Baso atau bakso, satu jenis makanan yang merupakan favorit berbagai kalangan di berbagai daerah di Indonesia. Entah mengapa banyak sekali orang yang tergila-gila pada makanan yang terbuat dari campuran tepung, daging, dan berbagai bumbu lainnya.

Saking populernya, makanan ini akan sangat mudah ditemukan dimanapun. Banyak sekali penjualnya dan di Bogor, tidak beda dengan angkot. Buanyak.

Sesuatu yang membuat menimbulkan persaingan yang sangat ketat di antara para penjual kuliner ini. Berbagai cara dilakukan, mulai dari membuat baso atau bakso yang unik dan sangat besar hingga merubah kemasannya.

Beberapa orang kreatif menemukan bahwa banyak orang di masa now kerap tidak punya waktu untuk duduk dan menghadapi mangkok berisi baso.bakso dan kuahnya. Mereka melahirkan jenis baru baso/bakso, bukan dalam bentuk atau rasa, tetapi dari cara memakannya.

Memadukan hal ini, maka lahirlah beberapa jenis bakso yang bisa dimakan secara “mobile” alias sambil berjalan. Beberapa unsur yang menghambat agar bisa dimakan sambil berjalan dihilangkan, seperti kuah dan tentunya mangkok. Karena itulah Lovely Bogor menyebutnya bakso non mangkok.

Bakso atau baso non mangkok ini sebenarnya sama saja dengan bakso-baso lainnya. Rasanya tentu saja bervariasi, tergantung resep masing-masing dalam membuat adonannya. Jadi, jangan diharap akan sama antara satu pedagang dengan pedagang lainnya.

Ternyata sudah ada beberapa jenis produk bakso non mangkok yang sudah ada di Bogor. Mereka kerap terlihat tampil secara bersamaan di ajang Car Free Day Bogor, setiap hari Minggu.

Bakso-bakso non mangkok yang tertangkap penampakannya ada di bawah ini, yaitu :

Basreng (Baso Goreng)

baso non mangkok Bogor - Basreng Baso Goreng

Kalau mau tahu rasanya, ya beli saja baso dari pedagang yang lewat. Lalu, goreng sendiri dan kemudian tambahkan saus atau kecap sesuai dengan kehendak hati.

Itulah yang namanya basreng atau baso goreng. Pada dasarnya adalah baso saja yang kemudian dimasukkan dalam minyak mendidih. Setelah dianggap “matang”, maka dimasukkan ke dalam plastik dan diberi saus, kecap, dan sambal. Tentunya tanpa kuah dan juga mangkoknya.

Baslok (Baso colok)

baso non mangkok Bogor - Baslok Baso Colok

Ini benar-benar baso non mangkok sebelum divariasi cara pemasakannya. Pedagangnya tetap membawa panci berisi air/kuah panas supaya bakso-nya tetap hangat.

Ketika ada pembeli, ya ia akan mengambil bakso dan memasukkannya ke dalam wadah, biasanya plastik. Setelah itu ia menambahkan bumbu standar ala bakso, yaitu saus, kecap, dan sambal.

Nah, makannya itu yang di”colok” menggunakan tusuk gigi biasanya. Dari situlah asal nama baslok.

Bakso Bakar

bakso non mangkok Bogor - Bakso Bakar

Tidak benar-benar dibakar. Lebih tepatnya dipanggang seperti sate.

Beberapa bakso atau baso (jadi bingung pakai kata yang mana) ditusuk dan kemudian diletakkan di atas panggangan seperti memanggan sate pada umumnya.

Setelah “matang” (tanda kutip karena baksonya sebenarnya sudah matang) dan kecoklatan, kemudian akan dilimuri lagi-lagi “sahabat” bakso, yaitu saus, kecap, sambal.

Nah, makannya bisa sambil berjalan tanpa harus memegang mangkok.

Bakso Pangang (Panjang dan dipanggang)

bakso non mangkok Bogor - Bakso Pangang Panjang dan dipanggang

Kata yang dipakainya “Pangang” sempat membuat kening berkerut. Prasangka buruk muncul, apa yang berdagang salah eja?

Ternyata, setelah dipikir-pikir lagi dan melihat prosesnya, kata ini sengaja dipasang.

Pangang itu, dugaan saya, adalah Panjang dan Dipanggang.

Hal itu sesuai dengan cara bakso itu dijual. Tusukan yang dipakainya lebih panjang sehingga isinya lebih banyak daripada bakso bakar di atas. Kemudian, dipanggang ala sate. Kombinasi Panjang dan Panggang itulah yang menjadi Pangang.

Jangan tanya soal bumbunya, karena sebenarnya tidak berbeda dengan baso-baso yang lain.

Bassuk (Baso Tusuk)

Tanpa foto dulu ya karena kamera kehabisan baterai saat melewatinya. Nanti kalau saya pergi ke CFD Bogor lagi, fotonya akan diupload.

Prosesnya, ya sama saja dengan proses salah satu bakso non mangkok, yaitu dipanggang. Trio sahabat bakso juga dipergunakan sebagai pelengkap.

Nah, itulah beberapa bakso “portable” (hahaha.. soalnya bisa dimakan sambil berkeliling CFD) atau non mangkok yang tertangkap mata Lovely Bogor.

Persaingan kerap mendorong orang untuk bertindak kreatif untuk membedakan mereka dari para pesaingnya. Itulah yang terlihat dari kehadiran berbagai jenis bakso atau baso non mangkok di Bogor ini.

Mohon maaf juga, penggunaan kata baso atau bakso yang campur aduk. Sulit memakai satu kata saja karena beragamnya ejaan yang dipergunakan para pedagang.

O ya, masih ada lagi Cilok, Cilor, atau Cilung, tetapi karena pada dasarnya bukanlah “baso”, maka akan dibuatkan tulisan terpisah dan tidak digabungkan dalam jenis bakso.

2 COMMENTS

  1. waaah, tiap kali ke bogor kayaknya aku ga ngeh ama penjual2 ini… next kesana mau cari penjual2nya… dibandingin ama cilok, aku lbh suka bakso yang diginiin.. 😀 .. mungkin krn cilok lbh alot, jd enakan makan bakso 😀

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.