HEY, BRO & SIST GEN Z BOGOR! Kenapa Becak Tua Nu Aneh (yang Aneh) Dulu Jadi Raja di Jalanan Buitenzorg? (Cerita Amang)

HEY, BRO & SIST GEN Z BOGOR! Kenapa Becak Tua Nu Aneh (yang Aneh) Dulu Jadi Raja di Jalanan Buitenzorg? (Cerita Amang)

HEY, BRO & SIST GEN Z BOGOR! Kenapa Becak Tua Nu Aneh (yang Aneh) Dulu Jadi Raja di Jalanan Buitenzorg? (Cerita Amang)

Assalamualaikum Wr. Wb. Punten (Permisi) Neng dan Jang!

Duduk sini sebentar, Amang mau ngajak kalian ngopi sambil flashback ke zaman Bogor masih namanya Buitenzorg. Kalian yang sekarang dikit-dikit naik ojol, tahu enggak kalau dulu, raja jalanan itu bukan angkot hijau, bukan delman, apalagi mobil listrik. Tapi, si roda tiga yang suaranya kreok-kreok saat di-gowes: Becak!

Coba lihat, sekarang Becak teh (itu) sudah moal aya (tidak ada) di jalan protokol. Cuma ngumpet (bersembunyi) di sekitar Pasar Anyar, dekat stasiun, atau di jalan gang kecil. Nah, kapan sih si Becak ini pertama kali nongol di tengah-tengah Kota Hujan kita? Yuk, kita bedah sambil ngopi!

🕰️ Kapan Sih Becak Ini Pertama Kali “Nyaba” (Bertamu) ke Bogor?

Kalau ditanya kapan tanggal dan jamnya, Amang enggak punya catatannya. Kami, para orang tua, cuma inget-nya, tahu-tahu aja Becak itu sudah ramé pisan (ramai sekali).

Tapi begini ceritanya Neng dan Jang:

  1. Awalnya Bukan Becak!
    Dulu, sebelum Becak, yang ngetop itu Delman dan Jinrikisha. Kalian tahu Jinrikisha? Itu becak tarik dari Jepang. Jadi, penumpang duduk di depan, kusir-nya (penarik) lari sambil menarik dari depan. Capek pisan atuh (Capek sekali, ya)!
  2. Becak Datang Setelah Zaman Susah:
    Becak yang kita kenal—yang di-gowes dan penumpangnya duduk di depan—ini populer banget di Indonesia setelah masa-masa kemerdekaan, khususnya tahun 1940-an ke atas. Kenapa? Karena murah, enggak butuh bensin, dan bisa masuk gang sempit.
  3. Buitenzorg Jadi Basecamp:
    Nah, di Buitenzorg (Bogor), karena ini kota peristirahatan para Meneer Belanda dan banyak turis, Delman dan mobil mahal itu enggak cukup menjangkau semua sudut kota. Begitu Becak muncul, langsung dipake (digunakan). Apalagi di sekitar Stasiun Bogor dan Pasar Baru (sekarang Pasar Anyar), Becak itu jadi kendaraan andalan pisan. Pokoknya, dari tahun 60-an sampai 80-an, Becak itu Raja!

Amang inget, dulu kalau mau ke Kebun Raya atau ke Istana Bogor, rasanya paling romantis ya naik Becak. Pelan, bisa sambil ngobrol sama Mang Becak-nya, sambil nikmatin udara nu tiis (yang dingin). Enggak kayak sekarang, semua gegabah (terburu-buru) pengen cepat.

4. Kenapa Becak Sekarang “Ngaleungit” (Menghilang)?

Neng dan Jang tahu sendiri, Bogor ini sudah jadi Kota Macet. Becak yang jalannya pelan teh (itu) enggak bisa lagi bersaing sama motor dan angkot.

  • Tahun 2000-an ke atas, Pemerintah Kota Bogor mulai mengurangi Becak di jalan-jalan utama (Jalan Sudirman, Djuanda, Pajajaran). Alasannya klise, sih: menyebabkan kemacetan.
  • Ojol Datang, Becak Tenggelam. Nah, ini yang paling nyesek. Begitu ada ojek online, Becak langsung kalah telak. Mereka enggak punya apps, enggak bisa diakses cepat. Sekarang Becak cuma melayani rute-rute pendek: antar belanjaan dari pasar ke gang perumahan.

5. Prediksi Amang: Masa Depan si Roda Tiga Nu Legend

Becak, sayangnya, moal bisa (tidak akan bisa) jadi moda transportasi utama lagi. Tapi, Amang punya harapan, Neng dan Jang, kalau Becak itu bisa naik kelas:

A. Becak Wisata (The Heritage Mode)

  • Becak enggak perlu ngayuh (mengayuh) di jalanan macet. Becak bisa jadi atraksi wisata eksklusif di area tertentu, misalnya di dalam area Kebun Raya, atau khusus rute Wisata Sejarah di Surya Kencana.
  • Becaknya dihias nu lucu pisan (yang lucu sekali), penariknya pakai baju adat Sunda yang kasep (ganteng), dan tarifnya mahal sekalian, karena yang dijual adalah pengalaman, bukan kecepatan.

B. Becak Motor Listrik (The New Bemo)

  • Ini inovasi nu kudu (yang harus) ada! Becak dikasih motor listrik kecil, jadi Mang Becak-nya enggak perlu ngos-ngosan (terengah-engah) tapi tetap ramah lingkungan.
  • Ini bisa jadi Solusi Transportasi Jarak Pendek di area perumahan atau kampus yang macet pisan, tapi enggak bisa masuk mobil.

Pokoknya, Neng dan Jang! Jangan lupakan si Becak ini, ya. Becak itu saksinya (saksi) sejarah Kota Bogor. Dari dia, kita belajar kalau teknologi boleh maju, tapi kearifan lokal kudu (harus) tetap dihargai.

Sok, sekarang lanjut lagi main HP-nya. Amang mau ngopi dulu sambil ngelihatin sisa-sisa Becak di jalanan nu sepi (yang sepi) ini. Hatur Nuhun (Terima kasih)!

Mari Berbagi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.