Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea

 

Posisinya “nyempil“. Kalau tidak terbantu oleh sebuah papan bertuliskan namanya, Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea mungkin akan sudah terlewat. Lokasinya berada di jalan raya dimana Pasar Lama Ciampea berada membuat bangunannya tertutupi ramainya aktifitas jual beli , bangunan toko, dan rumah penduduk. Apalagi struktur bangunannya sendiri tidak terlalu menjulang, sehingga akan sulit untuk menemukan cirinya kalau dari atas kendaraan bermotor. Terutama kalau Anda mempergunakan sepeda motor dimana mata harus selalu awas menghindari orang yang lalu lalang.

 

Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea, istilah ini akan dipakai dalam tulisan ini untuk membedakannya dengan Kelenteng Hok Tek Bio yang satu lagi yang ada di Bogor, yaitu yang berada di Jalan Suryakencana.  Kalau Anda sudah membaca salah satu tulisan terdahulu yaitu tentang  Vihara Dhanagun – simbol keberadaan, maka Anda sudah pasti tahu bahwa kelenteng tertua, dan berusia 250-300 tahun ini juga memiliki nama dalam bahasa Cina, Hok Tek Bio. Dalam bahasa Cina Hokkian, Hok Tek Bio bisa diterjemahkan sebagai tempat ibadah berlimpah rejeki dan kebaikan.

Kesamaan Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea dengan Hok Tek Bio di Jalan Suryakencana

Sama dengan koleganya di Jalan Suryakencana, Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea memiliki beberapa kemiripan, selain namanya. Kemiripan tersebut

1. Terletak di sebuah lokasi yang berdekatan dengan sebuah pasar.

Kelenteng Hok Tek Bio CiampeaHok Tek Bio Ciampea, berada persis di Pasar Ciampea Lama, sedangkan yang satunya lagi berlokasi di sebelah Pasar Bogor.

Sebenarnya kesamaan ini berlaku untuk hampir semua kelenteng di Indonesia. Mayoritas tempat ibadah ini terletak di lokasi dimana banyak orang berjual beli, alias pasar. Dari sisi budaya, hal ini kemungkinan besar terkait dengan “pasar” dari kelenteng itu sendiri.

Biasanya masyarakat pasar cenderung akan lebih rajin berdoa demi kelancaran usaha mereka. Hanya, tentu saja para pelaku pasar ini tidak memiliki cukup banyak waktu untuk mengunjungi tempat ibadah. Oleh karena itu, dengan dekatnya letak kelenteng dengan lokasi pasar akan memungkinkan mereka-mereka ini dapat tetap berdoa sekaligus tidak perlu meninggalkan tempat mereka berjualan.

2. Keduanya adalah Kelenteng beraliran “Tri Dharma”.

Tri Dharma sebenanrya bukanlah sebuah aliran. Tri Dharma terdiri dari tiga aliran kepercayaan yang banyak dipeluk oleh kaum Tionghoa/Cina di perantauan. Ketiga aliran tersebut adalah Budha, Taoisme dan Konfusianisme.  Mengapa ketiga aliran tersebut dijadikan satu dalam sebuah Kelenteng adalah karena lahan yang dimiliki kaum Tionghoa perantauan sangat sedikit. Oleh karena itu mereka harus memaksimalkan lahan yang mereka punyai untuk tempat ibadah agar dapat dipergunakan sebanyak mungkin kaum dari etnis mereka.

Ciri khas dari kelenteng Tri Dharma adalah variasi altar yang ada di dalamnya. Biasanya akan ditemukan altar Budha dan saat bersamaan beberapa altar lainnya dari dua aliran kepercayaan lainnya, yaitu Tao dan Kunghucu. Berbagai hal ini bisa dilihat dalam Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea.

Sejarah Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea

Kelenteng Hok Tek Bio CiampeaKelenteng Hok Tek Bio sendiri banyak menimbulkan pertanyaan bagaimana sebuah budaya Tionghoa bisa merambah jauh ke pedalaman Bogor. Ciampea berada cukup jauh dari pusat kota Bogor dan sistem lokalisasi yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda ketika berkuasa sangat ketat.

Kaum Tionghoa/Cina pada masa tersebut tidak bisa secara bebas berinteraksi dengan kaum pribumi. Hal tersebut bisa dilihat dari penyebaran etnis di kota Bogor yang masih menyisakan ciri khas masa lalu (walau sudah jauh berbeda). Julukan Empang sebagai kawasan Arab, atau Jalan Suryakencana sebagai wilayah kaum Tionghoa adalah sisa-sisa politik pengotakan di masa Hindia Belanda.

Hal ini berbeda dengan kondisi di sekitar Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea. Kaum Tionghoa sangat berbaur dengan masyarakat pribumi sekitar. Tidak terlihat sisa pengkotakan pada masa lalu. Berbagai agama mulai dari Islam, Budha,Kristen seperti berbaur di lingkungan ini.

Pembauran di sekitar wilayah dimana Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea berada besar kemungkinan diakibatkan oleh asal dari kaum Cina/Tionghoa Ciampea. Ada sebuah versi sejarah Ciampea yang menyebutkan bahwa area ini pernah memiliki ada seorang raja bernama Campaladirja yang berasal dari kerajaan Campa di perbatasan Vietnam dan Cina/Tiongkok. Hal ini memang belum merupakan sebuah kepastian mengingat terbatasnya data sejarah terkait banyak tempat di Bogor.

Terkait dengan sejarah Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea sendiri, berdasarkan penuturan dari salah seorang penjaga kelenteng, bapak Ungki, disebukan pendirinya bernama Thung Tiang Mie (1793-1856). Ia memiliki nama Indonesia yaitu Tubagus Abdullah Bin Moestopa.

Tidak ada data pasti pada tahun berapa Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea didirikan. Hanya menilik tahun lahir sang pendiri, bisa dipastikan bahwa Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea berdiri di abad ke-19. Umurnya berselisih antara 50-100 tahun dibandingkan dengan kelenteng bernama sama di Pasar Bogor.

Meskipun demikian sudah jelas dari umurnya, Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea sudah berumur ratusan tahun yang berarti memang sudah wajib dimasukkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya.

Kalau dilihat dari sebuah foto lama yang terpajang di sala satu dinding kelenteng, nama Hok Tek Bio mungkin adalah sebuah nama yang baru-baru ini dilekatkan pada tempat ibadah ini. Foto lama tersebut bertuliskan “Hok Tek Cheng Sin Ps Tjiampea”. Ada kemungkin bahwa nama aslinya adalah Hok Tek Cheng Sin (atau juga Hok Tek Tjen Sien atau Hok Tek Ceng Sin) yang merupakan nama Dewa Utama di kelenteng ini. Hok Tek Cheng Sin adalah Dewa Bumi.

Salah satu altar yang terdapat dalam Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea ini adalah altar Hok Tek Cheng Sin.

Profil Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea

Ukuran

Dari segi ukuran, Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea terlihat sedikit lebih sempit dibandingkan Hok Tek Bio Pasar Bogor.

Arsitektur

Kelenteng Hok Tek Bio CiampeaNuansa merah ala budaya kaum Tionghoa mendominasi bangunan ini. Sama dengan kelenteng bernama sama di Jalan Suryakencana, gerbang depannya dijaga oleh dua patung Singa Penjaga. Bedanya adalah di Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea, kedua patung ini terbuat dari logam sedangkan di Hok Tek Bio Pasar Bogor terbuat dari batu.

Selain itu, pada bagian atapnya terdapat dua buah patung naga atau Liong. Hal ini tidak terdapat pada kelenteng Hok Tek Bio satunya. Kalau melihat dari foto di masa lalunya, Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea tidak memiliki dua figur naga ini di masa lalu. Besar kemungkinan dua figur naga ini merupakan tambahan ketika dilakukan renovasi

Dinding Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea tidak memiliki ukiran timbul legenda Sun Go Kong.

Bagian dalamnya sederhana. Selain tiang-tiang besar berwarna merah hanya terdapat beberapa meja untuk pengunjung melakukan sembahyang. Guci tempat meletakkan hio akan menyambut pengunjung ketika memasukinya. Beberapa lampion berwarna merah tergantung di langit-langit kelenteng.

Terdapat tiga ruang sembahyang, dua yang akan ditemukan pengunjung ketika memasuki dan satu di posisi agak tersembunyi, yaitu di bagian belakang. Ruang sembahyang utama akan ditemukan begitu memasuki gerbang utamanya. Di ruang inilah tiga altar utama Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea berada.

Kelenteng Hok Tek Bio CiampeaDi ruang sebelahnya, di kanan dari pintu masuk (tetapi juga memiliki pintu masuk sendiri), terdapat 4 altar lain dengan beberapa nama dewa kaum Tionghoa.

Ruang terakhir yang berada di bagian belakang, adalah ruang Eyang Raden Suryakencana. Nama ini bukanlah berasal dari salah satu aliran kepercayaan Tri Dharma. Justru nama terakhir ini kental dengan Bogor.

Eyang Raden Suryakencana dipercaya masyarakat Bogor sebagai karuhun (jiwa nenek moyang) masyarakat Sunda. Konon, ia bersemayam di puncak Gunung Gede.

Kepercayaan di Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea

Dewa Utama atau Tuan Rumah di Kelenteng Hok tek Bio Ciampea seperti sudah disebutkan sebelumnya adalah Hok Tek Cheng Sin, Dewa Bumi.  Dewa ini dipercaya sebagai dewa pelindung kaum miskin. Bila seorang petani bersembahyang di altarnya, dewa ini dipercaya akan memberikan panen berlimpah. Hewan ternak yang dipelihara seorang peternak dipercaya akan berkembang biak dengan subur. Begitu pula dengan pedagang, profesi yang banyak dilakukan kaum Tionghoa/Cina, bila bersembahyang di altar ini ia akan mendapatkan keuntungan besar dalam perdagangannya.

Selain itu masih terdapat beberapa dewa lain yang menunjukkan beberapa kepercayaan yang ada dalam masyarakat Tionghoa, yaitu Dewi Kwan Im Po Sat atau Patung Dewi Kwan Im. Patung ini dipercaya merupakan perwujudan Budha yang welas asih di Asia Timur.

Terdapat pula altar Kwan Kong, seorang Jenderal di masa Sam Kok (Tiga Negara, 165-219 Masehi). Ia dipercaya sebagai orang suci  dan teladan bagi kesetiaan, keberanian dan kebenaran oleh penganut Konfusianisme. Ia juga dianggap sebagai Dewa Pelindung Kuil oleh penganut Budha dan sebagai Dewa Pelindung Peperangan oleh penganut Tao.

Ruang altar Eyang Raden Suryakencana, ini menunjukkan betapa asimilasi budaya telah terjadi di dalan Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea. Disini terlihat bahwa kaum Tionghoa menghargai dan menghormati apa yang masyarakat setempat percayai.

Lain-lain

– dalam komplek Kelenteng Hok tek Bio Ciampea, terdapat bangunan yang dipergunakan oleh Majelis Agama Konghucu Indonesia. Posisinya berada di sebelah kiri pintu masuk utama

– terdapat kumpulan foto-foto lama kelenteng-kelenteng yang ada di Indonesia di dinding kanan ketika Anda memasuki ruang altar utama

– beberapa lukisan dan deretan lilin menyala juga terdapat di dalam ruang utama

Cara menuju Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea

Dari Stasiun Bogor

Pergunakan angkot no 03 Merah yang mengarah ke Terminal Laladon. Anda harus menyeberang melalui Jembatan Penyeberangan Kapten Muslihat untuk mendapatkannya. Berhenti di terminal Laladon.

Lanjutkan dengan menggunakan angkot no 05 Biru bertuliskan Ciampea. Jangan salah naik karena terdapat 3 variasi jurusan dalam trayek angkot bernomor ini, yaitu Jasinga, Kampus Dalam dan Ciampea. Masing-masing mengarah ke tujuan yang berbeda.

Sayangnya sekarang angkot ini banyak yang berakhir di Terminal Ciampe dan Pasar Ciampea Baru. Oleh karena itu pastikan kepada supir bahwa angkotnya akan menuju Pasar Ciampea Lama.

Kelenteng Hok Tek Bio CiampeaDari Terminal Baranangsiang

Naik Bus Trans Pakuan dan berhenti di Terminal Baranangsiang. Lanjutkan dengan angkot 05 biru sama seperti bila berangkat dari Stasiun Bogor. Beberapa angkot akan memasuki terminal ini. Kalau tidak ada, maka Anda harus berjalan kaki sedikit ke arah pertigaan Sindang Barang dan Jalan Raya Dramaga.

Menggunakan kendaraan pribadi

Baik dengan menggunakan motor atau mobil, maka tempat yang harus Anda tuju adalah semua jalan yang mengarah ke Kampus IPB Dramaga atau Terminal Laladon dan Baranangsiang. Lovely Bogor sudah menulis cara menuju ke Kampus IPB Dramaga dalam tulisan sebelumnya dan Anda bisa memanfaatkan fasilitas search pada website ini.

Selebihnya akan sama, Anda tinggal mengikuti angkot no 05 Biru.

Kendaraan terbaik yang paling cocok dipergunakan adalah sepeda motor. Banyak lokasi yang mengarah ke Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea merupakan daerah rawan macet, seperti Jalan Raya Dramaga atau Pasar Ciampea Lama. Selain itu setelah selesai berkunjung ke kelenteng ini, bisa dengan mudah melanjutkan ke Prasasti Tapak Gajah atau Situs Kebon Kopi yang tidak jauh letaknya dari Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea.

2 COMMENTS

  1. Ternyata klenteng ini umurnya cukup tua ya mas anton, sejak abad 19 padahal sekarang telah abad 21 🙂

LEAVE A REPLY