Bagi yang baru-baru ini berkunjung ke Bogor, pastinya sudah melihat sebuah ikon baru di dekat Tugu Kujang, yang selamanya ini menjadi simbol Kota Hujan. Bentuk landmark baru ini adalah sebuah bangunan dengan 10 pilar berwarna putih dan menjulang di pertigaan jalan Pajajaran dan Jalan Otto Iskandardinata (Otista).

Nama ikon baru tersebut adalah Tepas Lawang Salapan DasakretA. Mengapa bangunan ini didirikan? Bukankah Bogor sudah mempunyai ikon dan simbol selama ini, yaitu Tugu Kujang? Apa makna Tepas Lawang Salapan Dasakreta?

Itu adalah banyak pertanyaan yang terlontar, bahkan dari banyak warga Bogor.

Nah, kira-kira apa makna dari ikon baru Kota Hujan ini? Coba kita sedikit uraikan satu persatu.

Makna Tepas Lawang Salapan Dasakreta

makna tulisan di tepas lawang salapan dasakretaSilakan perhatikan sendiri jika kebetulan Anda ke Kota Bogor, maka akan ditemukan bahwa ikon baru Kota Bogor ini terdiri dari :

  1. 10 Pilar
  2. 9 Lawang (Pintu)
  3. 2 Rotunda

10 Pilar dan Maknanya

Banyak yang mengatakan bahwa mengapa bangunan ini mirip dengan bangunan Romawi di masa lalu. Mengapa harus mengambil sesuatu yang bukan ciri khas Bogor? Itulah salah satu pertanyaan yang banyak diajukan.

Tetapi, sebenarnya tidak demikian. Tepas Lawang Salapan Dasakreta (TLSD) tidak mengambil gaya arsitektur Romawi.

Pilar-pilar ini meniru pilar yang terdapat di Istana Bogor yang bisa dikata memegang peranan penting bagi kehidupan kota ini hingga sekarang.

Ke-10 pilar atau penopang ini melambangkan sebuah konsep yang diambil dari naskah kuno kerajaan yang pernah menjadikan Bogor sebagai ibukotanya, Kerajaan Pakuan Pajajaran, yaitu DASAKRETA (Dasa = 10)

Dasakreta sendiri merupakan konsep dimana manusia harus bisa menjaga 10 bagian tubuh yang harus dijaga kebersihannya selama hidup. Dengan menjaga ke-10 bagian ini manusia diharapkan akan bisa terhindar dari berbagai perilaku buruk.

Sepuluh bagian tubuh yang harus dijaga itu adalah :

  1. Telinga
  2. Mata
  3. Kulit
  4. Lidah
  5. Mulut
  6. Hidung
  7. Tangan
  8. Kaki
  9. Dubur (Tumbung)
  10. Kelamin (Baga-purusa)

9 Lawang (Pintu)

pilar di tepas lawang salapan dasakretaNah, pernah ada yang bertanya ada 10, kenapa dinamakan Lawang Salapan (9 Pintu)? Memang banyak yang menghitung jumlah pilar yang terdapat pada bangunan ini, tetapi sebenarnya tidak tepat.

Yang ada adalah 10 pilar dan ke sepuluh pilar ini membentuk 9 pintu. Itulah mengapa namanya Lawang Salapan.

Sembilan lawang ini juga memiliki makna yang diambil dari salah satu filosofi utama dari Kerajaan Pakuan Pajajaran, yaitu “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh”. Tiga sikap utama yang bersifat dialogis dimana sesama warga Bogor diharapkan saling mengasihi, saling mengingatkan, dan saling menjaga (silih = saling).

Tiga filosofi utama ini menghasilkan 9 acuan agar manusia bisa mendapatkan kesejahteraan dalam hidupnya, yaitu

  1. Kedamaian
  2. Persahabatan
  3. Keindahan
  4. Kesatuan
  5. Kesantunan
  6. Ketertiban
  7. Kenyamanan
  8. Keramahan
  9. Keselamatan

Ke-9 lawang ini melambangkan juga sembilan titik yang dianggap pintu penghubung yang ada pada manusia dan merupakan penghubung antara manusia dan alam semesta.

Pilar-pilar itu juga seperti berdiri di atas kelopak bunga. Bunga yang dipakai adalah teratai, sebuah kekayaan alam yang banyak ditemukan di bumi Indonesia. Coba saja masuk ke Kebun Raya Bogor dan Anda akan menemukan banyak flora ini disana.

Tulisan DI NU KIWARI NGANCIK NU BIHARI SEJA AYEUNA SAMPEUREUN JAGA

Silakan lihat di makna peribahasa Sunda di Tepas Lawang Salapan Dasakreta.

Tulisan dari tembaga ini ada di “plang” penghubung ke sepuluh pilar tersebut.

Rotunda

Tepas Lawang Salapan Dasakreta juga dijaga oleh dua buah Rotunda. Apa itu rotunda? Lebih mudah untuk melihat langsung seperti apa bangunan ini lewat gambar.

Bangunan ini juga diinspirasikan dari salah satu bangunan bersejarah yang ada di Bogor. Coba saja masuk ke dalam Kebun Raya Bogor dari pintu utama, maka Anda akan menemukan bangunan sejenis.

Namanya adalah Monumen Lady Raffles – Monumen Cinta, sebuah monumen peringatan yang dibangun oleh penjelajah Inggris terkenal, Sir Thomas Stamford Raffles untuk istri tercintanya, Olivia Mariamne Devenish. Sesuatu yang menyiratkan betapa besar rasa sayang tokoh yang menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Indonesia) antara 1811-1816.

Itulah berbagai makna Tepas Lawang Salapan Dasakreta.

Fungsi Tepas Lawang Salapan Dasakreta

Posisinya yang berada persis diantara dua ikon utama Kota Bogor, Tugu Kujang dan Kebun Raya membuatnya menjadi penyambut bagi siapapun yang datang ke kota ini.

Tepas Lawang Salapan diibaratkan sebagai teras atau beranda (tepas = teras dari rumah orang Sunda) yang selalu terbuka dan menyambut siapapun yang datang dengan penuh kerahaman dan kerendah-hatian.

Selain itu ikon baru kota Bogor ini juga akan difungsikan sebagai ruang publik.

Mengapa Tepas Lawang Salapan Dasakreta Didirikan?

Pembangunan landmark baru ini sejalan dengan konsep yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Tujuan utamanya adalah mengembangkan potensi kota pusaka di Indonesia.

Bogor sebagai sebuah kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan di masa lalu, mendapatkan prioritas. Tidak mengherankan karena ada masa, di masa lalu, dimana Bogor pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda (Indonesia). Selain itu banyak sekali peristiwa penting dalam.

Selain itu peresmian Tepas Lawang Salapan Dasakreta sendiri bertepatan dengan 35 tahun berdirinya Tugu Kujang dan dua abad Kebun Raya Bogor (lihat sejarah Kebun Raya Bogor untuk lebih lengkapnya).

Kehadiran dan berbagai makna Tepas Lawang Salapan Dasakreat diharapkan dapat memperkuat kesadaran menjadikan Kota Bogor sebagai Kota Pusaka.

2 COMMENTS

  1. Yang benar dasakreta atau dasakerta kang? Di paragraf dua juga ada typo “dasakreat”.
    Buru-buru kejar tayang ya kang? Hehehe…

    • HAHAHA yang dasakreat mah emang salah saya.. da keur tunduh pisan…

      Kalau dasakreta atau dasakerta .. . Kalau lihat situs web pemerintah kota bogor sendiri agak ambigu. Disana tertulis Dasa Kerta, tetapi karena tulisan itu berasal dari filosofi kuno Pakuan Pajajaran, dalam tulisan yang sama juga disebutkan filosofi Dasakreta dan bukan Dasakerta.

      Nah, saya coba cocokkan dengan beberpaa literatur, termasuk diantaranya hasil penelitian dari UI tentang nama filosofi Sunda tersebut dan nama yang tercantum adalah DASAKRETA dan bukan DASAKERTA.

      O ya beberapa media nasional pun menggunakan Dasakreta, tetapi ada juga yang memakai DASAKERTA..

      Jadi, seharusnya karena namanya berasal dari filosofi yang sama, maka DASAKRETA yang harus dipergunakan dan bukan DASAKERTA. Itu pendapat saya dan karena itu judul artikelnya tetap pake DASAKRETA.

      Hehehe.. kalau soal dasakreat.. hapunten ahh.. jarinya mau jalan-jalan sendiri..:D

LEAVE A REPLY