🕯️🏰 Bisikan Senyap di Landhuis Dramaga: Misteri GWC Van Motman, Tuan Tanah VOC yang Konon Nggak Pernah Pergi dari Bogor

Bisikan Senyap di Landhuis Dramaga: Misteri GWC Van Motman, Tuan Tanah VOC yang Konon Nggak Pernah Pergi dari Bogor
Moseleum Van Motman, Leuwi Sadeng

Dramaga dan Bayang-Bayang Sejarah yang Nggak Terhapus Hujan

Kalau kamu sering lewat Dramaga, apalagi di malam hari, perhatikan baik-baik. Di balik keramaian warung kopi dan lampu-lampu kampus, tersimpan jejak kelam masa lalu yang konon masih bersemayam di sana. Jejak itu berupa arsitektur kolonial tua, yang menjadi saksi bisu kekuasaan seorang menir Belanda yang sangat disegani, bahkan ditakuti: Gerrit Willem Casimir (GWC) van Motman.

Van Motman, seorang administrator gudang VOC yang kemudian menjadi tuan tanah super kaya, membeli dan menguasai hampir sepertiga wilayah Bogor di awal abad ke-19. Di Dramaga, ia membangun rumah megah yang disebut “Groot Dramaga” (Dramaga Besar).

Meskipun kini Groot Dramaga telah bertransformasi menjadi salah satu wisma tamu yang terawat di lingkungan IPB, dinding-dindingnya yang kokoh konon menyimpan “carita jurig” (cerita hantu) dan misteri yang nggak pernah tuntas.

Lonceng Budak dan Simbol Kekuatan yang Mencekam

Salah satu peninggalan paling ikonik di halaman bekas landhuis (rumah tanah) Groot Dramaga adalah sebuah lonceng besar yang berdiri di atas pilar tinggi. Lonceng ini bertuliskan tahun pembuatannya, 1805.

Secara sejarah, lonceng ini berfungsi untuk mengumpulkan para buruh perkebunan pribumi yang bekerja di bawah kekuasaan Van Motman. Tapi, dalam dimensi misteri, lonceng ini sering dikaitkan dengan nasib pilu para buruh yang kapaksa (terpaksa) bekerja.

  • Mitos Lonceng Penanda Ajal: Konon, jika lonceng ini berbunyi dengan sendirinya di tengah malam yang sunyi, itu bukan pertanda kumpul buruh. Masyarakat percaya, itu adalah “sora paéh” (suara kematian) atau penanda bahwa ada arwah buruh yang meninggal karena kerja paksa atau siksaan sedang bergentayangan mencari keadilan.
  • Bisikan Panggilan di Malam Hari: Beberapa cerita dari orang yang pernah tinggal atau bekerja di sekitar Groot Dramaga menyebutkan, pada jam-jam tertentu (terutama pukul 01:00 hingga 03:00 dini hari), terdengar bisikan atau panggilan dalam bahasa Belanda kuno dari area lonceng, seolah memanggil pekerja untuk kembali berbaris.

Kutukan TBC dan Kematian Tragis Keluarga Tuan Tanah

Kisah hidup GWC Van Motman nggak melulu soal kemewahan. Di balik kekuasaan dan kekayaan yang ia miliki, tersimpan duka yang mendalam. Keluarga Van Motman dikenal memiliki nasib tragis. Dari 12 anaknya, delapan di antaranya meninggal pada usia yang sangat muda (di bawah lima tahun). Kematian anak-anaknya ini sebagian besar disebabkan oleh penyakit yang sulit diobati di masa itu, termasuk TBC.

  • Misteri Mausoleum: Kematian beruntun ini membuat keluarga Van Motman membangun kompleks makam mewah bernama Mausoleum Van Motman di wilayah yang kini masuk Leuwisadeng, Bogor. Arsitektur makamnya meniru Gereja Santo Petrus di Roma. Kabarnya, makam ini dibangun sedemikian megah sebagai upaya untuk ‘mengunci’ arwah-arwah yang terenggut cepat agar tidak mengganggu kedamaian keluarga yang tersisa.
  • Fenomena Mumi yang Menghilang: Yang paling misterius, di dalam mausoleum itu dulunya konon terdapat empat jenazah yang diawetkan (dimumikan). Jenazah salah satunya diyakini adalah Pieter Reinier Van Motman (cucu GWC). Namun, kini, setelah bertahun-tahun terbengkalai dan dijarah, mumi-mumi tersebut hilang entah ke mana. Ke mana raga tua itu pergi? Apakah ada kekuatan gaib yang membawanya, atau hanya tangan-tangan jahil manusia? Jawabannya ngambang di udara Bogor.

Penampakan Meneer dan Nonik di Bekas Landhuis

Groot Dramaga, yang sekarang dikenal sebagai wisma, adalah inti dari kekuasaan Van Motman. Bangunan dengan dinding tebal dan langit-langit tinggi ini adalah tempat di mana GWC Van Motman menghabiskan masa jayanya sebelum wafat pada tahun 1821.

Beberapa orang yang pernah menginap atau petugas kebersihan di sana seringkali menceritakan pengalaman tak biasa:

  • Langkah Kaki di Lorong: Terdengar suara langkah sepatu bot berat khas Eropa di lorong lantai atas pada malam hari, padahal tidak ada penghuni. Konon, itu adalah “léngkah” (langkah) Van Motman yang sedang mengawasi ‘lahannya’.
  • Sosok Nonik di Jendela: Penampakan sosok perempuan berambut pirang dengan gaun putih kuno, yang diduga adalah salah satu Nonik dari keturunan Motman, sering terlihat sekilas di jendela lantai dua, seolah sedang memandang ke arah perkebunan yang dulunya mereka miliki.

Himbauan Penutup: Hormati Setiap Jejak, Walau Itu Kelam!

Dramaga hari ini mungkin sudah modern, tetapi bayangan Tuan Tanah GWC Van Motman dan kisah keluarganya yang tragis tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari tanah ini. Kekayaan sejarah dan misteri adalah harta yang harus kita hargai.

Kalau kamu berani, cobalah sesekali berdiri di bawah lonceng tua itu saat malam. Mungkin kamu akan mendengar bisikan sejarah, atau mungkin, sapaan hangat dari sang Tuan Tanah. Ingat, datang ke tempat-tempat tua ini harus dengan adab dan rasa hormat. “Ulah sombong, ulah ngarénjag” (Jangan sombong, jangan terkejut), karena kita hanya tamu di tanah mereka.

Mari Berbagi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.