Prasasti Batutulis
Prasasti Batu Tulis

Prasasti Batu Tulis . Nama tersebut tentu sudah sangat akrab di telinga kita sebagai salah satu bentuk peninggalan dari zaman kebudayaan Hindu masih berjaya di tanah air. Buku-buku pelajaran sejarah mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Lanjutan akan menceritakan tentang peninggalan sejarah ini.

Apalagi, bagi masyarakat Bogor, sebuah kota dimana prasasti tersebut berada dan keterkaitan kota ini dengan Kerajaan Pakuan Pajajaran, bisa dikata warganya sudah pasti pernah mendengar nama Prasasti Batu Tulis atau sering juga ditulis Prasasti Batutulis (.

Hanya, sudahkah Anda pernah melihat wujudnya langsung? Tahukah dimana lokasinya?

Mungkin belum. Kalau melihat daftar tamu yang ada pada Bu Maemunah, penjaga Prasasti Batu Tulis, daftarnya tidak terlalu panjang.

Cukup bisa dimaklumi. hampir sama dengan banyak cagar budaya atau bangunan bersejarah lainnya di Bogor, melihat prasasti dan museum bukanlah sebuah jenis wisata yang menjadi favorit. Tidak terkecuali Prasasti Batu Tulis.

Oleh karena itu, bagi Anda yang belum berkesempatan untuk melihatnya secara langsung, Lovely Bogor akan mencoba membawa sedikit cerita ke hadapan Anda, khalayak setia pembaca.

Mengenal Prasasti Batu Tulis

Seperti apakah Prasasti Batu Tulis tersebut?

Situs Prasasti Batu Tulis di Kota Bogor sendiri berada di sebuah area berukuran sekitar 17 M X 15 M. Di dalamnya terdapat sebuah bangunan berbentuk rumah kecil dimana di dalamnya terdapat beberapa buah batu. Bangunan tersebut berpagar dan berada di sisi kanan Jalan Batu Tulis.

Prasasti BAtu Tulis Bogor
Bangunan Dimana Prasasti Batu Tulis Berada

Di dalam bangunan rumah berpekarangan tersebut terdapat 4 buah batu dalam berbagai ukuran dan bentuk.

Ke-empat buah batu tersebut adalah

Batu Utama

Prasasti Batu Tulis Bogor
Batu Utama di Situs Prasasti Batu Tulis

Istilah batu utama Lovely Bogor berikan hanya untuk mempermudah penjelasan mengenai berbagai batu yang terdapat di situs ini.

Batu utama inilah yang dikenal sebagai Prasasti Batu Tulis.

Sebuah batu Terasit berukuran tinggi 151 Cm dengan lebar 145 Cm. Batu ini cukup tebal dengan ketebalan antara 12-14 cm.

Batu Terasit yang menjadi bahan adalah jenis bebatuan yang banyak terdapat di sungai Cisadane.

Pada bagian yang menghadap pintu masuk terlihat 9 baris tulisan dalam bahasa Sunda Kuno.

Batu Kedua

Prasasti Batu Tulis Bogor
Batu Lingga

Batu berikutnya, disebut sebagai batu kedua karena memang yang paling menonjol setelah Prasasti Batu Tulis-nya.

Bentuknya menjulang ke atas dengan ketinggian setara dengan batu utama.

Batu ini dikenal dalam masyarakat Hindu di masa lalu sebagai batu lingga. Wujudnya adalah simbolisasi kejantanan kaum laki-laki.

Bentuk lingga memang banyak ditemukan pada berbagai peninggalan sejarah dari masa lalu Indonesia.

Meskipun demikian ada interpretasi lain dari posisi Batu Utama dan Batu Lingga yang berdampingan. Batu Lingga diinterpretasikan atau dipercaya juga sebagai tempat dimana bersemayamnya raja terkenal dari kerajaan Pajajaran, yaitu Prabu Siliwangi. Sementara Prasasti Batu Tulisnya sendiri merupakan perwujudan dari Prabu Surawisesa, anak dari Prabu Siliwangi yang bertahta setelahnya.

Batu Ketiga

Prasasti batu Tulis Bogor
Batu Ketiga dengan telapak kaki dan bekas lutut

Batu ketiga di situs Prasasti Batu Tulis berada menempel pada Batu Utama. Bentuknya ceper dan rendah. Batu-batu ini (disebut batu-batu karena bisa dianggap terdiri dari 3 batu yang berbeda) seperti undakan.

Pada batu yang bagian tengah terdapat cetakan telapak kaki. Sementara batu yang di atasnya, yang menempel pada Batu Utama, memiliki ceruk seperti bekas lutut yang menempel.

Kalau dibayangkan posisinya, batu ini seperti menjelaskan bahwa seseorang sedang berlutut atau memberikan salam hormat.

Batu Keempat

Prasasti Batu Tulis
Batu keempat

Batu terakhir yang terdapat dalam cungkup atau rumah berbentuk seperti senderan.

Tidak terdapat tulisan atau apapun ciri khusus pada batu terakhir ini.

Inilah 4 buah batu yang terdapat di lingkungan Prasasti Batu Tulis Bogor.

 

 

 

Menurut keterangan yang terdapat pada selembar kertas berpigura di dalam cungkup, seharusnya terdapat 15 buah batu yang merupakan bagian dari situs.

Enam buah batu berada di dalam cungkup/rumah. Batu ketiga seperti disebutkan di atas memang terdiri dari tiga buah batu. Jadi secara total memang terdapat 6 buah batu di dalam bangunan.

Sisanya, meskipun Lovely Bogor sudah berkeliling tidak menemukan adanya batu-batu lain yang mirip dengan batu-batu dalam cungkup Prasasti Batu Tulis.

Batu GIGILANG

Pada lembar keterangan berpigura, dijelaskan mengenai Batu GIGILANG. Seharusnya batu ini berada di situs Prasasti Batu Tulis ini dan merupakan bagian integral.

Hanya, ketika Perang antara Kesultanan Banten dan Kerajaan Pajajaran meletus, yang berujung pada runtuhnya kerajaan Hindu tersebut, tentara Banten merampas batu ini.

Bagu Gigilang merupakan menurut penjelasan adalah berbentuk singgasana, tempat duduk yang dipergunakan ketika dilakukan penobatan raja baru dalam Kerajaan Pajajaran. Dengan dirampasnya batu ini, tentara Banten berharap tidak ada lagi penobatan raja-raja dalam lingkungan kerajaan Pajajaran.

Batu berbentuk makam

Prasasti Batutulis (6)Di bagian luar, ada sebuah tumpukan batu yang tersusun seperti makam. Ada dua tonggak berdiri menyerupai nisan.

Tumpukan batu ini diyakini sebagai tempat kuda ditambatkan.

—–

Sejarah Prasasti Batu Tulis

Prasasti Batu Tulis BogorPrasasti Batu Tulis seperti sudah disebutkan sebelumnya adalah peninggalan dari Kerajaan Galuh Pakuan atau sering juga disebut dengan Pakuan Pajajaran atau Pajajaran. Sebuah kerajaan Hindu yang sejak abad ke 11 hingga abad ke 16.

Prasasti ini dibangun oleh Prabu Surawisesa yang berkuasa di kerajaan tersebut antara tahun 1521-1536. Pembuatan prasasti ini ditujukan sebagai penghormatan kepada ayahandanya, raja pendahulunya yang sangat terkenal, yaitu Prabu Siliwangi (1482-1521).

Tahun pembuatan yang tertera pada prasasti atau Batu Utama menyebutkan angka 1455. Sistem kalendar yang umum digunakan pada masa tersebut adalah tahun Saka. Tahun ini sama dengan tahun 1533 Masehi.

Versi lain menyebutkan bahwa prasasti dibuat sebagai bentuk penyesalan sang Prabu Surawisesa karena tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran, Pada saat itu pasukannya kalah dalam pertempuran melawan Kesultanan Cirebon yang berujung hilangnya sebagian wilayah.

Menurut penjelasan singkat ibu Maemunah, sang penjaga situs, disebutkan bahwa situs prasasti adalah tempat yang dipakai sebagai podium penobatan raja-raja di Kerajaan Pajajaran.

Versi yang manapun, ada satu hal yang hampir pasti. Prasasti Batu Tulis adalah sebuah situs penting di masa lalu. Disinilah terjadi berbagai aktifitas penting kenegaraan seperti penobatan raja baru.

Prasasti Batu Tulis Bogor
Sembilan Baris Aksara Sunda Kawi pada Prasasti Batu Tulis

Tidaklah mungkin tentara Banten mengambil Batu Gigilang bila batu tersebut tidak dianggap sangat penting bagi kelangsungan kerajaan musuhnya.

Prasasti Batu Tulis pertama kali ditemukan oleh sebuah ekspedisi VOC ((Vereenigde Oost Indische Compagnie)/Persatuan Dagang Hindia Timur) pada tahun 1687. Pemimpinnya adalah Scipio. Berita penemuan Prasasti Batu Tulis pertama kali tercatat dalam laporan ekspedisi Scipio tersebut bertanggal 28 Juli 1687.

Penelitian tentang Prasasti Batu Tulis sudah dilakukan oleh banyak ahli arkeologi dan sejarah sejak masa lampau. Tercatat tahun 1853 Friedrich , seorang ahli Belanda yang juga diduga sebagai penemu patung Lembu Nandi di Kebun Raya Bogor.

Baca juga : Patung Lembu Nandi – (Tidak) Bisa Terbang

Prasasti Batu Tulis Bogor
Terjemahan 9 baris tulisan aksara Sunda Kawi

Hingga peneliti sejarah Bogor, Saleh Danasasmita yang menelitinya antara tahun 1981-1984.

Nama yang terakhir inilah yang kemudian menyusun ulang teks yang tertulis pada Prasasti Batu Tulis. Dari sinilah beberapa kesimpulan penting tentang asal muasal situs ini mulai terkuak.

Beliaulah yang akhirnya mengeluarkan terjemahan resmi dari 9 baris yang tergores pada prasasti.

Terjemahan dari ke 9 baris pada Prasasti Batu Tulis tersebut adalah sebagai berikut

” Oo wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu Diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diya dingaran sri Baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu deWata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dew anis-kala sa(ng) sidamoka di Gunatiga, i(n) cu rah rahyang niskala wastuKa(n) cana sa(ng) sidamokta ka nusa larang, ya siya nu nyiyan sakaka- La gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga Rena mahawijaya, ya siya pun 00 1 saka, panca pandawa (m) ban bumi 00  “

Terjemahan :

”Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi prabu ratu suwargi. Ia dinobatkan Dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar “Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang  Membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang Di Gunutiga, cucu Rahiyang Dewa Niskala Wastu Kencana yang mendiang ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (Dibuat) dalam (tahun) Saka 1455”. 

Dikutip dari situs Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bogor

Cara Menuju Prasasti Batu Tulis

Bagi Anda penggemar kisah sejarah, wisata budaya atau asal usul tentang sebuah kota, Prasasti Batu Tulis bisa menjadi salah satu tujuan Anda ketika berkunjung ke Bogor.

Tidak sulit untuk mencapai situs dimana Prasasti Batu Tulis berada. Letaknya yang di pinggir jalan dan lokasi cagar budaya Bogor lainnya, yaitu Istana Batu Tulis sangatlah mudah dicapai baik dengan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi.

Untuk itu, Lovely Bogor akan coba memberikan panduan sedikit cara menuju Prasasti Batu Tulis sebagai berikut :

Prasasti Batu Tulis Bogor
Bu Maemunah penjaga situs Prasasti Batu Tulis

Dengan angkutan umum/angkot

Dari Stasiun Bogor :

Sekeluarnya dari pintu keluar stasiun, berjalanlah sedikit ke arah Taman Topi yang berada di sebelah stasiun. Ikuti saja trotoar di depan stasiun. Perhatikan! Jangan menyeberang jalan Kapten Muslihat.

Di depan Taman Topi naiklah angkot no 02 Merah tujuan Sukasari.

Angkot ini akan memasuki jalan Lawang Gintung dan kemudian ke Jalan Batu Tulis. Di depan Istana Batu Tulis, berhentilah.

Dimana Anda berhenti akan terlihat papan bertuliskan tentang cagar budaya Batu Tulis. Juga terdapat papan penunjuk ke situs Prasasti Batu Tulis.

Dari Terminal Baranangsiang :

Anda bisa menuju ke arah belakang terminal dimana angkot biasa mangkal. Bisa juga Anda menyeberang Jalan Pajajaran di depan terminal.

Anda harus mencari angkot no 01-A Merah. Angkot ini akan membawa Anda ke arah Tajur/Ciawi.

Tujuan yang harus Anda tempuh adalah ujung Jalan Pajajaran yang mengarah ke Tajur. Tepat di pertigaan lampu merah di dekat Ekalokasari Plaza, berhentilah.

Lalu menyeberanglah ke arah Tan Ek Coan. Disana akan terlihat banyak angkot yang menuju ke arah Lawang Gintung. Bisa juga Anda berjalan sedikit ke mulut Jalan Lawang Gintung untuk menunggu angkot 02 Merah.

Selanjutnya, berhentilah di depan Istana Batu Tulis dan cari papan penunjuk Prasasti Batu Tulis. Sama persis dengan kalau Anda berangkat dari Stasiun Bogor.

Dengan Kendaraan Pribadi :

Bila Anda melalui Jalan Tol Jagorawi, pintu keluar terbaik dengan lokasi Prasasti Batu Tulis adalah Pintu Keluar di Baranangsiang.

Berbeloklah ke arah kiri dan masuki Jalan Pajajaran. Melajulah lurus hingga Anda menemukan pertigaan lampur merah dan Ekalokasari Plaza.

Berbeloklah ke arah Jalan Siliwangi (dan kemudian ikuti arus kendaraan memasuki Lawang Gintung). Setelah itu ikuti saja arus kendaraan dan jangan berbelok.

Tepat di depan Istana Batu Tulis, maka Anda akan melihat papan penunjuk Prasasti Batu Tulis.

Meskipun demikian, bila Anda menggunakan mobil, maka kesulitannya adalah menemukan lahan parkir. Tidak tersedia lahan parkir mobil dan bahkan motor bagi pengunjung situs Prasasti Batu Tulis.

Anda harus menemukan lahan parkir terdekat dan kemudian berjalan kaki ke lokasi. Tidak diperkenankan parkir di sepanjang lokasi karena berseberangan dengan Istana Batu Tulis.

Jam buka :

Situs Prasasti Batu Tulis buka untuk umum mulai pukul 08.00 – 16.00. Penjaga situs, ibu Maemunah yang sudah menjaga lokasi sejak tahun 1992,  tinggal di dekat lokasi. Bila menemukan cungkup masih terkunci, bisa mencoba bertanya kepada orang yang berada di sekitar lokasi letak rumah ibu Maemunah.

——-

Demikianlah kira-kira sedikti gambaran tentang Prasasti Batu Tulis Bogor. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi Anda semua yang berminat dan ingin mengetahui tentang salah satu cagar budaya Kota Bogor ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY