Boleh percaya, boleh juga tidak. Tetapi, memang ada pigura raksasa di Kebun Raya Bogor. Sebenarnya benda atau bangunan ini terletak pada lokasi yang sangat jelas dan mudah dijangkau, tetapi banyak yang tidak menyadari keberadaannya. Banyak juga yang tidak menyadari fungsinya.

Cobalah perhatikan ketika Anda memasuki Kebun Botani ini dari Gerbang Utama atau Pintu I yang berada di depan Pasar Bogor. Sekitar 50 meter dari sana ada Danau Gunting dan di pinggir danau indah tersebut terdapat sebuah bangunan persegi terbuat dari kayu.

Lebarnya sekitar 7 meter dengan tinggi 3 meter. Di tengahnya terdapat sebuah bangku. Jika melihat apa yang dilakukan oleh banyak pengunjung KRB, terlihat jelas sekali bahwa mereka tidak begitu mengerti untuk apa keberadaan bangunan kotak seperti ini.

Bangunan kayu berbentuk pigura raksasa ini sebenarnya adalah memang ditujukan untuk menjadi sebuah pigura foto atau bingkai foto. Bedanya hanya pada ukuran yang besar dibandingkan bingkai foto di rumah.

Saya rasa memang pengelola Kebun Raya membuatnya untuk itu.

Cobalah perhatikan foto di bawah ini.

pigura raksasa di Kebun raya Bogor 2

Mirip sekali dengan pigura foto kan.

Ide ini tentunya bukanlah sembarangan dan sebenarnya mengikuti sebuah teknik dasar dalam fotografi, yaitu teknik FRAMING atau “Membingkai”. Dengan memanfaatkan benda-benda yang tersedia di sekitar, seorang fotografer bisa menempatkan obyek utama dalam sebuah bingkai (imajiner) agar lebih indah.

Nah, pigura raksasa ini mempermudah para wisatawan, yang tentunya tidak semua paham tentang teknik-teknik fotografi untuk bisa menghasilkan foto kenang-kenangan yang menarik.

Apalagi lokasinya diletakkan di ujung Danau Gunting, yang memiliki salah satu pemandangan terindah di KRB. Jika semua dipadukan dengan air mancur dan beberapa pucuk tanaman teratai, maka hasilnya fotonya bisa sangat enak dilihat.

pigura raksasa di Kebun raya Bogor 3

Bagaimana? Sangat enak dipandang mata kan?

Yap. Itulah fungsi dari sang “pigura raksasa” di Kebun Raya Bogor. Jadi, jangan lagi memotret tanpa memakai bingkainya, justru keberadaannya sangat membantu dalam membuat foto yang bagus.

Silakan mencoba sendiri.

11 COMMENTS

  1. dimana Pak ….. ? Email atau Blog Fhotografi ? 🙂

    • Lewat email juga boleh.. biar nanya lebih banyak…:D Mau lewat blog fotografi juga ga papa..

      • okeh..okehhh..Pak.. 🙂

  2. hahaha….dikocok – kocok sedikit dengan kalimat newbie saya akhirnya Ilmu tentang Frame dapat juga…kwkwkwk.

    ohy..tempat duduknya itu bisa dilepas apa pak….?

    satu lagi pak ” Maksud dari Ide ,teknik dan lokasi ” bagaimana maksudnya Pak ? ( mudah2an dapat bocoran ilmu lagi ,hehehe …)

    • a) soal tempat duduk.. itu buat pengunjung duduk. Kebanyakan orang suka foto dengan fikus di tengah jadi kalau dihilangkan mempersulit pengunjung untuk berfoto. Kebanyakan suka duduk disitu sambil bergaya seperti sedang menikmati pemandangan. Saya rasa niat sang penyedia tempat itu begitu.

      b) Ide, Teknik, Lokasi

      – Memotret itu tentang ide di kepala si pemotret. Jadi, ia harus punya ide mau seperti apa fotonya
      – Lokasi : dia akan meneliti kelebihan dan kelemahan sebuah lokasi. Faktor-faktor lokasi apa yang mendukung ide yang ingin dia ceritakan dalam fotonya, faktor-faktor lokasi apa yang tidak mendukung. Backgroundnya seperti apa, obyek tambahannya seperti apa. Frame ini bagus karena backgroundnya ada air, pepohonan, air mancur, bunga teratai .. bahkan tanpa obyek lain saja bisa jadi foto pemandangan.
      – Diterjemahkan dalam teknik pemotretan, apakah mau mengambil frame secara keseluruhan, apakah harus dipotret dari sudut bawah atau sudut atas, atau sudut samping. Semua itu tergantung ide dan lokasi yang ada. Jadi yang memotret harus menemukan sudut pemotretan yang terbagus menurutnya. Fokus kemana dan sebagainya.

      Foto dengan obyek di tengah adalah yang umum (karena itu disediakan tempat duduk). Foto dengan model yang sedang bergaya (entah siapa dia, soalnya saya ga kenal) adalah salah satu sudut pemotretan yang tidak umum.

      Gitu Kang, jadi memotret itu tidak statis, tetapi dinamis dan menyesuaikan dengan ide yang memotret. Fotografer sebisa mungkin tidak mengubah apapun (kecuali dalam studio) dan hanya merubah sudut pemotretan saja.

      • walah..walahhh,,buanyak sekali ilmu yang diberikan oleh Pak Aton…trims’s loh Pak…saya akan mencoba memahami dan menyerap apa yang telah disampaikan diatas.

        ohy menurut pengalaman Pak Anton…? Apa2 saja kelemahan sebuah Lokasi ?

        • Ga bisa nyebut banyak kang.. harus ngalamin sendiri baru bisa ngomong..

          • waduhhh…ngk dapat bocoran nich…hehe 🙂

          • Nanyanya di tempat terpisah saja kang.. hahahaha

  3. betul kata Pak Anton….itu adalah bingkai atau pigura.

    Tapi kalau menurut saya,,,penampilannya terlalu minimalis dan terlalu dekat dengan tempat duduk atau objek di belakang pigura, sehingga kesan fhotonya sedikit aneh.

    seharusnya diletakkan 2 atau 3 meter kedepan dari tempat asalnya, sehingga ,,jika ada yang mengunakan pigura tersebut akan terlihat jalan atau sesuatu lain diarea sebatas kaki.

    masak sich….orang duduk dibingkai fhoto ? kan sedikit aneh dan kurang enak di lihat, kalau memang ingin dari awal pembuatan pigura untuk sebagai tempat fhoto, padahal pemandangan dibelakangnya cukup memukau.

    kalau seandainya bangku dipigura dilepas dan dibelakang teratai ada sebuah perahu, mungkin peranan bingkai fhotonya akan lebih berfungsi dan sangat menarik.

    itu menurut saya…sich…tapi ide pembuatannya cukup brilian…

    • Senyummm…:D

      Pernah lihat bingkai foto yang ruwet bin rumit? Jawabnya tidak! Bingkai foto adalah bingkai foto dan bentuknya memang harus sederhana. Kalau rumit, maka justru akan mempengaruhi subyek yang difoto. Itu inti bingkai foto.

      Soal 2-3 meter ke depan, tidak juga. Justru pengaturan fokus akan susah kalau dimajukan 2-3 meter ke depan. Keindahan danau guntingnya akan berkurang. Padahal salah satu penekanan utamanya adalah keindahan danau Guntingnya. Kalau posisi di 2-3 meter di belakang , hasilnya di bagian belakang akan terlihat area 2-3 meter tanpa pemandangan dan juga kemungkinan besar orang lewat yang justru mengganggu pemandangan Danau Gunting.

      Soal duduk, nah itu kesalahan pandang Kang Nata. Bingkai itu kosong dan isinya ditentukan oleh yang memakai. Terserah bagaiaman yang mau memotret dengan gaya apa, dan cara apa. Memotret bukan tentang lokasi, tetapi tentang ide yang ada di kepala. Mau sambil duduk, mau sambil tidur. Jadi, berkreasi dalam bingkai yang ada. Ada banyak sudut pemotretan yang bisa menghasilkan foto yang bagus disitu.

      Teknik framing tidak berarti harus membingkai persis seperti foto di dinding. Teknik ini untuk memberikan fokus imajiner dalam foto. Jadi, jangan berpikir seakan-akan harus seperti bingkai foto di dinding dan hanya bisa dipotret sebatas bingkai saja.

      Bagi saya, justru cara pandang Kang Nata menunjukkan si akang belum paham fungsinya dan belum bisa memadukan antara ide, teknik, dan lokasi. Posisinya sangat pas sekali menurut saya mengingat landscapenya.

LEAVE A REPLY