
Bagi para penjelajah setia Kebun Raya Bogor (KRB), keberadaan deretan pohon Kenari yang megah di Jalan Kenari telah lama menjadi ikon. Pohon-pohon dengan tajuk lebar dan batang kokoh ini seolah menjadi penjaga senyap, mengawasi setiap langkah pengunjung. Namun, pernahkah terlintas, sejak kapan persisnya pohon-pohon raksasa ini mulai menancapkan akarnya di bumi Pakuan ini? Apakah mereka adalah warisan langsung dari pendiri KRB, Prof. Caspar Georg Carl Reinwardt, ataukah hasil penanaman ulang di masa sesudahnya?
Menelusuri Garis Waktu: Kenari dan Warisan Reinwardt
Kebun Raya Bogor didirikan pada tahun 1817 oleh Reinwardt, menjadikannya salah satu lembaga botani tertua di Asia. Pada masa-masa awal pendirian, koleksi KRB memang difokuskan pada pengumpulan dan penelitian tanaman tropis dari berbagai wilayah di Nusantara.
Spesies pohon Kenari dari genus Canarium (famili Burseraceae) sendiri merupakan flora asli yang tersebar luas di Indonesia, sehingga sangat mungkin menjadi salah satu target koleksi awal. Catatan sejarah dan inventarisasi KRB menunjukkan bahwa penanaman Kenari, khususnya jenis-jenis yang tumbuh besar seperti Canarium asperum atau Canarium decumanum, sudah dilakukan sejak abad ke-19, tidak lama setelah kebun ini dibuka.
Dengan menilik usianya, banyak spesimen Kenari tertua di Kebun Raya Bogor yang diperkirakan sudah mencapai usia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang mendekati 150 hingga 200 tahun. Bayangkan, pohon-pohon ini telah berdiri tegak melintasi tiga abad, menyaksikan pergantian kekuasaan, dua kali perang dunia, hingga kini menjadi saksi perkembangan Kota Bogor yang ramai. Mereka benar-benar merupakan kapsul waktu biologis yang menyimpan memori sejarah panjang.
Status Kenari: Koleksi Awal dengan Penanaman Estafet
Apakah semua Pohon Kenari yang kita lihat sekarang di Jalan Kenari merupakan hasil penanaman di masa Reinwardt? Kemungkinan besar jawabannya adalah kombinasi.
Meskipun Kenari sudah menjadi bagian dari koleksi awal (sebagian besar ditanam untuk tujuan penelitian taksonomi dan ekonomi), penanaman pohon di sepanjang jalur utama KRB, termasuk Jalan Kenari, seringkali dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan oleh direktur-direktur kebun raya pada era selanjutnya.
Penanaman ini bertujuan untuk tujuan estetika (landscape), konservasi, dan menciptakan kanopi pelindung bagi pengunjung. Oleh karena itu, deretan Kenari yang kini kita kagumi merupakan estafet dari generasi ke generasi ahli botani, yang memastikan warisan hijau ini terus tumbuh subur, meneruskan visi konservasi yang dicanangkan oleh Reinwardt.
Momen Abadi di Bawah Naungan Kenari
Kini, Pohon Kenari bukan hanya sekadar koleksi botani, melainkan salah satu spot paling ikonik di KRB. Keindahan simetris dari deretan pohon ini, dengan batang yang masif dan percabangan yang membentuk lorong, menghasilkan latar belakang foto yang tak tertandingi.
Saat Anda mengunjungi KRB, jangan lewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen di bawah naungan saksi bisu sejarah ini.
Anda dapat menemukan barisan Pohon Kenari yang paling dramatis dan ikonik di:
- Jalan Kenari: Sesuai namanya, jalan ini membelah kawasan inti KRB, menawarkan lorong berkanopi sempurna.
- Sekitar Tugu Reinwardt: Beberapa spesimen tertua sering kali berada di dekat area bersejarah ini, menambah nuansa klasik pada hasil foto Anda.
Cobalah berpose saat matahari sedang condong (pagi atau sore), biarkan cahaya menerobos sela-sela daun Kenari. Suasana yang teduh (tiis) dan megah ini akan membuat foto Anda terlihat menawan, seolah-olah Anda sedang berjalan di taman botani yang abadi. Hayu atuh, urang motrét heula! (Ayo dong, kita foto dulu!) Jadikan petualangan Anda di KRB tidak hanya sekadar berjalan, tetapi juga mengoleksi cerita dan keindahan visual yang tak terlupakan.