Budaya bersepeda di bogor

Boleh kan sedikit berandai-andai? Saya pikir kalau saja budaya bersepeda di Bogor ada, tentunya gelar sebagai kota dengan lalu lintas paling tidak menyenangkan di dunia tidak akan diraih. Tidak akan ada keluh kesah warganya karena antrian kendaraan di hampir setiap sudut kota ini.

Sayangnya, ada kata “kalau saja”. Kata ini mengindikasikan sebuah pengandaian yang tidak pernah terjadi. If only….

Kenyataannya, budaya bersepeda tidak ada di Kota Hujan ini. Bukan hanya saat ini, tetapi juga bahkan sejak akhir 1970-an, saat saya mulai menetap disini, penggunaan sepeda tidaklah begitu marak. Entah kalau di tahun 1960-an.

Jauh sekali kalau dibandingkan beberapa kota di Jawa Tengah, seperti Solo atau Yogyakarta, dimana sepeda menjadi salah satu tulang punggung transportasi.

Memang di awal tahun 1980-an pengguna sepeda masih sering ditemukan, terutama di kalangan anak sekolah. Masih cukup banyak dari mereka menggunakan si roda dua tak  bermesin ini untuk menuju tempatnya belajar, termasuk saya salah satunya. Tetapi, setelah diingat-ingat lagi, tetap saja angkanya tidak terlalu banyak dibandingkan mereka yang naik angkutan umum atau diantar orangtuanya.

Pikir punya pikir, memang ada perbedaan antara kota-kota di Jawa Tengah atau Yogyakarta yang membuat budaya bersepeda susah berkembang di Bogor.

1. Tidak landai

Warga Bogor memang bersyukur karena kebetulan lokasi kota dimana mereka tinggal terletak di antara tiga buah gunung, Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Pangrango. Kota ini memiliki banyak tempat-tempat indah.

Sayangnya, efek sampingnya, kota ini tidak landai. Kalau diperhatikan, semakin ke selatan Selatan, areanya akan menanjak.

Bagi kendaraan bermesin, bukanlah sebuah masalah, tetapi untuk bersepeda perlu energi lebih untuk mengayuh pedal melewati jalan yang menanjak. Bakalan Ngos-ngosan dan berkeringat banyak untuk melakukannya.

2. Banyak Hujan

Tidak juga namanya Kota Hujan kalau hujannya sedikit. Bisa dikata lebih dari 240 hari dalam setahun hujan akan turun. Seringnya juga turunnya di saat tak terduga.

Hal ini membuat repot kalau harus mengayuh sepeda ke tempat kerja atau sekolah. Sudah pegal, bau keringat, kebasahan pula.

Budaya sepeda di bogor

3. Ritme kehidupan yang serba cepat

Mau tidak mau. Sebagai daerah penyangga ibukota, Jakarta, ritme kehidupan di Kota Bogor pun sangat terpengaruh dengan kota metropolitan tersebut. Apalagi puluhan ribu warga Bogor mencari nafkah disana.

Setiap pagi, bisa dilihat warga Bogot berduyun-duyun di stasiun kereta atau terminal bis untuk berangkat bekerja.

Suka tidak suka, kecepatan menjadi penting, kalau tidak mau sampai terlambat di kantor. Sesuatu yang sulit ditawarkan oleh sepeda.

4. Lalu lintas yang ganas

Ini bukan di masa tahun 1970-1980-an. Kondisi lalu lintas yang ganas dan tidak kenal ampun dimulai sekitar tahun 1990-an.

Pengguna jalan menjadi semakin egois dan tidak kenal ampun membuat banyak orangtua di Bogor enggan dan takut membiasakan anaknya ke sekolah naik sepeda. Mereka tidak ingin anaknya menjadi korban keganasan pemotor yang merasa dirinya penguasa jalanan, atau angkot yang tidak peduli orang lain saat mengejar penumpang.

5. Masyarakat yang manja

Di satu sisi rajin. Di sisi lain amat manja.

Rajin,  buktinya aktifitas kota ini sudah dimulai sejak dini hari. Manja, karena kenyataannya warga Bogor akan memilih naik angkot daripada berjalan kaki, bahkan ketika jarak yang harus ditempuh hanya 100-200 meter saja dan tidak hujan.

Apalagi sekarang dengan kesejahteraan dan ekonomi yang meningkat.

Nah, memang budaya bersepeda di Bogor bisa dikata tidak pernah ada. Kalau budaya bersepeda motor mah bisa dilihat sendiri di jalanan.

Padahal, kalau saja budaya ini bisa ditumbuhkan dalam masyarakatnya, tidak perlu pusing-pusing membuat aturan Satu Arah Seputar Kebun Raya Bogor. Kota Bogor tidak akan macet kalau warganya menggunakan sepeda untuk beraktifitas.

Sayangnya, ya itu tadi. Masyarakat Bogor bukan masyarakat sepeda.

Tetapi, kalau Pemerintah Kota Bogor bisa menggalakkannya, hal ini bisa jadi pemecah masalah kemacetan parah di Bogor. Terapkan saja satu hari bersepeda (atau berjalan kaki) setiap minggunya dan lakukan penegakkan hukum yang keras. Suatu waktu budaya bersepeda itu bisa menjadi kebiasaan.

Terus terang, jangan hanya slogan atau himbauan karena tidak akan mempan. Harus dilakukan sebuah law enforcement yang ketat agar masyarakat menjadi terbiasa. Yang perlu tinggal kemauan.

Buktinya Beijing berani mengeluarkan aturan agar separuh mobil pribadi tidak beroperasi dengan jalan menggilir waktunya. Tujuannya untuk mengurangi polusi udara yang sudah melampaui batas aman. Mereka juga mempersulit pemberian nomor kendaraan baru untuk mengurangi pembelian mobil pribadi baru.

Mengapa Bogor tidak bisa?

Seharusnya bisa. Dengan kondisi lalu lintas kota Bogor, kemudian penambahan jalan yang sangat kecil karena keterbatasan lahan, mengapa tidak menumbuhkan budaya bersepeda?

Terkadang, situasi darurat harus dipecahkan dengan tindakan drastis dan tidak populis.

Budaya bersepedaPertanyaannya, beranikah kita? Maukah kita mengorbankan kenyamanan demi Bogor yang lebih baik? Nah, untuk yang itu saya cuma bisa garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal karena ketombe.

Saya tidak yakin warga Bogor mau.

2 COMMENTS

  1. Saya amat setuju dengan pernyataan no.5
    Memang bukan hanya di Bogor tapi disebagian besar Indonesia masyarakatnya terlalu manja sedikit-sedikit maunya naik motor. Malas naik sepeda apalagi jalan kaki. Gengsi katanya. Padahal itu bisa memiliki efek jangka panjang bagi kesehatan. Coba deh Anda liput trotoar di Bogor lebih baik dari Jakarta tapi sepi penggunanya.
    Selain jarang pejalan kaki, sepinya pesepeda di Bogor mungkin karena minimnya trek pesepeda. Padahal kalau pemkot bisa mengubah trotoar yang sepi menjadi jalur multifungsi yang menyenangkan untuk sepeda dan jalan kaki. Mungkin ceritanya akan beda.

    • TErima kasih untuk masukannya.. nanti saya coba perhatikan dan buat tulisan tentang trotoar di Bogor…

      Susah memang membudayakan hal seperti ini

LEAVE A REPLY