Energi listrik merupakan kebutuhan primer manusia di muka bumi pada abad ke 20, begitupun di Indonesia. Meningkatnya populasi jumlah penduduk di Indonesia membuat permintaan terhadap kebutuhan listrik juga terus meningkat.

Berdasarkan data BPS (2014), konsumsi listrik selama lima tahun berturut-turut mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Tahun 2012 kebutuhan energi listrik mencapai 672,5 kWH per capita, pada tahun 2013 sebesar 718,0 kWH per capita, pada tahun 2014 sebesar 768,2 kWH per capita, pada tahun 2015 sebesar 822,6 kWH per capita dan pada tahun 2016 sebesar 878,8 kWH per capita.

Peningkatan terhadap kebutuhan listrik dapat memicu terjadinya krisis energi listrik. Pemerintah (PT. PLN) telah mengupayakan berbagai macam cara untuk mencukupi kebutuhan energi listrik penduduk Indonesia. Namun pemerintah (PT. PLN) tidak bisa sendiri untuk mencukupi kebutuhan energi listrik per tahunnya.

Becermin dari kondisi tersebut, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diketuai oleh Dinda Ratnasari (mahasiswa Departemen Ekonomi dan Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen), dengan anggota Eka Listiani (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), Erika Nurdajhmi Laela (Fakultas Ekonomi dan Manajemen), Vara Dita Puri Ningtyas (Fakultas Kehutanan) dan Dwi Wara Widiyaningtyas (Fakultas Ekonomi dan Manajemen) mengusulkan sebuah terobosan baru sebagai upaya penghematan energi listrik.

Terobosan baru ini bernama “Setitik” berupa inovasi pembuatan struk hemat listrik di bawah bimbingan Bapak Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT dan Bapak Prima Gandhi, SP MSi.

Struk listrik ini dibuat berbeda dengan struk listrik yang biasa digunakan oleh pihak PT. PLN.

“Setitik” Struk hemat listrik merupakan struk listrik yang didesain secara khusus dengan mencantumkan tagihan listrik masyarakat yang disertai total pemakaian energi listrik per kWH yang telah terpakai, serta melampirkan total pemakaian atau tagihan warga sekitar dalam satu komplek per satu bulan. Bagian belakang struk, juga dilengkapi dengan tips dan trik bagaimana cara menghemat listrik. Pembuatan struk hemat listrik ini didukung oleh pihak PT. PLN Kabupaten Bogor serta Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM).

Terdapat tiga macam struk listrik yaitu struk berwarna merah, kuning dan hijau yang dapat digunakan sebagai patokan untuk mengindikasikan apakah rumah tangga tersebut hemat listrik atau tidak. Merah untuk pemakaian diatas rata-rata (boros), kuning untuk penggunaan sama dengan rata-rata dan hijau adalah penggunaan dibawah rata-rata (hemat).

“Penggunaan warna yang berbeda dalam struk ini diharapkan mampu merubah perilaku masyarakat yang masih boros dalam penggunaan energi listrik”, tutur Dinda.

Pelaksanaan program “Setitik” diimplementasikan kepada  masyarakat Desa Cihideung Udik, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

Kondisi masyarakat disini masih minim pengetahuan akan pemakaian energi listrik yang efektif dan efisien serta masih memiliki kebiasaan menggunakan listrik secara tidak terkontrol. Hal tersebut mengakibatkan biaya tagihan listrik membengkak, sedangkan disisi lain kondisi perekonomian masyarakat mayoritas menengah kebawah. Sehingga diperlukan edukasi mengenai penggunaan listrik yang efektif supaya masyarakat mampu mengontrol penggunaan listriknya.

Pemberian struk hemat listrik merupakan upaya untuk melakakuan penghematan energi listrik melalui pendekatan economic behavior. Program dilakukan dengan cara memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bagaimana cara menghemat listrik dengan mengetahui barang elektronik apa saja yang berpotensi memakan daya besar.

“Setitik” memberikan tips dan trik dalam menggunakan alat listrik secara efektif dan efisien. “Setitik” bisa menjadi pengontrol dan reminder dalam penggunaan listrik per bulan. “Tim Setitik telah melakukan edukasi kepada kami sejak bulan Maret lalu. Edukasi ini sangat bermanfaat, setelah kami menerapkannya beban tagihan listrik kami dalam satu bulan terakhir menjadi berkurang”, ujar salah satu masyarakat penerima struk Setitik (Bu Tim).

(Catatan : Tulisan ini adalah kiriman dari Dinda Ratnasari, Mahasiswi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor via email)

LEAVE A REPLY