[Kajian Historis] Evolusi Becak di Bogor (Buitenzorg): Dari Primadona Jalanan Hingga Eksistensi di Ambang Transformasi Digital

[Kajian Historis] Evolusi Becak di Bogor (Buitenzorg): Dari Primadona Jalanan Hingga Eksistensi di Ambang Transformasi Digital

Pendahuluan: Saksi Bisu Perubahan Arus Transportasi

Bagi masyarakat Bogor kontemporer, Becak mungkin hanya dipandang sebagai moda transportasi marjinal yang ngendon (mangkal) di sudut pasar atau gang sempit, kerap dianggap sebagai biang keladi kemacetan. Namun, bagi seorang pengamat sejarah, Becak adalah artefak bergerak yang menyimpan memori kolektif paling jujur dari perkembangan sosial ekonomi Buitenzorg (Bogor) pasca-kolonial.

Becak bukan sekadar kendaraan, melainkan cerminan dari kegigihan (ketekunan) rakyat kecil di tengah gempuran modernisasi. Lantas, bagaimana si roda tiga ini mampu menjadi primadona sebelum akhirnya tersisihkan?

I. Masa Keemasan: Ketika Becak Adalah Raja di Awal Kemerdekaan

Meskipun Becak diperkirakan mulai “nyaba” (bertamu) ke kota-kota besar di Jawa, termasuk Bogor, sejak era 1930-an sebagai hasil adaptasi dari rickshaw Jepang, momentum kejayaannya justru dimulai pada periode yang penuh kesulitan.

A. Solusi Krisis Energi (1940-an hingga 1960-an)

Ketika Jepang masuk dan periode revolusi fisik berkecamuk, pasokan bahan bakar minyak (BBM) sangat langka. Delman yang bergantung pada kuda juga menghadapi kesulitan pakan. Becak muncul sebagai solusi transportasi paling efisien: tidak butuh bensin, tidak butuh pakan, hanya butuh otot dan keringat manusia.

B. Saksi Urbanisasi dan Ekonomi Rakyat

Pada periode 1950-an hingga 1980-an, Becak menjadi tulang punggung mobilitas warga lokal dan para migran dari desa. Becak adalah pekerjaan pertama yang dapat dilakukan oleh siapapun yang memiliki kekuatan fisik, tanpa memerlukan modal atau keahlian formal yang tinggi. Posisinya begitu vital, melayani:

  1. Logistik Pasar: Mengangkut hasil bumi dari Pasar Baru (kini Pasar Anyar) ke rumah-rumah warga.
  2. Akses Lokal: Menjadi penghubung utama dari Stasiun Bogor menuju permukiman, melengkapi peran Delman dan kemudian Bemo (Becak Motor).

Pada masa ini, keberadaan Becak memberikan identitas yang egaliter pada wajah transportasi Bogor, melengkapi kehadiran angkutan mewah para elit di jalur-jalur protokol.

II. Masa Senja: Tersisih oleh Mesin dan Kebijakan

Memasuki tahun 1990-an hingga 2000-an, status Becak mulai tergerus dan dipersoalkan secara serius.

A. Gempuran Angkutan Bermotor

Kehadiran Angkot (Angkutan Kota) yang beroperasi masif sejak tahun 80-an dengan kecepatan dan jangkauan yang lebih luas, secara perlahan menggeser dominasi Becak. Masyarakat lebih memilih Angkot karena cepat dan terjangkau.

B. Kebijakan “Wajah Kota”

Pemerintah Kota Bogor mulai memandang Becak sebagai simbol ketertinggalan dan sumber kemacetan. Hal ini berpuncak pada:

  • Pembatasan Jalur (Era 2000-an): Becak dilarang memasuki jalur-jalur utama dan protokol kota, efektif membuatnya hanya bisa beroperasi di area pinggiran dan lokasi-lokasi captive (seperti pasar dan stasiun).

C. Era Digital (Ojol)

Gelombang terakhir yang benar-benar menghancurkan daya saing Becak adalah munculnya transportasi berbasis aplikasi online. Ojol menawarkan kemudahan akses, harga transparan, dan kecepatan—tiga hal yang secara tradisional menjadi kelemahan Becak. Saat ini, fungsi Becak tereduksi menjadi angkot bagi jarak sangat pendek atau pengangkut barang di lingkungan padat.

III. Prediksi Masa Depan: Evolusi Sebagai Warisan Budaya

Sebagai pengamat sejarah, saya yakin Becak tidak akan sepenuhnya punah, tetapi akan mengalami transformasi struktural (perubahan fungsi yang mendasar).

1. Transformasi Menjadi Heritage (Nilai Sejarah)

Masa depan Becak terletak pada kemampuannya naik kelas dari moda transportasi fungsional menjadi Daya Tarik Wisata. Seperti di Yogyakarta, Becak di Bogor harus fokus pada:

  • Zona Wisata: Beroperasi eksklusif di kawasan Kota Tua Bogor (sekitar Stasiun, Paledang, Surya Kencana) dengan tarif premium yang menjual pengalaman nostalgia.
  • Peran Pemandu: Penarik Becak bertransformasi menjadi “Pemandu Kayuh” yang mampu memberikan narasi sejarah, budaya, dan kuliner lokal (Sundanese Vibes) kepada wisatawan.

2. Inovasi Berbasis Teknologi Hijau

Untuk mengatasi masalah fisik dan citra kuno, inovasi Becak Bantuan Listrik (E-Becak) harus dipertimbangkan. Ini memungkinkan penarik Becak yang sudah lanjut usia tetap produktif, sekaligus menjawab tuntutan kota modern akan transportasi ramah lingkungan dan bebas polusi.

Penutup: Becak Bukan Hanya Roda Tiga

Pada akhirnya, kisah Becak di Bogor adalah kisah tentang adaptasi. Ia mengajarkan kita bahwa keberlanjutan sebuah budaya lokal—dalam hal ini, transportasi tradisional—tidak terletak pada penolakan terhadap modernitas, melainkan pada transformasi cerdas untuk menemukan ruang baru di tengah arus zaman yang kian deras. Becak harus menjadi kebanggaan, bukan sekadar kenangan.

Tabe Pun! (Salam Hormat!)

Mari Berbagi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.