
Siapa Sangka, Ada Sentuhan “Seniman Abadi” di Balik Koleksi Mamalia Raksasa Museum Zoology Bogor
Sampurasun! (Permisi/Salam hormat!)
Pernah ke Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang lokasinya ada di pusat Kota Bogor? Kalau pernah, pasti mata kalian langsung tertuju pada koleksi mamalia raksasa yang terpajang gagah di etalase kaca. Mulai dari harimau Jawa yang kini tinggal kenangan, banteng, badak, sampai yang paling bikin waas (terkesan/terkenang) adalah gajah dan rusa besar dengan tanduk menjulang.
Mereka terlihat seperti baru saja tidur, bukan? Tubuhnya utuh, kulitnya seolah masih bertekstur, bahkan ekspresinya pun masih terlihat nyata. Tapi tahukah kalian, di balik keindahan dan keutuhan display itu, ada sebuah proses panjang dan rumit yang disebut Taxidermy?
Ini bukan sekadar mengawetkan, dulur (saudara). Ini adalah seni, ilmu pengetahuan, dan dedikasi luar biasa dari para “seniman” yang bertugas mengabadikan kehidupan setelah kematian. Yuk, kita bedah carita (kisah) di balik prosesnya!
‘Seni Awet’ dari Masa Lampau: Taxidermy di Museum Zoology Bogor
Taxidermy sendiri berasal dari bahasa Yunani, taxis (pengaturan) dan derma (kulit). Intinya, seni penataan kulit. Di MZB, yang merupakan salah satu museum zoologi tertua di Asia Tenggara, proses pengawetan ini sudah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda.
Koleksi mamalia raksasa yang kalian lihat hari ini adalah bukti nyata dari keahlian yang diwariskan turun-temurun. Meskipun jarang terpublikasi, ada beberapa nama yang patut kita apresiasi karena perannya yang krusial.
Salah satu periode penting adalah pasca-kemerdekaan. Nama-nama seperti Soekarman (alm.) dan Mas Djamali (alm.) dikenal sebagai taxidermist senior yang punya peran besar dalam merawat dan menambah koleksi, termasuk memastikan mamalia besar tetap prima. Ada juga nama Bapak Soeprapto dan Bapak Soejoto yang aktif sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an, yang terus menjaga kualitas koleksi, tak terkecuali mamalia berukuran besar.
Bayangkan, mereka bekerja di masa yang minim teknologi canggih. Keahlian, ketelitian, dan kesabaran adalah modal utama mereka!
Membuat ‘Abadi’: Proses Taxidermy yang Rumit
Bagaimana sih seekor Gajah atau Rusa raksasa bisa diawetkan utuh seperti itu? Jelas bukan cuma disuntik formalin, atuh (dong)! Prosesnya luar biasa detail, dan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi.
- Pengulitan dan Pengukuran: Hewan yang mati (biasanya karena alami, sakit, atau donasi dari kebun binatang/penyelamatan) akan diukur secara detail dari ujung hidung sampai ekor, termasuk lingkar tubuh, agar bentuk aslinya tidak hilang. Kemudian, kulitnya dikuliti dengan sangat hati-hati, jangan sampai robek.
- Pembersihan dan Penyamakan Kulit (Tanning): Ini bagian krusial! Kulit harus dibersihkan total dari sisa lemak dan daging, lalu diberi bahan kimia khusus (proses penyamakan) untuk mencegah pembusukan dan membuat kulit elastis serta tahan lama. Proses ini bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan untuk mamalia besar.
- Pembuatan Manekin/Form: Karena bagian dalam (otot dan rangka) dihilangkan, tubuh hewan diganti dengan manekin. Dahulu, manekin ini dibuat dari rangka kayu yang dilapisi jerami, diisi dengan kapas/bahan organik lain, lalu dibentuk sesuai ukuran aslinya. Kini, taxidermist modern menggunakan manekin yang dicetak dari polyurethane atau fiberglass yang lebih ringan dan akurat.
- Pemasangan Kulit: Kulit yang sudah diolah kemudian ‘dipakaikan’ ke manekin. Bagian-bagian detail seperti mata diganti dengan mata buatan (kaca atau plastik) yang dicat menyerupai aslinya. Tangan-tangan terampil para taxidermist ini yang menentukan bagaimana ekspresi wajah dan posisi tubuh hewan akan terlihat—gagah, santai, atau sedang melangkah.
- Pengeringan dan Finishing: Setelah semua terpasang, hewan itu dikeringkan dan diberi sentuhan akhir, seperti pewarnaan ulang pada beberapa bagian kulit atau hidung yang mungkin memudar.
Khusus untuk mamalia raksasa, proses ini membutuhkan tim dan waktu yang sangat lama. Kebayang pan (kan), betapa beratnya mengangkat dan menata kulit badak yang tebal itu!
Apresiasi untuk Para ‘Pahlawan Abadi’
Kini, ketika kita berdiri di depan display Gajah Sumatera atau Badak Jawa yang sudah diawetkan, kita bukan sekadar melihat bangkai yang dipajang. Kita sedang menyaksikan sebuah karya seni ilmiah yang telah menembus batas waktu.
Berkat dedikasi Bapak Soekarman, Mas Djamali, Bapak Soeprapto, Bapak Soejoto, dan taxidermist lain yang namanya mungkin tidak tercatat satu per satu, kita—generasi hari ini—bisa melihat secara langsung seperti apa ukuran dan detail fisik mamalia raksasa tersebut.
Mereka telah mengabadikan bukan hanya kulit dan tulang, tetapi juga pengetahuan. Dengan melihat koleksi ini, kita bisa belajar tentang keanekaragaman hayati Indonesia di masa lalu, sekaligus menumbuhkan rasa nyaah (cinta/kasih) dan tanggung jawab untuk menjaga yang tersisa.
Jadi, lain kali kalian berkunjung ke MZB Bogor, jangan lupa berikan apresiasi dalam hati untuk para ‘seniman abadi’ yang telah membuat koleksi ini bisa kita nikmati. Hatur nuhun (Terima kasih) telah menjaga warisan alam ini tetap hidup!