Jalan Merdeka Bogor
Jalan Merdeka Bogor

Nama Cikeumeuh pasti jarang didengar oleh banyak orang. Padahal itu adalah nama sebuah sungai yang berhulu di sekitar kawasan Menteng Bogor, Nama itu juga adalah nama jalan yang dikenal sekarang sebagai jalan Merdeka.

Ya nama jalan Merdeka sebelumnya adalah Cikeumeuh Weg karena posisinya bak sejajar dengan sungai tersebut.

Pangkal jalan Merdeka ada di utara di pertemuan dengan jalan RE Martadinata , Tentara Pelajar dan jalan Manunggal. Ujungnya berada di pertemuan dengan jalan Kapten Muslihat, di Jembatan Merah. Bisa dikata posisinya paralel dengan jalan Sudirman. Panjangnya lebih panjang sedikit sekitar 1,500-1,750 Meter.

Jalan ini memiliki lebar sekitar 8 meter yang terdiri dari dua jalur.

——-

Jalan Merdeka Bogor
Markas Kodam III Siliwangi di jalan Merdeka

Jalan Merdeka memiliki dua sisi yang berbeda 180 derajat. Di pangkalnya sampai sebelum bekas Bioskop Presiden, situasinya masih tidak terlalu ramai. Meskipun terdapat berbagai bisnis tetapi kebanyakan memanfaatkan rumah-rumah tinggal. Hanya ada satu dua pertokoan yang dibangun.

Sebaliknya di area setelah Bioskop Presiden, hampir seluruhnya terdiri dari bangunan bisnis. Apalagi di bagian yang berdekatan dengan Terminal Merdeka dan Jembatan Merah. Keramaian tak kunjung henti siang dan malam.

Perbedaan juga terlihat dimana di pangkal jalan Merdeka terkesan sejuk dan teduh karena rindangnya pepohonan, di ujungnya terasa panas karena bisa dikata gundul dari pepohonan.

Begitu pula bentuk bangunan di sepanjang jalan. Di bagian yang berdekatan dengan pertigaan, masih bisa terlihat beberapa bentuk bangunan bernuansa Bogor masa lalu. Ada dua bangunan yang menonjol yaitu yang sekarang menjadi Kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (PPPTP) dan Markas Kodam III Siliwangi.

Sebaliknya bangunan modern memenuhi area di ujungnya. Walaupun ada satu bangunan kuno yang tersisa yang sekarang menjadi Museum Perjuangan yang dulunya adalah milik seorang pengusaha Belanda.

———

Jalan Merdeka Bogor
Ujung Jalan Merdeka dekat Jembatan Merah

Memang sulit dihindari perbedaan ini karena sudah sejak awalnya kedua kawasan di jalan Merdeka bak disetting untuk tujuan yang berbeda. Yang berada di pangkal memang dikembangkan sebagai kawasan untuk pengembangan pertanian .

Gedung yang sekarang menjadi PPPTP sebelumnya adalah Balai Besar Penyelidikan Pertanian (Algemeen Proefstation voor den Landbouw) yang berdiri tahun 1918. Sedangkan gedung Museum Perjuangan di ujungnya sempat menjadi gudang komoditi pertanian untuk ekspor ke negara-negara Eropa.

Jadi di pangkal merupakan kawasan “penghasil” sedangkan “ujungnya” menekankan sisi komersil.

Perbedaan semakin terasa ketika terminal angkot di Bogor dipindahkan dari tempat yang sekarang menjadi Taman Topi ke Terminal Merdeka sekarang tahun 1990-an. Aktifitas manusia dan bisnis meningkat di kawasan ujung jalan Merdeka. Lebih lagi ketika Pusat Grosir Bogor berdiri di tahun 2003, suasana perbisnisan meningkat lebih pesat di ujung jalan Merdeka.

——-

Begitulah kesan yang tertangkap ketika menyusuri jalan Merdeka. Keteduhan dan ketenangan di pangkalnya akan segera berubah menjadi sebuah keramaian ketika sampai ke ujungnya. Jalan ini bak Jekyll dan Hyde.

Jalan Merdeka Bogor
Toko Singer salah satu toko tua yang ada di ujung Jalan Merdeka

Apa yang bisa ditemukan di jalan Merdeka?

  • Kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
  • Markas Kodim III Siliwangi
  • (Bekas) Bioskop Presiden
  • Museum Perjuangan Bogor
  • Terminal Merdeka
  • Kantor PGN (walau beralamat di jalan MA Salmun satu sisinya berada di jalan Merdeka)
  • Apollo Meubel (salah satu toko furniture yang tertua di Bogor)
  • Pertokoan Jembatan Merah (Toko Buku Naga Makmur-dulu namanya Naga Mulia, Meita , Toko Singer dan lain sebagainya)

Cara menuju jalan Merdeka

– Dari Stasiun Kereta, menuju ujung jalan Merdeka bisa dilakukan dengan berjalan kaki ke arah kanan jalan Kapten Muslihat

– Dari pangkalnya bisa dilakukan dengan naik angkot no 12 Merah

– Secara resmi tidak ada jalur angkot yang menyusuri jalan ini dari ujung ke pangkalnya. Angkot dari terminal Merdeka harus berbelok ke arah jalan MA Salmun. Hanya seringkali angkot no 07 dan 12 Merah memilih untuk keluar jalur dan berangkat dari terminal Merdeka langsung ke arah pangkal jalan Merdeka

– Becak tersedia di sepanjang jalan ini dan diperbolehkan melintasinya

– Delman dari Pasar Anyar masih sering terlihat melewati jalan Merdeka ini

LEAVE A REPLY