‘Turun Taneuh’ atau ‘Nincak Taneuh’: Ritual ‘Injak Bumi’ Bayi Bogor yang Penuh Harapan dan Bikin Penasaran! 

'Turun Taneuh' atau 'Nincak Taneuh': Ritual 'Injak Bumi' Bayi Bogor yang Penuh Harapan dan Bikin Penasaran! 
Ilustrasi Nincak Taneuh – Image By Gemini

Mengapa Turun Taneuh/Nincak Taneuh Penting? Kenali Warisan Budaya Sunda di Bogor!

Halo, Parents dan pembaca setia! Kalian pasti sering dengar tentang “Tedhak Siten” dari Jawa, kan? Nah, di daerah Sunda, termasuk Bogor yang kaya akan budaya, ada ritual serupa yang tak kalah menarik dan sakral, namanya Turun Taneuh atau Nincak Taneuh.

Secara harfiah, “Nincak Taneuh” dalam Bahasa Sunda berarti “Menginjak Tanah”. Ini adalah upacara adat yang ditujukan untuk bayi ketika ia pertama kali menginjakkan kaki ke bumi atau mulai belajar duduk dan berjalan.

Kapan Biasanya Upacara Ini Dilaksanakan?

Ritual Turun Taneuh umumnya dilakukan saat bayi menginjak usia sekitar tujuh bulan (tujuh lunar monthsatau 7 weku dalam perhitungan Jawa/Sunda). Kenapa usia 7 bulan? Karena di usia ini, bayi dianggap sudah siap untuk “diperkenalkan” pada bumi tempat ia akan menjalani kehidupannya kelak.

Ini bukan sekadar formalitas, lho! Upacara ini adalah bentuk rasa syukur orang tua kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga penghormatan kepada bumi (disebut juga Ibu Pertiwi). Harapannya, sang anak bisa tumbuh sehat, kuat, mandiri, dan kelak sukses menjalani hidup dengan berkah dari alam.

Rangkaian Unik dan Penuh Makna dalam Turun Taneuh

Meskipun detail pelaksanaannya bisa berbeda-beda antar daerah atau keluarga di Bogor, inti dari Turun Taneuh selalu sama: melambangkan langkah awal kehidupan si kecil. Berikut beberapa prosesi yang sering dilakukan, dan ini dia yang bikin ritual ini seru dan fotogenik!

1. Jadah Tujuh Warna: Melangkah Penuh Warna!

Bayi akan dituntun atau dibimbing untuk berjalan di atas rangkaian jadah (makanan dari ketan) yang berwarna-warni. Biasanya ada tujuh warna, lho!

  • Maknanya? Tujuh warna ini melambangkan tujuh rintangan atau tahapan kehidupan yang harus dilalui si anak. Dengan menapaki jadah ini, orang tua berharap anak mereka kelak mampu melewati setiap tantangan hidup dengan ketabahan dan kekuatan.

2. Tangga Tebu Wulung: Gapailah Cita-cita!

Setelah melewati jadah, bayi akan dibimbing untuk menaiki dan menuruni tangga yang terbuat dari tebu wulung (tebu hitam).

  • Maknanya? Tebu melambangkan cita-cita yang tinggi. Tebu wulung, khususnya, sering dikaitkan dengan makna “antebing kalbu” yang berarti kemantapan hati. Ini adalah doa agar anak memiliki tekad yang kuat dan mantap dalam meraih impiannya.

3. Kurungan Ayam (Sangkar Kehidupan): Mengintip Masa Depan!

Nah, ini bagian paling seru yang selalu ditunggu-tunggu tamu! Bayi dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang dihias (kadang disebut juga Sangkar Kehidupan). Di dalamnya sudah diletakkan berbagai macam benda, seperti buku, uang, pensil, mainan, stetoskop, bahkan sekarang ada juga yang meletakkan smartphone atau laptop mini!

  • Maknanya? Benda apa yang pertama kali diambil oleh bayi dipercaya melambangkan minat atau profesi yang akan ia jalani kelak. Ini adalah cara unik dan lucu untuk “meramal” masa depan si kecil.

4. Udik-Udik (Berbagi Berkah): Rezeki yang Melimpah!

Di akhir acara, biasanya akan ada ritual Udik-Udik, yaitu menaburkan beras kuning, bunga, dan uang logam.

  • Maknanya? Ini adalah simbol harapan agar si anak kelak memiliki rezeki yang melimpah dan punya sifat dermawan, selalu berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Pesan Penting: Budaya yang Terus Beradaptasi

Upacara Turun Taneuh di Bogor hari ini mungkin sudah banyak disesuaikan agar lebih praktis dan modern, tetapi esensi dan doa yang terkandung di dalamnya tidak pernah hilang. Ini adalah cara keren bagi kita, terutama generasi muda, untuk tetap menghargai dan melestarikan warisan leluhur Sunda.

Jadi, kalau ada teman atau kerabat di Bogor yang mengadakan Turun Taneuh, jangan lupa datang dan ikut mendoakan si kecil, ya! Kalian tidak hanya menghadiri acara, tetapi juga menjadi saksi lestarinya sebuah kearifan lokal yang luar biasa!

Mari Berbagi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga :