Ritual sungkeman adalah sebuah ritual yang biasa ditemukan dalam prosesi perkawinan di banyak budaya di Indonesia, salah satunya adalah suku Sunda. Dalam prosesi ini, sepasang pengantin, pria dan wanita akan bersimpuh di hadapan orangtua dari kedua keduanya.

Kedua tangan akan dikatupkan (seperti sedang berdoa) dan kemudian kepala mereka ditundukkan atau diletakkan di pangkuan orangtua mereka.

Sungkeman bermakna banyak hal :

  1. Memohon doa restu dari para orangtua karena sang pasangan akan menempuh hidup baru dengan harapan restu itu akan membuat mereka bisa mencapai tujuan yang diinginkan
  2. Mengajukan permohonan maaf kepada para orangtua untuk segala kesalahan yang diperbuat selama berada di bawah pengasuhan
  3. Menghaturkan terima kasih kepada para orangtua untuk segala pengasuhan, ilmu pengetahuan yang telah membuat mereka menjadi seperti saat ini

Oleh karena itu ritual sungkeman adalah bagian “wajib” yang akan selalu ada di dalam sebuah acara perkawinan. Sesederhana apapun acaranya, ritual sungkeman tidak akan dihilangkan. Maknanya terlalu dalam.

Prosesi sungkeman pun juga dikenal di masyarakat dalam acara lain, yaitu saat Idul Fitri ketika anak memohon maaf kepada orangtuanya.

Pernahkah melihat acara sungkeman di luar kedua waktu tersebut? Terus terang jarang sekali.

Baru kali ini acara sungkeman terlihat di luar dua pakem standarnya. Agak berbeda dan tidak biasa, yaitu pada acara Perpisahan SMP dan SMA Borcess atau Bogor Center School 2016-2017.

Dua pasangan siswa, berbaju ala pengantin Sunda semi tradisional, melakukan sungkeman di depan ribuan tamu. Tentunya, keduanya bukan pasangan pengantin. Kedua pasangan berasal dari SMP dan SMA Borcess dengan nilai hasil ujian terbaik. Pasangan-pasangan ini mewakili ratusan siswa yang lulus pada tahun ini.

Mereka sungkem kepada para petinggi sekolah, seperti pemilik Yayasan Muztahidin Al Ayubi, pengelola sekolah, kepala sekolah, dan juga guru.

Bagus dan memang sudah semestinya. Sesuai dengan filosofi ritual sungkeman dalam masyarakat Sunda.

Bagaimanapun guru, kepala sekolah, dan pengelola adalah “keluarga” dan “orangtua” para siswa saat berada di sekolah. Mereka adalah wakil dari para orangtua sebenarnya dalam mendidik anak dengan pengetahuan formal.

Sebagai sebuah keluarga, para siswa tentunya sudah banyak melakukan kesalahan yang mengesalkan para guru. Juga, mereka mendapat banyak ilmu dan pengetahuan selama bersekolah disana. Sudah seharusnya mereka menghaturkan permohonan maaf dan ucapan terima kasih.

Perpisahan atau pelepasan siswa juga merupakan momen yang tepat. Tidak berbeda jauh dengan ritual sungkeman dalam perkawinan, para siswa akan menempuh “hidup baru” dalam perjalanan hidupnya. Mereka akan masuk ke tingkat selanjutnya dan mungkin di tempat yang baru.

Klop.

Jadi, sebuah bentuk acara perpisahan yang bagus sekali dan cukup bermakna. Sebuah hal yang patut ditiru saat sebuah sekolah melepas murid-murid mereka. Dengan begitu, akan terbentuk sebuah tradisi yang bisa menjaga agar ritual sungkeman bisa tetap langgeng di tanah Sunda.

Yang pasti kalau ada yang mau melihat ritual sungkeman, tidak perlu lagi menunggu ada orang menikah.

LEAVE A REPLY