gemblong
Bentuknya lonjong seperti telur tetapi pipih. Warnanya coklat kehitaman dan rasanya manis. Namanya Gemblong.

Biasanya terbuat dari ketan yang ditumbuk halus, dibuat adonan sebelum kemudian digoreng dan dilumuri gula cair. Hanya seiring dengan naiknya harga bahan baku, tidak jarang sekarang dibuat dari nasi.

Sayangnya dengan berubahnya bahan baku rasanya juga harus menyesuaikan karena tidak lagi gurih dan legit.

Penganan tradisional ini sudah lama dikenal di Bogor. Pedagang-pedagang biasanya membawa bakul yang berisikan puluhan butir. Kadang mereka berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, tidak jarang juga ada yang “mangkal”.

gemblong
Pedagang gemblong di Bogor Permai

Meskipun demikian, sekarang penampakan para penjual cemilan ini sama persis dengan beberapa jenis makanan tradisional lainnya, mulai sulit ditemukan. Rupanya mereka juga kesulitan bersaing dengan kuliner modern yang semakin merajai Bogor.

Hanya tersisa sedikit tempat dimana penjualnya masih bisa ditemukan. Paling gemblong sekarang hanya bisa ditemukan di Pasar Anyar Bogor. Terakhir kali pedagang gemblong di dekat Bogor Permai pun sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Padahal sudah belasan tahun keberadaan pedagang gemblong disitu dikenal.

Yah, mungkin memang zamannya penganan yang tidak cantik rupa ini akan segera berakhir. Sama dengan Sagu Rangi dan jenis-jenis yang berembel-embel tradisional, sepertinya mengalami kesulitan untuk bersaing.

Sudah warnanya tidak menarik, bentuknya sederhana, untungnya tidak seberapa pula. Apalagi namanya sama sekali tidak terkesan modern “G e m b l o n g”.

Rasanya memang tidak mengundang orang untuk menggelutinya lagi. Apalagi cara membuatnya juga repot dan sebagian besar harus dilakukan secara manual alias dengan tangan. Kalau makan gemblong juga, tangan biasanya menjadi lengket karena gula cair yang melapisinya pasti nempel.

Yap, memang itu kelemahan gemblong dan banyak penganan tradisional lainnya. Seringkali mereka terlalu sederhana bentuknya, terlalu “rumit” cara masaknya, tidak keren namanya semuanya tidak mendukung untuk bertarung di abad modern ini.

Kalau saja ada yang bisa memoles si buruk rupa ini agar bisa menjadi lebih berwarna warni sehingga bisa menarik pengunjung, mungkin dia bisa menjadi idola baru di Bogor. Kalau talas saja bisa punya wajah baru, kenapa gemblong tidak.

Ada yang punya ide?

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.