Ngopi Tanpa Sedotan Plastik, Ke KOPI KOTA HUJAN Saja!

Ngopi Tanpa Sedotan Plastik, Ke KOPI KOTA HUJAN Saja!
Sedotan stainless di Kopi Kota Hujan

Satu milyar sedotan plastik, setiap hari — ya setiap hari — dipakai manusia di seluruh dunia untuk menyeruput minuman berbagai jenis. Mudah dan murah untuk didapatkan menjadi salah satu alasan manusia menjadikannya sebagai salah satu benda yang “seperti” tidak bisa dipisahkan dari kata minum. Tanpa kehadirannya, banyak orang akan merasa kegiatan yang meneguk cairan dari gelas atau botol menjadi seperti kurang lengkap.

Menurut National Geographic, jika semua sedotan plastik yang dibuang setiap tahun disambung pada ujungnya, maka panjangnya sama dengan 4 kali lingkar bumi di garis katulistiwa. Data ini mencerminkan betapa populernya sedotan plastik dalam kehidupan manusia masa kini.

Sayangnya, kemudahan yang disediakan tidaklah “gratis”. Ada “imbalan” atau bayaran yang harus dibayar umat manusia, meski tidak terlihat langsung. Bayaran yang harus ditebus oleh umat manusia adalah kerusakan lingkungan yang disebabkan olehnya.

Plastik merupakan bahan yang tidak bisa terurai secara alami. Kalaupun bisa, hal itu akan memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun, atau bahkan tidak terurai sama sekali. Ketika terurai pun, maka kandungan bahan kimia pembentuknya menyebabkan masalah lain berupa racun yang ditebarkan ke tanah.

Bisa bayangkan kerusakan dan bahaya yang dihadirkan sampah sedotan plastik bagi alam, lingkungan, dan pada akhirnya umat manusia?

Harga yang mahal karena pada akhirnya kehidupan umat manusia menjadi terancam dan lingkungan menjadi rusak karenanya.

Kesadaran terhadap bahaya benda kecil, yang sebenarnya tidak vital bagi kegiatan minum ini, telah membuat semakin banyak negara mengeluarkan larangan penggunaan sedotan plastik. Murah dan nyaman saat ini, tetapi berbahaya bagi kehidupan generasi mendatang.

Ngopi-Tanpa-Sedotan-Plastik-Ke-KOPI-KOTA-HUJAN-Saja-2
Ginger Boost tanpa sedotan plastik a la KOPI KOTA HUJAN

KOPI KOTA HUJAN : Tanpa Sedotan Plastik

Sejak satu dekade belakangan ini, satu tren di Indonesia, termasuk di Kota Hujan, Bogor, yaitu ngopi.

Tren yang ditunjukkan dengan menjamurnya warung kopi, kedai kopi, kafe, atau apapun namanya dimana orang bisa menikmati seduhan biji pahit tersebut. Angkanya terus bertambah setiap waktu karena animo masyarakat terhadap tren yang satu ini begitu besar. Di Kota Bogor sendiri diprediksi ada 300-400 tempat yang menyediakan berbagai seduhan kopi dan berbagai minuman lainnya.

Tren yang membawa dampak positif dalam berbagai bidang, terutama perkonomian kota ini, selain dampak sosial budaya kehadiran ruang bersosialisasi bagi masyarakat.

Namun, yang tidak disadari adalah ada dampak negatif yang lahir dari perkembangan ini. Meski tidak ada data yang sahih, penggunaan sedotan plastik pun akan meningkat. Banyak kafe atau kedai juga menawarkan sistem “pesan antar” yang memakai kemasan berupa gelas plastik dan tentunya beserta sedotan plastik. Tambahkan dengan jenis minuman non kopi yang dikenal masyarakat untuk disedot dan bukan diteguk.

Hasilnya, bisa diduga bahwa tumpukan sampah sedotan plastik akan semakin meninggi dan bahaya tak terlihat semakin besar.

Untungnya, masih ada di antara pengusaha bisnis minum kopi di Bogor yang memiliki kesadaran lingkungan yang besar dan kemudian menerapkannya dalam bisnis yang digelutinya.

Salah satu diantaranya adalah Arief Priatna Rachmatullah, pendiri Kafe KOPI KOTA HUJAN yang berlokasi, sekitar 50 meter, dari Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor.

Pria yang sekarang berprofesi sebagai seorang green agent (agen hijau-praktisi dan pemerhati lingkungan) berkeyakinan bahwa kemajuan zaman, teknologi, dan perekonomian harus berjalan seiring dengan kelestarian alam dan lingkungan. Ia berkeyakinan tanpa semua itu, maka pertumbuhan yang berkesinambungan tidak akan terjadi dan hanya akan mewariskan kerusakan bagi generasi mendatang.

Semua perkembangan harus berjalan seiring dengan sikap ramah terhadap alam dan lingkungan.

Dan, sebagai orang yang terbiasa menerapkan leading by example (memimpin dengan melakukan/memberi contoh), maka Om Arief, sebutan beberapa kawan terhadapnya menerapkan pada lingkungan terdekatnya dulu, keluarga dan kafe yang didirikannya pada 13 September 2020, KOPI KOTA HUJAN.

Interior Kopi Kota Hujan

Kafe yang sekarang dikelola oleh salah satu putri dari pria kelahiran 46 tahun tersebut, berdiri dengan dijiwai prinsip tersebut.

Di kafe tersebut tidak akan ditemui sedotan plastik karena pengelolanya berusaha meminimalkan dampak negatif dari benda tersebut bagi lingkungan. Sebagai penggantinya adalah sedotan yang terbuat dari stainless steel (baja tahan karat) yang bisa dipergunakan berulang . Dengan begitu, operasional kafe tidak akan merugikan dan menimbulkan pencemaran.

Dalam operasional sehari-hari pun, bukan hanya ketiadaan sedotan plastik saja yang menjadi cermin prinsip Om Arief. Banyak aspek pengelolaan kafe lain yang mencerminkan usaha memberi contoh pengelolaan bisnis yang environmental friendly, termasuk dalam penggunaan enerji atau pengelolaan limbah yang terus diusahakan diminimalkan.

Bahkan, jasa pesan antar yang disediakan kafe ini pun tidak terlepas dari penerapan prinsip dasar green business (bisnis ramah lingkungan) . Pemakaian kemasan plastik, seperti gelas dan sedotan dihilangkan. Sebagai pengganti, kopi atau minuman akan dikemas menggunakan paper cup (gelas kertas), paper straw (sedotan kertas), dan tentunya diantarkan dalam kantung kertas dan bukan kantung plastik.

Tentu saja, konsekuensi dari penggunaan kemasan yang ramah lingkungan ini adalah biaya operasional yang meningkat. Namun, hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang harus dilakukan oleh kafe yang kerap disingkat KOKOJAN itu demi memastikan tidak menjadi kontributor bagi pencemaran lingkungan.

Sebuah pandangan dan sikap yang patut mendapat acungan jempol dan apresiasi mengingat banyak pebisnis yang hanya terfokus pada mengeruk profit tanpa memikirkan imbas dan dampak negatif.

arief priatna rachmatullah
Pendiri Kokojan, Arief Priatna Rachmatullah

Ketiadaan benda kecil yang satu ini, sedotan plastik, dan filosofi yang dianutnya ini merupakan salah satu, dari banyak hal menarik lain (akan diceritakan dalam tulisan-tulisan berikut) yang membuat Lovely Bogor betah berada bermain dan ngopi di KOKOJAN .

Di sana terlihat adanya secercah harapan akan tumbuhnya kesadaran terhadap lingkungan di Kota Hujan, Bogor. Kesadaran yang diharapkan akan menjadikan lingkungan yang lebih baik, tanpa sampah plastik dan semua bisa dimulai dengan melakukan sebuah perubahan kecil, yaitu menghilangkan kebiasaan minum menggunakan sedotan plastik.

Sesuatu yang sudah dimulai di kafe KOPI KOTA HUJAN.

Kredit Foto : Putar Lensa

Website | + posts

Hanya seorang warga Bogor yang berniat berbagi tentang kotanya. Meski sudah banyak berubah dan banyak orang mengatakan sudah tidak indah lagi, bagi saya, Bogor tetap saja Lovely , Indah.

Mari Berbagi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.