Tansuke - Ketan Susu Keju

Harga seporsi Tansuke hanya Rp. 5.000.- saja. Tidak mahal. Sangat murah bahkan harganya hampir sama dengan sebotol coca cola dan sama dengan harga segelas bir kocok di Jalan Suryakencana. (Silakan lihat : Mabuk Bir Kocok? Are You Serious?)

Anda pasti tidak percaya bahwa ada kuliner Jepang dijual dengan harga serendah itu. Wajar karena memang kenyataannya harga jual makanan Negeri Sakura memang tidak ada yang murah.

Lalu, bagaimana dengan Tansuke? Mengapa bisa didapatkan dengan harga serendah itu?

Jawabannya sederhana. Tansuke bukanlah makanan impor dari negeri para samurai itu. Kuliner ini produk asli Bogor dan sama sekali tidak ada sentuhan tangan para chef dari Jepang.

Apa Itu Tansuke?

Warung Tansuke - Ketan Susu Keju

Ya, memang. Tansuke adalah hasil kreaitifitas tangan orang Bogor. Sebagai kota yang merupakan salah satu tujuan wisata kuliner, warganya seperti terpacu untuk terus menelurkan berbagai kreasi dalam dunia ini.

Oleh karena itu tidak mengherankan kalau banyak sekali istilah-istilah atau nama-nama baru yang hadir. Tansuke adalah salah satunya.

Memang terdengar seperti nama yang berasal dari negeri Sakura Jepang, tetapi Tansuke sendiri sebenarnya adalah singkatan dari KETAN (TAN), SUSU (SU), KEJU (KE). Tiga bahan yang dipergunakan dalam pembuatan makanan ini.

Proses pembuatannya pun tidaklah rumit dan sederhana. Ketanya dikukus, kemudian ketika disajikan dilumuri dengan susu kental manis dan akhirnya ditaburi keju parut. Disajikan dalam sebuah mangkuk plastik kecil.

Rasanya?

Manis, gurih, lengket

Warung Ketan Susu Keju

Lengket di lidah. Jelas saja. Dengan bahan bahan utama ketan yang lengket, tidak heran ketika makanan ini masuk ke mulut terkesan agak melekat pada lidah. Tidak bisa ditelan langsung karena unsur ketannya membutuhkan waktu untuk dikunyah.

Manis dan gurih berasal dari unsur susu cair dan keju, secuil Tansuke bisa membuat Anda berhenti berbicara sejenak (kalau sedang ngobrol) dan sedikit sibuk mengunyah.

Sebenarnya agak heran juga bahwa perpaduan ketan, susu, keju bisa menghasilkan rasa seperti itu. Apalagi tidak ada tambahan bahan-bahan lainnya seperti pewarna atau pengawet. Kesemua bahan itu diramu sesaat setelah pesanan dibuat.

Tapi, dunia kuliner adalah dunia kreatifitas. Sesuatu yang sepertinya terlihat aneh kalau dipadukan bisa menghasilkan rasa baru yang bisa dinikmati.

Yah, sebelum ini terus terang tidak pernah terbayangkan rasa bahan tradisional keta berpadu dengan susu dan keju. Biasanya ketan akan dikombinasikan dengan daging ayam suir atau abon yang gurih dalam bentuk lemper. Susu atau keju biasanya menjadi penghias Pisang Bakar modern. Tradisional dan modern bersatu, sulit sekali membayangkan hasilnya.

Kenyataannya, perpaduan aneh ini bisa menghasilkan sebuah rasa yang lumayan enak dan dengan harga yang murah meriah.

Warung Tansuke (Ketan, Susu, Keju)

Warung Tansuke

Nama Tansuke sendiri sebenarnya juga merupakan nama sebuah warung. Lokasinya berada di pinggir Jalan Soleh Iskandar, tepat di bawah jalan layang Lingkar Luar Bogor seberang Pabrik karoseri Delima Jaya.

Warung nomaden, istilah yang saya pakai. Bentuknya bukan gerobak kuliner kaki lima yang banyak ditemukan di Bogor. Warung ini memanfaatkan sebuah mobil pick up dimana bagian belakangnya diubah menjadi sebuah dapur dan meja saji.

Untuk pengunjung disediakan beberapa meja lipat dengan kursi plastik di dekat warung ini. Pesanan akan diantarkan dalam berbagai wadah plastik, seperti mangkuk plastik dan gelas plastik yang mudah untuk dibuang (jangan dibuang di jalan yah, kalau malas tinggalkan saja di meja agar bisa dibereskan oleh pemilik warung yang akan membuangnya ke tempat sampah)

Selain sajian khasnya, yaitu Tansuke, warung ini juga menyediakan beberapa jenis makanan lain. Beberapa diantaranya meniru makanan negeri Sakura, seperti chicken teriyaki. Juga dalam daftar menunya terdapat beberapa jenis minuman seperti kopi dan lemon tea. Satu jenis makanan tradisional Indonesia bisa dipesan disini, yaitu Batagor Gordon (keren namanya, tapi sebenanrya merupakan singkatan dari Gerobak Dorong).

Warung ini hanya buka di malam hari antara pukul 07 sore hingga malam hari (atau sampai habis stok makanannya). Tentu saja tidak muingkin buka di siang hari karena pemilik warung ini masih berstatus karyawan dan harus bekerja di siang hari. Belum lagi jalan Soleh Iskandar adalah sebuah jalan yang sangat sibuk dari pagi hingga sore hari dan tidak memungkinkan untuk dipakai untuk kegiatan lain.

——–

Tansuke BogorBukan sebuah tempat bagi Anda yang mengharapkan kenyamanan ala tempat kuliner modern. Tidak ada AC atau ruang yang lapang. Pengunjung harus rela duduk di pinggir jalan yang penuh dengan lalu lalang kendaraan.

Tetapi, Warung Tansuke akan cocok bagi Anda yang ingin sedikit petualangan dengan menikmati suasana malam di Bogor. Mencicipi secuil kehidupan bukan hanya dalam bentuk kuliner tetapi juga gaya hidup yang ada di sebuah kota yang sedang bertransformasi menuju kota modern. Butuh sedikit jiwa petualang untuk bisa menikmatinya.

Lagi pula, toh makanan yang enak tidak terikat pada tempat dan juga perlengkapan untuk makannya. Enak ya enak meski disajikan secara sederhana. Iya tidak kawan?

Kalaupun tempat menjadi hambatan untuk mencicipi rasa paduan ketan, susu, dan keju, Tansuke bisa dibawa pulang. Kalau tidak mau terlalu lama berada disana, silakan saja pesan melalui HP di nomor 0857-1059-0005 an Rangga.

So, Kawan Pembaca, ingin bertualang sedikit menikmati jajanan kecil (tapi unik) ala Bogor, cobalah si Tansuke ini.

7 COMMENTS

  1. Kayanya Enak banget ya Tansuke…harus nyobain nih

LEAVE A REPLY