
Bogor, Jabar – Kalau kita ngobrolin soal Bogor, yang kebayang pasti Kebun Raya, macetnya Puncak, atau sejuknya udara. Tapi, coba deh kita undurkeun (mundurkan) sedikit jarum jam sejarah, ke masa Kerajaan Pajajaran yang agung.
Dina jaman baheula (Pada zaman dahulu), Pajajaran itu bukan sekadar nama. Ia adalah puncak kejayaan peradaban Sunda, yang konon lenyap tanpa darah, ngahiyang (menghilang) ke alam lain, bersama Prabu Siliwangi dan seluruh isinya.
Nah, dari ngahiyang-nya kerajaan inilah muncul banyak dongéng (cerita) yang sampai sekarang masih matak pélékéték (membuat penasaran) dan bikin bulu kuduk mérinding (merinding). Salah satunya, soal nasib para putri dan dayang Pajajaran. Konon, mereka tak benar-benar hilang, melainkan bertransformasi menjadi “Dayang” Alam Gaib yang menjaga berbagai tempat sakral di Tatar Sunda.
Siapa Mereka Sebenarnya?
Jangan bayangkan mereka sebagai hantu gentayangan, tah! Dalam kepercayaan Sunda, khususnya yang menjaga tradisi leluhur, para putri dan dayang ini dipercaya sebagai sosok yang linuhung (sakti/berkarisma), memiliki kecantikan yang tak lekang dimakan waktu, dan menjalankan tugas mulia: menjaga keseimbangan alam dan gerbang gaib bekas wilayah Pajajaran.
Cerita yang paling santer, tentu saja, selalu terhubung dengan tempat-tempat yang dikeramatkan di sekitar Bogor dan Jawa Barat, seperti:
- Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango: Dikenal sebagai tempat pamoksan (menghilangnya) sebagian besar keluarga kerajaan. Konon, para mojang (gadis/putri) inilah yang menjadi pelayan spiritual bagi para leluhur di puncak-puncak tersebut. Mereka yang menjaga batas antara dunia nyata dan dunia yang tak kasat mata.
- Situ-Situ (Danau) dan Curug-Curug (Air Terjun): Banyak danau dan air terjun di Jawa Barat yang dipercaya dijaga oleh sosok putri. Sering disebut sebagai Nyi Mas Ratu atau nama-nama lain yang merujuk pada keturunan bangsawan Pajajaran. Mereka yang mandi di sana konon bisa merasakan hawa kesucian dan kasundaan (kesundaan) yang sangat kental.
Transformasi: Bukan Kutukan, Tapi Tugas Suci
Mengapa mereka disebut “Dayang” Alam Gaib?
Pajajaran ngahiyang saat Islam mulai masuk dan menyebar. Bagi kerajaan Hindu-Sunda yang teguh memegang tradisi karuhun (leluhur), pilihan ngahiyang adalah jalan untuk menjaga jati diri (identitas) dan kajembaran (kebesaran) agar tidak ternodai.
Para putri dan dayang tidak dianggap “dikorbankan”, melainkan “dipilih” untuk melanjutkan tugas spiritual kerajaan. Mereka bertransformasi dari dayang dan putri di istana fisik menjadi penjaga dan pelayan istana gaib. Mereka adalah simbol keabadian Pajajaran, penjaga pusaka dan aji (ilmu/kesaktian) yang tak boleh jatuh ke tangan yang salah.
Tah kitu (Seperti itu)! Kisah ini mengajarkan kita satu hal: kepercayaan terhadap karuhun (leluhur) di Tatar Sunda itu sangat kuat. Alam gaib dan alam nyata di sini seperti dua sisi mata uang yang saling bertautan.
Pesan Moral Ti Karuhun (Dari Leluhur)
Sebagai generasi penerus, kita boleh percaya atau tidak pada kisah ini. Itu hak kita. Tapi, ada satu hal yang tak bisa kita pungkiri: cerita-cerita ini adalah harta karun budaya.
Ketika kita mengunjungi tempat yang dianggap sakral (seperti mata air atau hutan), dan mendengar kisah tentang “Dayang Pajajaran”, sejatinya itu adalah pépéling (pengingat) dari leluhur. Pengingat untuk:
- Menjaga tata krama (sopan santun): Jangan sangeunahna (seenaknya) saat berada di alam terbuka.
- Merawat Alam: Sabab (Sebab), alam adalah warisan, dan dengan menjaga alam, kita menghormati tempat peristirahatan para leluhur.
Wilujeng wengi (Selamat malam). Semoga dongéng ini bisa menambah wawasan (wawasan) kita tentang kekayaan misteri dan budaya Tanah Sunda. Hatur nuhun (Terima kasih) sudah menyimak, dulur!