Pusat Penelitian Karet Bogor

Mesin Pengolah Karet Kuno

Kalau Anda pernah berwisata kuliner di bilangan Taman Kencana Bogor, pernahkah Anda melihat foto-foto seperti di atas?

Belum? Atau tidak menyadari?

Mesin-mesin tua di atas, adalah berbagai peralatan yang dipergunakan untuk membuat ban di masa lalu. Benda-benda kuno ini dipajang di halaman bangunan di Jalan Salak no 1.

Jalan ini salah satu jalan dengan pemandangan yang menyejukkan mata di Bogor.

Baca juga7 Jalan Berpemandangan Indah

Mengapa terdapat mesin pengolah karet di halaman gedung itu? Karena bangunan itu adalah Gedung Pusat Penelitian Karet Bogor.

Gedung Pusat Penelitian Karet Bogor

Bangunan ini merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kota Bogor.

Usianya sejak berdiri hingga tulisan ini dibuat sudah tepat 100 tahun alias 1 abad. Sebuah usia yang tentu saja membuatnya layak dijadikan sebuah cagar budaya.

Pusat Penelitian Karet Di Bogor
Gedung Pusat Penelitian Karet Bogor

Begitu pula sejarah yang melekat pada bangunan ini. Sejarah panjang perjalanan industri dan perkembangan karet di Indonesia tidak akan pernah bisa lepas dari Pusat Penelitian Karet ini.

Bangunan yang sekarang menjadi Gedung Pusat Penelitian Karet dibangun tahun 1915. Nama yang diberikan pada waktu itu adalah Proefstation voor Rubber (PVR) atau Balai Penelitian Karet.

Balai Penelitian Karet (BPK) merupakan satu dari trisula balai penelitian yang didirikan oleh Belanda di era tersebut. Selain PVR, saat itu juga dibentuk Algemeen Proefstation voor Thee atau Balai Umum Penelitian Teh tahun 1916 di Bogor juga dan Besoekisch Proefstation atau Stasiun Penelitian Besoekisch di Jember.

Kesemuanya masih berkaitan dengan berbagai penelitian terkait dengan berbagai spesies tanaman di Nusantara yang dilakukan oleh Lands Platentuin atau Kebun Raya Bogor.

Dalam perjalanan 100 tahunnya, bangunan Pusat Penelitian Karet ini menyaksikan perubahan nama berulang kali pada organisasi yang beroperasi di dalamnya.

  • 1933 – Centrale Proefstation Vereniging – CPV (Asosiasi Stasiun Penelitian Pusat) yang membawahi tiga stasiun penelitian saat itu di Jember, Malang dan Bogor
  • 1941 – “”Nederlands Indische Instituut voor Rubber Onderzoek” stichting (Yayasan Institut Penelitian Karet Hindia Belanda)
  • 1948 – Indonesisch Instituut vor Rubbber Onderzoek” stichting (Yayasan Institut Penelitian Karet Indonesia)
  • 1957 – Balai Penyelidikan dan Pemakaian Karet
  • 1968 – Balai Penelitian Perkebunan Bogor
  • 1989 –  Pusat Penelitian Perkebunan Bogor
  • 1992 –  Balai Penelitian Teknologi Karet Bogor.
  • 2011 – Pusat Penelitian Karet

Selama masa tersebut bangunan ini sangat akrab dengan berbagai penelitian yang berkaitan dengan pengembangan perkebunan di Indonesia.

Gaya Bangunan Pusat Penelitian Karet

Tidak perlu waktu lama untuk menemukan corak arsitekturnya sangat mirip dengan berbagai bangunan lain di Kawasan Taman Kencana.

Pusat Penelitian Karet Bogor
Jendela PusatPenelitian Karet Bogor

Atapnya yang memiliki kemiringan kurang lebih 35-45 derajat yang dimaksudkan agar air hujan mudah mengalir ke bawah. Jendela-jendela tinggi berteralis yang ditujukan agar ruangan tidak terlalu panas di musim hujan. Kesemua bercirikan gaya arsitektur Indo-Eropa yang dikembangkan oleh Thomas Karsten, sang perancang pemukiman di Kedoeng Halang (sekarang  kawasan Taman Kencana).

Nuansa kental selera masa kolonial Belanda akan terasa bagi siapapun yang melihatnya. Anda pasti akan segera merasakan kalau sempat memandangnya selama kurang dari 1 menit.

——-

Pusat Penelitian Karet BogorInilah satu lagi bangunan bersejarah di Kota Bogor yang ingin saya perlihatkan kepada Anda.

Tidak mewah tetapi unik dan menyimpan perjalanan sejarah panjang yang berkaitan dengan berkembangnya industri dan perkebunan karet di Indonesia.

Keberadaannya tentu tidak lepas juga dari industri ban pertama yang ada di Indonesia, yaitu PT Good Year Indonesia. Simak tulisan Pabrik Ban Good Year – Bisakah Menjadi Cagar Budaya?

Mudah-mudahan di saat Anda berkunjung ke Kota Bogor, Anda bisa meluangkan waktu sejenak untuk melihat sedikit kilasan sejarah di bangunan tua ini.

Tidak rugi kok. Tidak harus bayar, hanya perlu meluangkan waktu sejenak. Juga tidak perlu berjalan jauh dari tempat wisata kuliner.

Sempatkan ya?

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.