Kebersihan di Dalam Commuter Line Selalu Terjaga 2

Jangan bayangkan kalau naik Commuter Line, alias kereta komuter Jabodetabek saat ini sama dengan si “KRL” (Kereta Rel Listrik) sekitar 6-7 tahun yang lalu. Berbeda. Jauh sekali bahkan.

Bila di masa lalu naik KRL terasa sekali sangat tidak nyaman karena baik di stasiun maupun di dalam kereta terasa kotor, sekarang tidak lagi begitu. Nyaman dan bersih. Kebersihan dalam Commuter Line selalu terjaga sehingga mirip sekali dengan layanan kereta komuter di beberapa negara maju, seperti di Singapura atau Hongkong (Shanghai juga).

Saya bisa mengatakan demikian karena saya merupakan pelanggan setia moda angkutan massal ini sejak masa masih menggunakan satu jalur hingga saat ini. Kira-kira 28 tahun lamanya. Selain itu, kebetulan sudah berulangkali merasakan jenis angkutan yang sama di kota-kota (negara) yang disebutkan di paragraf atas.

Jadi, setidaknya bisa menceritakan dan membandingkan secara langsung. Dan, memang begitu adanya. Semakin lama semakin mirip.

Commuter Line (CL) itu bersih, KRL itu kotor dan jorok.

Ada beberapa perbedaan antara si CL dan KRL yang membuatnya seperti bumi dan langit dalam hal kebersihannya.

Petugas Kebersihan Commuter Line

Ini salah satu faktor utama yang menyebabkan kebersihan semua rangkaian CL terjaga.

Dulu juga ada, tetapi tidak banyak. Pembersihan kereta hanya dilakukan di stasiun dan dilakukan seadanya. Bahkan terkesan dilakukan secara asal-asalan.

Sekarang di setiap rangkaian CL akan ada beberapa petugas kebersihan di dalamnya. Mereka tetap menjalankan tugasnya menjaga kebersihan bahkan saat kereta berjalan (saat kondisi memungkinkan dan tidak terlalu padat). Berbekal sapu dan serokan sampah, kehadirannya bisa terlihat untuk memunguti sampah yang dibuah penumpang yang kurang beradab.

Bahkan saat kereta hendak memasuki stasiun akhir, mereka sudah bergerak untuk menyapu dan dilanjutkan dengan mengepel saat kereta berhenti.

Tidak Ada Lagi Pedagang

Pernah merasakan terdorong oleh pedagang-pedagang di dalam kereta? Yah, dulu di masa KRL, pedagang bisa dikata penguasa kereta. Mereka tidak peduli kehadirannya sering mengganggu penumpang.

Tetapi, yang paling utama mereka menciptakan “pasar” di dalam KRL. Disana terjadi jual beli, makanan, buah, pakaian, hingga jepit rambut. Dan, seperti biasanya seperti yang banyak dilakukan di pasar, banyak sampah dihasilkan baik oleh si pedagang ataupun yang membeli.

Kalau tidak dibuang lewat jendela, sampah-sampah itu dilemparkan begitu saja ke atas lantai. Hasilnya, jangan heran kalau botol-botol plastik, pembungkus makanan, dan banyak hal lain bertebaran di segala penjuru kereta.

Sejak dikelola oleh PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek), pedagang tidak lagi diperkenankan berdagang di dalam kereta, bahkan tidak diperkenankan berdagang di area stasiun.

Jadi, pasar yang dulu ada sudah tidak ada lagi. Sebagai hasilnya, tidak ada lagi sampah yang diproduksi penumpang saat di dalam kereta.

Kebersihan di Dalam Commuter Line Selalu Terjaga

Kesadaran Penumpang Meningkat

Efek berantai dari hilangnya pasar adalah para penumpang tidak lagi memiliki sesuatu untuk dibuang di dalam kereta.

Ditambah dengan bersihnya fasilitas di semua stasiun yang dikelola PT KCJ rupanya membangkitkan kesadaran dalam diri banyak orang. Terlihat dari semakin penuhnya tempat sampah di staiun.

Hal ini menunjukkan bahwa para penumpang juga mulai terbiasa untuk membuang sampah di tempat seharusnya, di tong sampah yang disediakan di stasiun.

Oleh karena itu tidak jarang di dalam kereta melihat beberapa penumpang memasukkan sampah ke dalam tasnya atau tetap dipegang dan baru dibuang di stasiun. Rupanya, pemberitahuan untuk menjaga kebersihan di dalam kereta yang terus disampaikan oleh announcer selama CL berjalan membawa hasil berupa bangkitnya kesadaran akan kebersihan para pengguna CL.

Mau tidak mau, PT KCJ harus diberikan pujian bukan hanya atas keberhasilan mereka membuat kebersihan dalam Commuter Line tetap terjaga. Juga, untuk membantu menumbuhkan sadar kebersihan dalam diri banyak orang.

Saya hanya bisa mengatakan GOOD JOB! Kondisi yang membuat impian untuk memiliki angkutan massal yang mirip dengan di negara maju maju beberapa langkah.

2 COMMENTS

  1. naik CL sambil makan perment
    bungkusnya jangan buang sembarangan
    ini tangan udah gatal mau koment
    mohon maaf kalau ada kesalahan
    …………………………………………………………….
    Saya salut ada pembenahan dari segi kebersihan seperti itu Pak…karena akan membuat Nyaman para Penumpang.

    Dan lebih salut lagi pengambilan gambar No 3, ( gambar wanita yang sedang membersihkan lantai CL ).
    sudah tentu pengambilannya membutuhkan kesabaran dan ketepatan time-nya sehingga gambar memiliki bingkai yang berupa pintu CL.

    saya jadi membayangkan saat pengambilan gambar no 3,,,kemungkinan Pak Anton dalam posisi siaga IV dengan posisi kamera ON dan mata tetap tidak bergeming melihat pergerakan sang Wanita
    sehingga pas di tengah pintu…..kamera Andalan langsung bereaksi cepat.

    secara umum pengambilan gambar seperti itu sulit, kecuali ada kerja sama dan saya pikir tidak mungkin ada kerja sama dengan sang model CL tsb….jadi saya salutttttt…… 🙂

    • Hahahahahaha…salah satu dasar fotografi adalah sabar kang. Apalagi kalau memilih genre fotografi jalanan, seperti saya. Jadi terkadang harus sabat menunggu.

      Sulitnya ya sabar dan menunggu itu. Kadang berhasil, kadang nggak dapat apa-apa. Kayak mancing.

      Foto no 3, termasuk yg kurang bagus menurut saya, cuma krn tidak ada yg lebih baik lagi ya dipasang.

      Main sini kang, naik Commuter Line

LEAVE A REPLY