dan menarik.

Jadi, jika ditanyakan perlu atau tidak, maka saya jawab perlu. Banyak kebaikan yang dihasilkan benda ini, terutama dalam situasi seperti sekarang ini.

Mari Berbagi