Jujur saja, kerak telor adalah makanan yang asing bagi lidah saya. Walaupun saya lahir di Jakarta, tetapi tidak pernah makanan khas Betawi ini mampir ke lidah. Apalagi sejak pindah ke Bogor, tidak terpikir bahwa suatu waktu bisa mencicipi makanan tradisional ini.

Belum pernah sekalipun bertemu sebelum ini dengan pedagang kerak telor di Kota Hujan. Tidak mengherankan karena penganan yang berbahan dasar kerak nasi dan telur ini berasal dari daerah yang budayanya sangat berlainan dengan budaya di tanah Bogor yang didominasi budaya Sunda.

Oleh karena itu, ketika beberapa waktu yang lalu melihat ada penjual kerak telor di sebuah wilayah “Bogor”, keingintahuan mencuat. Seperti apa sih rasanya?

“Wilayah Bogor” yang dimaksud adalah Stadion Pakansari, stadion kebanggaan warga Bogor yang berlokasi di Cibinong, Kabupaten Bogor. Daerah yang bisa dikata merupakan perbatasan antara Kota Hujan dengan ibukota, Jakarta. Jadi, tidak begitu heran juga ada “rembesan” budaya Betawi, dalam bentuk kuliner, yang nyasar ke tanah Sunda.

Terlebih melihat kalau pedagang kerak telor tersebut memasak dengan peralatan tradisional. Ia memasak dengan menggunakan anglo, tungku tanah liat kecil dengan bahan bakar arang. Keingintahuan dan rasa penasaran semakin meninggi.

Ingin tahu seperti apa sih makanan yang kerap disebut ikon penganan dari Jakarta itu.

Ternyata ada dua pilihan yang disediakan, kerak telor berbahan telur ayam dan telur bebek. Beda harganya 5000 rupiah saja, yang telur ayam Rp. 15.000 dan versi telur bebek, 20 ribu rupiah saja.

Tidak mahal lah untuk sebuah makanan tradisional yang sudah jarang dijumpai ini.

telur bebek pedagang kerak telor di stadion pakansari bogor

Menarik.

Cukup menarik melihat bagaimana si “Mamang” meracik adonan kerak telor. Gumpalan nasi-nasi kering (kerak) yang sudah direndam air supaya lunak, dicampurkan dengan telur dan berbagai bumbu lainnya.

Kemudian, melihat bagaimana adonan tersebut di”goreng” di atas anglo dengan hanya bara api sebagai sumber panasnya.

Butuh sekitar 7 menit hingga kerak telor matang. Setelah kerak telor matang dipindahkan ke atas piring styrofoam dan selanjutnya ditaburi semacam bubuk, dugaannya adalah “serundeng” atau gorengan parutan kelapa berbumbu.

Makan Kerak Telor di Stadion Pakansari Bogor

Rasanya? NANO NANO.

Ada renyah yang berasal dari kerak nasi. Ada gurih yang kemungkinan berasal dari telur atau parutan kelapa.

Unik.

Bisa jadi karena ini pertama kalinya saya mencicipi kerak telor, yang ada adalah kesan uniknya yang tertangkap. Maklum sudah terlalu lama berada di tanah Sunda jadi lidah sepertinya merasa cukup asing dengan penganan yang seperti ini.

Lumayan lah. Terutama karena kebetulan belum sarapan. Cuma, kalau disuruh memilih antara Laksa Gang Aut atau kerak telor, terus terang saya akan memilih yang pertama. Tetapi, tidak berarti saya akan menolak kalau ada yang menyuguhi kerak telor lagi.

Tidak akan lah saya menolak.

Jadi, kalau memang ada yang mau mencoba sesuatu yang khas Betawi di Bogor, mungkin menikmati kerak telor di stadion Pakansari bisa jadi pilihan. Walau dengan syarat, harus memiliki mentalitas mau “nongkrong” karena makannya pun di trotoar dekat Pintu Gerbang Utama Stadion Pakansari.

Coba deh. Ada sensasi tersendiri.

2 COMMENTS

  1. …..saya senang makan kerak Pak..tapi kerak nasi, kerak telur belum pernah coba :)…. bisa tolong di kirimi ke Sumatera Pak…. ! 🙂

    • Mahal ongkosnya kang… ogah aahh..:D

LEAVE A REPLY