
Bogor—Istana Kepresidenan Bogor, atau yang dulu dikenal sebagai Paleis te Buitenzorg, adalah salah satu warisan sejarah paling menawan di Tatar Sunda. Tersembunyi di balik rimbunnya Kebun Raya Bogor, Istana ini seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang Indonesia.
Melihat foto Istana Bogor tahun 1915 (era kolonial) dan membandingkannya dengan kondisi di tahun 2017, bangunan utamanya memang terlihat nyaris sama. Arsitektur Neoklasik bergaya Eropa abad ke-19 yang gagah itu seakan tak lekang oleh waktu. Tapi, kalau kita amati dengan jeli pisan, ada detail-detail kecil yang bikin kita terperangah.
Penasaran? Yuk, kita bedah perbedaannya!
Fungsi yang Berubah, Jati Diri yang Menguat
Sebelum membahas arsitektur, perbedaan paling mendasar tentu ada pada fungsi dan pemiliknya.
- Dulu (1915): Istana ini adalah tempat peristirahatan dan kantor resmi bagi 38 Gubernur Jenderal Belanda. Nama Buitenzorg sendiri punya makna “tanpa kekhawatiran” atau “bebas dari masalah”—sebuah tempat pelarian yang asri dari hiruk pikuk Batavia.
- Kini (2017): Istana Bogor menjelma menjadi salah satu Istana Kepresidenan Republik Indonesia, lambang kedaulatan negara. Ia menjadi kantor sekaligus kediaman yang sejuk bagi Presiden RI, dan tempat menjamu tamu-tamu negara. Ini adalah perubahan fungsi yang paling nyata dan membanggakan!
Fokus pada Perbedaan Arsitektur dan Lingkungan
Setelah dibangun kembali pada tahun 1850 (karena rusak parah akibat gempa Gunung Salak 1834), Istana Bogor dirancang menjadi bangunan satu lantai agar lebih tahan gempa. Ini sebabnya bangunan di tahun 1915 dan 2017 terlihat memiliki bentuk dasar yang sama.
Namun, di antara kedua foto tersebut, ada satu bagian yang langsung menarik perhatian: Kubah Atap Tengah di Gedung Induk.
| Fitur yang Dibandingkan | Foto Jadul (1915) | Foto Kekinian (2017) |
| Kubah Atap Tengah | Jangkung dan Menonjol. Kubah (Cupola) terlihat lebih tinggi, memiliki struktur yang lebih tebal dan bertingkat, tampak dominan di atas atap utama. | Rendah dan Proporsional. Kubah terlihat lebih landai, lebih ramping, dan tampak lebih menyatu dengan keseluruhan atap, memberikan kesan yang lebih kokoh dan minimalis. |
| Kolam Depan | Penuh Tanaman Air. Kolam besar di latar depan tampak dipenuhi oleh tanaman teratai (padma) atau tanaman air lainnya, sesuai dengan statusnya yang berdekatan dengan ‘s Lands Plantentuin (Kebun Raya). | Kolam Pantulan (Reflecting Pool). Kolam terlihat bersih dan terawat, berfungsi sebagai cermin air yang memantulkan keindahan Istana, menjadikannya latar foto yang instagenic. |
| Halaman dan Patung | Halaman depan tampak luas dengan pepohonan, fokus utamanya adalah bangunan Istana dan kolam. | Halaman kini dihiasi dengan patung-patung koleksi seni, seperti patung perunggu di pinggir kolam (di foto 2017 terlihat samar), memperindah lanskap kepresidenan. |
| Pohon Raksasa | Meskipun sudah ada pohon-pohon besar, fokus foto 1915 adalah bangunan. | Pohon-pohon raksasa di sekitar Istana, terutama di sisi kolam, terlihat lebih rimbun dan dewasa, menunjukkan usia yang makin tua (sepuh), memberikan kesan teduh khas Kota Hujan. |
Kesimpulan: Istana Bogor, Warisan yang Terawat
Meskipun usianya sudah lebih dari satu abad, Istana Bogor menunjukkan bahwa arsitektur klasik bisa bertahan dan beradaptasi. Perubahan kecil pada kubah dan penataan lingkungan menunjukkan upaya untuk menjaga keindahan sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan dan estetika modern, tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.
Dari Paleis te Buitenzorg di masa Walanda (Belanda) hingga menjadi Istana Kepresidenan RI di masa kini, Istana Bogor tetap menjadi tempat yang endah pisan (indah sekali) dan penuh makna. Ini adalah bukti bahwa kita, sebagai bangsa, senantiasa menjaga dan merawat warisan yang telah dititipkeun (dititipkan) oleh sejarah.

