
Bogor hari ini adalah surga coffee shop. Di setiap sudut kota, urang Bogor bisa menemukan kedai dengan mesin espresso mengkilap yang menyajikan latte, cappuccino, hingga flat white dengan seni latte art yang karakternya hade (bagus karakternya).
Namun, coba kita putar balik waktu ke era 90-an. Jauh sebelum era Third Wave Coffee menyerbu, Bogor punya “Coffee Scene” yang karakternya jauh lebih bersahaja, lebih otentik, dan benar-benar Bogor pisan.
Lantas, seperti apa coffee scene di Kota Hujan saat itu? Dan mampukah hiruk pikuk mesin espresso menggantikan suasana ngopi di masa lalu? Hayu urang (Ayo kita) bahas!
Definisi Coffee Scene Bogor 90-an: Warung dan Gogorowokan
Jika coffee scene saat ini didominasi oleh kafe minimalis dengan musik jazz pelan, maka coffee scene Bogor era 90-an dapat didefinisikan sebagai pertemuan fungsional dengan kehangatan sosiologis.
Pada masa itu, Warung Kopi Tradisional dan Kedai Legendaris adalah venue utamanya. Minuman kopi bukan sekadar gaya hidup, tetapi kebutuhan harian dan sarana bersosialisasi yang merakyat.
Elemen Kunci Coffee Scene 90-an:
- Metode Tubruk adalah Raja: Kopi disajikan dengan cara paling sederhana: bubuk kopi kasar diseduh langsung dengan air panas. Tidak ada portafilter, tidak ada tamper. Rasanya? Pekat, kental, dan mantap pisan! Kopi biasanya adalah jenis Robusta yang strong, sering dicampur sedikit jagung untuk menekan biaya.
- Menu Kopi yang Jujur: Pilihan menu sangat terbatas. Paling banter hanya ada Kopi Hitam/Kopi Pahit dan Kopi Susu (yang manis kental). Kopi single origin dari Gayo atau Toraja masih menjadi barang langka di warung biasa.
- Fungsi Venue: Warung kopi adalah kantor kedua bagi pekerja, ruang meeting informal bagi pedagang di pasar, dan tempat gogorowokan (ngobrol keras/berteriak) politik dan berita bagi bapak-bapak. Kopi adalah pelengkap bagi obrolan yang seru tentang isu hangat, bukan sekadar objek foto.
Warung-warung legendaris seperti yang tersebar di sekitar Jalan Suryakencana atau kedai-kedai sederhana dekat stasiun menjadi saksi bisu, di mana kopi diseruput dari cangkir tebal sambil ditemani gorengan panas atau roti bakar sederhana—perpaduan rasa asin dan manis pahit yang sampai ayeuna (sampai sekarang) masih dicari.
Dilema Modern: Bisakah Mesin Espresso Menggantikan Kehangatan 90-an?
Hari ini, mesin espresso besar mendominasi. Mesin ini adalah simbol efisiensi, presisi, dan konsistensi. Ia mengubah kopi menjadi seni yang terukur dengan takaran 30 mililiter, menciptakan crema sempurna, dan menghasilkan minuman dasar untuk ratusan varian modern.
Mesin Espresso Tidak Akan Menggantikan Scene yang Sama:
Jawabannya adalah Tidak, mesin espresso tidak akan pernah menggantikan coffee scene 90-an secara utuh, dan inilah alasannya:
1. Perubahan Nilai Inti (Core Value)
- 90-an: Nilai intinya adalah Sosial & Ngumpul. Kopi hanya supporting system untuk obrolan, diskusi, dan kebersamaan.
- Era Modern: Nilai intinya adalah Individual & Kualitas Rasa. Kopi itu sendiri adalah subjek utama, diperlakukan sebagai produk specialty yang harus dinikmati dengan fokus pada flavour notes.
2. Perbedaan Tempo dan Ritme (Pace)
Mesin espresso melambangkan kecepatan dan kemewahan (Second Wave & Third Wave Coffee). Konsumen modern ingin kopi cepat, namun tetap berkualitas.
Sementara itu, tubruk di warung 90-an punya ritme yang lambat dan santai. Pengunjung bisa berjam-jam hanya dengan secangkir kopi, menunggu bubuknya turun, tanpa terburu-buru oleh workflow barista yang padat.
3. Hilangnya Konteks Ruang Merakyat
Mesin espresso membutuhkan coffee shop modern dengan pendingin ruangan, pencahayaan temaram, dan desain interior minimalis. Ruang ini, meskipun nyaman, seringkali memisahkan konsumen dari keramaian jalanan dan suasana “pasar” yang otentik.
Scene 90-an berada di warung terbuka, di mana suara gogorowokan pedagang dan soundtrack dangdut dari radio tua menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual ngopi.
Kopi Pisan dan Jembatan Nostalgia
Jadi, apakah ini berarti era espresso adalah hal buruk? Tentu saja tidak. Era modern membawa pengetahuan tentang biji kopi lokal yang luar biasa (Kopi Puntang, Kopi Gunung Salak, dll.) dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Namun, sebagai urang Bogor, kita harus menjaga memori dan tradisi ngopi 90-an sebagai akar budaya kita. Kehadiran kafe-kafe vintage atau retro hari ini, yang menawarkan kopi tubruk sambil memutarkan lagu hits 90-an, adalah cara hade (bagus) untuk menjembatani nostalgia tersebut.
Pada akhirnya, baik espresso maupun tubruk, keduanya menyajikan kehangatan. Hanya saja, tubruk 90-an menyajikan kehangatan dalam konteks komunitas dan kesederhanaan yang mungkin sudah leungit (hilang) di tengah hiruk pikuk latte modern.