Banner molawindo

TEMPE KAMPUNG : Makanan Kampung Yang Tidak (Lagi) Kampungan

TEMPE KAMPUNG - MAKANAN KAMPUNG YANG TIDAK LAGI KAMPUNGAN b

Tempe, kerap kali diasosiasikan dengan kata kampung dan kampungan. Makanan yang tidak akan membuat seseorang terlihat keren dan menaikkan statusnya. Berapapun usaha yang dilakukan pemerintah menjelaskan bahwa makanan tradisional Indonesia ini kaya protein, tetap saja banyak orang berpandangan kalau tempe adalah makanan kampung untuk orang kampungan.

Makan bahan pangan yang satu ini memang dipandang tidak akan menaikkan “status” seseorang karena tidak terlihat keren. Tidak peduli kedelai yang dipergunakannya adalah bahan impor, tempe akan identik dengan kampung.

Bahkan tempe sering dipakai untuk mengolok-olok “orang kecil” karena cap makanan orang kecil memang sudah melekat kepadanya. Cap yang sangat susah dihilangkan.

Salah satu alasannya, mungkin, karena kemasan yang dipakainya memang tidak sesuai selera masyarakat modern. Umumnya dibungkus dengan daun pisang, meski ada variasinya juga dengan memakai daun jati.

Kemasan yang tidak mencerminkan kata modern.

Nah, kata tempe saja sudah dianggap kampung, lalu bagaimana kalau kemudian nama TEMPE KAMPUNG sampai ke telinga. Kepada Anda mungkin langsung membayangkan kesan kampung berkali lipat dari sekedar kata tempe, iya kan?

Kalau itu yang ada di kepala Anda, saya bisa pastikan Anda SALAH! Pakai huruf besar.

“Tempe Kampung” tidak “sekampung” yang dibayangkan. Justru, di dalam nama ini tercermin kecerdikan pengusahanya memilih brand bagi produknya. Tempe kampung jelas sangat modern.

Coba saja lihat foto kemasannya di dalam tulisan ini.

TEMPE KAMPUNG - MAKANAN KAMPUNG YANG TIDAK LAGI KAMPUNGAN a

Kemasannya mirip sekali dengan berbagai produk makanan dalam kemasan modern yang banyak dijual di Indonesia. Tidak terlihat lagi penampilan a la kampung di sana.

Tampilan kekinian sulit dihindarkan kalau melihatnya. Perpaduan warna pada kotak kertas pembungkusnya jelas berbeda jauh dengan daun pisang yang biasa dipakai tempe. Kemudian, bagian dalamnya sendiri masih ditambah satu lapisan plastik pembungkus lagi untuk menjaga kehigienisannya.

Mirip dengan produk pabrikan.

Bisa mengatakan Tempe Kampung itu kampungan? Rasanya sih tidak bisa. Apalagi kalau Anda mengetahui bahwa tempe ini sudah sampai ke lidah lumayan banyak orang di luar negeri. Tempe Kampung ini sudah diekspor ke beberapa negara sejak tahun 2017, begitulah yang tercantum di kemasannya.

Kalau orang luar negeri saja mau mengimpor makanan tradisional kita, lalu kenapa kita harus merasa rendah diri dan merendahkan produk sendiri. Nggak lucu sekali kalau itu terjadi.

Rasa Tempe Kampung, enak. Kebetulan saya adalah penyuka tempe, terutama tempe goreng atau tempe goreng tepung yang digoreng kering. Tempe Kampung termasuk kategori enak.

Harganya murah, hanya Rp. 9000 saja per-kotak.

Murah, enak, berprotein, dan kesannya sudah modern. Tidak kalah dengan berbagai makanan kemasan lainnya.

Nah, untuk Anda yang bermukim di Kota Bogor, silakan hubungi saja nomor telepon yang tertera di salah satu foto. Ada layanan pesan antar yang bisa dimanfaatkan. Kebetulan, CV Djava Sukses Abadi produsennya berlokasi di Bogor. Betul sekali ini adalah salah satu produk Kota Hujan.

Tidak akan kecewa deh. Saya sendiri tidak perlu menelpon karena hampir setiap hari, pengecernya berkeliling di perumahan dimana saya tinggal. Hampir setiap hari pula, Tempe Kampung ini menghiasi meja makan di rumah kami.

Mari Berbagi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.