Jalan MA Salmun

 

Jalan MA Salmun merupakan nama sebuah jalan yang menghubungkan dua buah jalan paralel di Bogor, yaitu Jalan Sawojajar dan Jalan Merdeka. Panjangnya kurang dari 1 kilometer, seperti juga hampir semua jalan lain di Kota Hujan ini.

Pada masa penjajahan Belanda dulu, namanya dikenal sebagai Gas Fabrieg Weg. Bila nama tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Jalan Pabrik Gas.

Nama tersebut diambil dari sebuah tempat yang berada di ujung Barat Jalan MA Salmun yang bertemu dengan Jalan Merdeka. Di pojok persimpangan ini akan terlihat beberapa buah tabung raksasa, sekarang milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN)..

Meskipun demikian, bangunan-bangunan tersebut bahkan sudah ada sejak lama bahkan sebelum PT PGN berdiri. Lokasi tersebut menurut searah sudah ada sejak abad ke-19.

Awal mulanya adalah ketika Pemerintah Kolonial Belanda membutuhkan persediaan logistik untuk menyuplai Batavia/Jakarta dan Buitenzorg/Bogor, dua kota utama di Hindia Belanda masa itu. Pemerintah Belanda menunjuk L.I. Eindhoven & Co untuk mendirikan depo logistik di Buitenzorg di tahun 1859.

Sejak saat itulah jalan ini dikenal sebagai Gas Fabriek Weg.

Gas Fabriek Weg menjadi Jalan MA Salmun

Meskipun Indonesia kemudian merdeka di tahun 1945 dan mendapatkan Pengakuan Kedaulatan di tahun 1949, jalan ini tetap menyandang nama aslinya. Yang berubah hanyalah ejaan yang menggunakan kata-kata Bahasa Indonesia, yaitu Jalan Pabrik Gas.

Hal tersebut terus berlangsung hingga tahun 1972.

Pada tahun tersebut seorang pujangga istimewa asal Bogor bernama Mas Atje Salmun wafat. Ia merupakan seorang pujangga spesial yang tercatat dalam sejarah.

MA Salmun bisa dikata hampir mendekati kebutaan karena penyakit mata yang dideritanya. Meskipun demikian, hal tersebut tidak menghalanginya menghasilkan ratusan tulisan dan karya sastra seperti Ciung Wanara (1939) dan Mundinglaya (1940). Beliau turut membidani kelahiran majalah berbahasa Sunda Mangle, yang hingga kini masih ada.

Sebagai penghargaan terhadap jasa-jasanya pada negeri ini, jalan Pabrik Gas atau Gas Fabriek Weg dirubah namanya menjadi Jalan MA Salmun.

Sesuatu yang sangat layak untuk dilakukan.

jalan MA Salmun
Ciri khas Jalan MA Salmun

Jalan MA Salmun memiliki beberapa ciri khas yang membuatnya sulit dilupakan. Sayangnya ciri khasnya bukan sesuatu yang “enak” untuk didengar atau dipandang.

1. Penuh dengan pedagang kaki lima

Di ujung Barat, rutin pedagang kaki lima memanfaatkan badan jalan sebagai lahan mereka berdagang. Di ujung lainnya, pertemuannya dengan kawasan Pasar Anyar membuat situasi yang sama bisa ditemukan. Bahkan ada badan jalan yang dipakai sebagai toko semi permanen.

Alhasil arus lalu lintas yang melewati jalan ini akan tersendat. Situasi ditambah dengan jalur kereta yang keluar masuk stasiun sering menambah ruwet situasi di jalan MA Salmun ini.

Jalan MA Salmun bisa dikata merupakan ajang “duel” antara pedagang kaki lima dengan pemerintah kota Bogor. Berulangkali ┬ápetugas Satuan Polisi Pamong Praja Bogor berusaha membersihkan jalan ini , berulangkali pula pedagang kaki lima kembali berdagang di sepanjang badan jalan.

2. Jembatan Merah yang bukan JEMBATAN MERAH

Di tengah jalan MA Salmun terdapat sebuah jembatan yang sering membuat orang salah duga. Jembatan ini berwarna merah sehingga sering dikira sebagai JEMBATAN MERAH Bogor yang terkenal itu. Padahal sama sekali berbeda.

Memang kedua jembatan sama-sama berdiri di atas Sunga Cipakancilan tetapi JEMBATAN MERAH yang sering disebut oleh warga Bogor bukanlah jembatan ini.

jalan MA Salmun

3. Pertokoan Kuno

Di bagian yang berdekatan dengan Jalan Mayor Oking, sebenarnya bisa terlihat beberapa bangunan pertokoan bertipe kuno. Itupun kalau tidak tertutup oleh tenda-tenda pedagang.

Toko-toko tersebut sudah ada sejak lama. Mereka biasanya menjual bahan pangan juga peralatan rumah tangga.

——–

Kalau diperhatikan , Jalan MA Salmun sebenarnya masih menyisakan beberapa bagian dari Bogor masa lalu. Sayangnya semua itu tertutupi oleh bau sampah dan morat maritnya kondisi jalan disebabkan karena ketidakpatuhan para pedagang dan warga Bogor disana.

Mungkin kalau usaha pembersihan dan penataan jalan ini bisa sukses, jalan ini bisa menjadi salah satu bagian yang menarik di kota Bogor. Mungkin ya.. saya tidak begitu yakin hal itu bisa diwujudkan.

LEAVE A REPLY