Burung HantuBulan November 2015 yang lalu, media massa seperti sepakat untuk menulis sebuah berita terkait Kota Bogor. Sayangnya, beritanya tersebut sangat tidak mengenakkan. Berbagai headline surat kabar, cetak maupun online, memajang judul “BOGOR KOTA PALING TIDAK TOLERAN”.

Berbagai variasi tajuk utama bisa ditemukan, selain dari yang sudah ditulis di atas, ada lagi yang sedikit lebih halus “Bogor kota paling kurang toleran”, “Bogor kota paling intoleran di Indonesia”, dan masih banyak lagi.

Salah satunya bisa dilihat dari Antara News. Silakan klik disini untuk membacanya.

Bogor Kota Paling Tidak Toleran

Benarkah pendapat Setara Institute yang penuh berisi orang pintar itu? Mereka didukung hasil penelitian yang dilakukan antara 3 Agustus 2015 hingga 13 November 2015.

Dalam kajian mereka, dua hal menjadi sorotan utama yang berujung pada gelar baru bagi kota ini. Kedua hal itu adalah tentang kasus terhambatnya pendirian Gereja GKI Yasmin dan Pelarangan Peringatan Assyura belum lama ini.

Bisa dikata tidak ada tanggapan berarti dari pihak Pemerintah Daerah Kota Bogor.

Saya tidak akan membantah bahwa kedua kasus tersebut memang merupakan sebuah tindakan intoleran dari kaum mayoritas. Hanya, tetap saja terus terang saya berpendapat Setara Institute Salah. Salah Besar!

Buktinya? Tidak perlu lah terlalu dalam membahas teori kemasyarakatan. Kalau itu, silakan tanyakan pada para peneliti Setara Institute yang tentu saja memiliki gelar akademis berjejer. Saya tidak akan mampu berdebat panjang lebar secara teori.

Saya hanya akan mengajukan beberapa buah foto saja dari hasil berkeliling kota tempat dimana saya tinggal ini.

Gereja Zebaoth Bogor :

Bogor Kota Paling Tidak Toleran

Gereja Katedral Bogor :

Gerea Katedral Bogor

Mesjid Raya Bogor :

Bogor Kota Paling Tidak Toleran
Mesjid Raya Bogor

Mesjid Agung Bogor :

Mesjid Agung Bogor
Mesjid Agung Bogor

Vihara Mahacetya Dhanagun :

Bogor Kota Paling Tidak Toleran

Mengapa foto-foto bangunan cagar budaya yang diajukan sebagai bukti Bogor bukan kota paling tidak toleran?

Karena, selain sebagai cagar budaya, semua bangunan itu masih berfungsi sebagaimana fungsi awalnya. Para penganut agama Kristen Katholik, Protestan, Islam, Budha, Kong Hu Cu, Tao masih melakukan ibadah mereka di tempat-tempat ini.

Tentu saja, tanpa gangguan. Sama sekali tanpa ada gangguan sama sekali.

Kalau dari sisi suku bangsa, perhatikan juga bahwa Kota Bogor adalah multi etnis. Sunda, Jawa, Padang, Arab, Cina/Tionghoa, semua ada di Kota Bogor.

Baca Juga : Empang – Tak Berair Dan Tak Ber-Ikan

Meskipun dulu dipisah-pisahkan oleh kebijakan devide et impera penguasa kolonial Belanda, hubungan antar etnis tetap saja berjalan dengan baik.

Meski Empang atau Jalan Suryakencana dikenal sebagai kawasan Arab dan Cina, tetapi disana juga ditemukan mesjid, gereja dan rumah ibadah lain. Para penduduknya juga berdagang bersama di Lawang Seketeng atau Tanjakan Empang.

Sama sekali tidak ada benturan yang berarti.

Patung Wanita Di BCC

Pernah ingat kasus pembakaran patung wayang di Purwakarta? Patung tersebut dibakar karena dianggap berhala. Silakan lihat di sini.

Patung wanita di Bukit Cimanggu City ini hingga saat ini aman-aman saja dan tetap berdiri. Bahkan merupakan ikon perumahan tersebut.

Terus terang kalau melihat foto-foto ini, saya jadi bertanya-tanya, dimana letak intoleransinya. Tentu saja akan selalu ada konflik dalam masyarakat dimanapun. Tidak mungkin tidak. Hanya, karena dua kasus yang di-ekspose berlebihan maka digeneralisasi.

Apalagi, rentang waktu penelitian yang sangat pendek (Agustus-November 2015) rasanya sulit menjangkau kehidupan riil di keseharian. Bahkan, saya tidak cukup yakin bahwa para peneliti Setara Institute yang melakukan penelitian ada yang tinggal di Bogor.

Apa yang dikatakan oleh Setara Institute seperti menghapus semua bentuk toleransi di Kota Bogor yang sudah ada sejak lama, seperti dihapus karena tidak sesuai dengan teori. Kenyataan direduksi menjadi angka dan data saja.

Padahal toleransi bukanlah angka dan data. Toleransi akan tercermin dalam kehidupan masyarakatnya. Tidak tahu apakah bagian ini diteliti atau tidak.

Saran saya, tidak perlu lah terlalu menganggap serius hasil penelitian tersebut. Biarlah media massa mengekspose dengan cara mereka.

Tetapi, pergilah ke Bogor dengan rasa tenang, bahkan ketika Anda ingin beribadah di salah satu tempat di kota ini. Tidak akan ada yang akan menghambat Anda. Warga Bogor itu toleran.

Jangan khawatir kawan.

2 COMMENTS

  1. Nasionalisme kita itu berbeda-beda tapi satu, bukan homogen yang sanga 8 t dipaksakan. Ironisnya justru ada di kota-kota besar dan modern.

LEAVE A REPLY